Diposting Selasa, 26 Maret 2013 jam 7:14 pm oleh Gun HS

Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 26 Maret 2013 -


Penelitian dari Zoological Society of London mengungkapkan bahwa Kepulauan Pasifik dulunya merupakan rumah bagi lebih dari 1.000 spesies burung, namun kemudian mengalami kepunahan segera setelah kependudukan pertama manusia di kawasan tersebut.

Studi ini dipublikasikan dalam jurnal Proceedings of the National Academy of Sciences, 25 Maret.

Hampir 4.000 tahun yang lalu, Kepulauan Pasifik tropis merupakan surga alami yang tak terjamah. Namun kehadiran manusia, seperti orang-orang Hawaii dan Fiji, telah membawa kerusakan yang luar biasa di tempat-tempat ini sebagai akibat dari perburuan dan penebangan pohon yang berlebihan. Dampaknya dengan segera menyebabkan kepunahan berbagai spesies burung. Namun upaya untuk memahami tingkat dan besaran kepunahan tersebut selama ini cukup sulit dilakukan akibat dari ketidakpastian dalam catatan fosil.

“Kami mempelajari fosil-fosil dari 41 pulau Pasifik tropis, dan dengan menggunakan teknik baru, kami mampu mengukur seberapa banyak spesies tambahan burung yang menghilang tanpa jejak,” jelas Direktur Institut Zoologi di Zoological Society of London, Profesor Tim Blackburn.

Para peneliti menemukan bahwa 160 spesies burung darat non-passerine (burung tak bertengger, umumnya memiliki kaki yang dirancang untuk fungsi-fungsi tertentu, misalnya kaki berselaput untuk berenang) telah menghilang tanpa jejak, segera setelah manusia pertama tiba di kepulauan tersebut.

Takah adalah unggas besar asal Selandia Baru. Banyak spesies yang mirip jenis ini telah mengalami kepunahan di Pasifik tropis pada masa-masa kependudukan pertama manusia di kawasan tersebut. Takah berhasil bertahan karena Selandia Baru adalah pulau pegunungan yang besar dan basah, dan memiliki lebih banyak tempat bagi burung untuk bersembunyi dari pemburu. Meski demikian, selama 50 tahun, takkah sempat diduga punah hingga akhirnya populasi kecil unggas ini ditemukan pada tahun 1948 di kawasan terpencil Pegunungan Murchison. (Kredit: Zoological Society of London)

Takah adalah unggas besar asal Selandia Baru. Banyak spesies yang mirip jenis ini telah mengalami kepunahan di Pasifik tropis pada masa-masa kependudukan pertama manusia di kawasan tersebut. Takah berhasil bertahan karena Selandia Baru adalah pulau pegunungan yang besar dan basah, dan memiliki lebih banyak tempat bagi burung untuk bersembunyi dari pemburu. Meski demikian, selama 50 tahun, takkah sempat diduga punah hingga akhirnya populasi kecil unggas ini ditemukan pada tahun 1948 di kawasan terpencil Pegunungan Murchison. (Kredit: Zoological Society of London)

“Jika kita memperhitungkan pula keseluruhan pulau-pulau lainnya di Pasifik tropis, termasuk burung laut dan burung penyanyi, maka total korban kepunahan bisa berkisar hingga 1.300 spesies burung,” tambah Profesor Blackburn.

Spesies-spesies yang punah meliputi beberapa spesies moa-nalos, sejenis unggas besar dari Hawaii, serta Sylviornis Kaledonia Baru, unggas besar berbobot sekitar 30kg, tiga kali lipat beratnya dari seekor angsa.

Spesies-spesies burung dan pulau-pulau tertentu sangat rentan terhadap kerusakan habitat dan perburuan. Pulau-pulau yang kecil bahkan lebih banyak kehilangan spesies karena lebih mudah digunduli dan hanya memiliki sedikit tempat bagi burung untuk bisa bersembunyi dari pemburu. Unggas yang tak bisa terbang mengalami kepunahan sebanyak 30 kali lipat dari jenis burung yang bisa terbang.

Kepunahan burung di Pasifik tropis tak berhenti sampai di situ. Empat puluh spesies lagi kemudian turut punah setelah kedatangan bangsa Eropa, dan hingga saat ini, banyak spesies lainnya yang masih terancam punah.

Kredit: Zoological Society of London
Jurnal: Richard P. Duncan, Alison G. Boyer, Tim M. Blackburn. Magnitude and variation of prehistoric bird extinctions in the Pacific. Proceedings of the National Academy of Sciences, March 25, 2013 DOI: 10.1073/pnas.1216511110

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.