Diposting Jumat, 1 Maret 2013 jam 12:45 am oleh Gun HS

Bagaimana Bahasa Manusia Berevolusi dan Dikembangkan dari Nyanyian Burung?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 1 Maret 2013 -


“Suara yang dikeluarkan burung menawarkan beberapa analogi terdekat pada bahasa,” tulis Charles Darwin dalam “The Descent of Man” (1871), selagi ia merenungkan tentang bagaimana manusia belajar berbicara. Darwin berspekulasi, bahasa mungkin memiliki asal-usul dalam nyanyian, yang “mungkin telah memunculkan kata-kata ekspresif berbagai emosi yang kompleks.”

Kini para peneliti dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), bersama seorang sarjana dari Universitas Tokyo, menyimpulkan bahwa Darwin berada di jalur yang benar. Studi mereka menemukan keseimbangan bukti yang menunjukkan, bahasa manusia merupakan pencangkokan dari dua bentuk komunikasi yang ditemukan pada spesies lain dalam kerajaan hewan: pertama adalah nyanyian rumit burung, dan kedua, yang cenderung lebih bermanfaat, adalah jenis ekspresi informatif yang terlihat pada jenis variatif hewan lain.

“Kombinasi adventif inilah yang memicu bahasa manusia,” kata Shigeru Miyagawa, seorang profesor linguistik di Departemen Linguistik dan Filsafat MIT, salah satu rekan penulis dalam studi ini.

Gagasan ini dibangun berdasarkan hasil penelitian yang sebelumnya dikerjakan oleh para ahli bahasa: Noam Chomsky, Kenneth Hale dan Samuel Jay Keyser. Penelitian tersebut menyimpulkan adanya dua “lapisan” dalam semua bahasa manusia: lapisan “ekspresi”, melibatkan organisasi kalimat yang bersifat dapat diubah-ubah, serta lapisan “leksikal” yang berkaitan dengan inti dari isi kalimat.

Dengan didasarkan pada analisis komunikasi hewan, serta memanfaatkan kerangka Miyagawa, ditemukan bahwa kicauan burung menyerupai lapisan ekspresi pada kalimat manusia – sedangkan gerakan komunikatif lebah, atau pesan suara dari primata, lebih menyerupai lapisan leksikal. Pada titik-titik tertentu, antara 50.000 dan 80.000 tahun yang lalu, kemungkinan manusia sudah menggabungkan kedua jenis ekspresi ini ke dalam bentuk bahasa unik yang kompleks.

“Kedua sistem ini sudah ada sebelumnya,” kata Miyagawa, “seperti apel dan jeruk yang baru saja digabung menjadi jadi satu.”

Keberadaan jenis adaptasi struktur ini bersifat umum dalam sejarah alam, tulis Robert Berwick, seorang profesor komputasi linguistik di Laboratorium MIT untuk Sistem Informasi dan Keputusan, Departemen Teknik Elektro dan Ilmu Komputer.

“Di saat berevolusi, sesuatu yang baru seringkali dibangun dari bagian-bagian lama,” jelas Berwick, “Kami melihat hal ini berulang-ulang dalam evolusi. Struktur lama hanya dapat berubah sedikit, dan secara radikal memperoleh fungsi-fungsi yang baru.”

Bab Baru dalam Buku Nyanyian

Makalah baru berjudul “Munculnya Struktur Hirarkis dalam Bahasa Manusia,” yang dipublikasikan dalam Frontiers in Psychology ini, dikerjakan oleh Miyagawa, Berwick dan Kazuo Okanoya, seorang biopsikolog dalam bidang komunikasi hewan di Universitas Tokyo.

Untuk menentukan perbedaan antara lapisan ekspresi dan lapisan leksikal, ambillah contoh kalimat sederhana: “Todd melihat seekor burung kondor.” Kita bisa dengan mudah membuat variasi dari kalimat ini, seperti, “Kapan Todd melihat seekor burung kondor?” Kalimat ini menata ulang elemen-elemen yang terjadi pada lapisan ekspresi, memungkinkan kita menambah kompleksitas dan mengajukan pertanyaan. Namun lapisan leksikalnya tetap sama karena melibatkan unsur-unsur inti yang sama: subjek, “Todd,” kata kerja, “melihat,” dan objek, “burung kondor.”

Kicau burung tidak memiliki struktur leksikal. Sebaliknya, burung mempelajari melodi melalui apa yang disebut Berwick sebagai struktur “holistik”, di mana keseluruhan nyanyian memiliki satu arti, baik tentang kawin, wilayah kekuasaan ataupun hal-hal lainnya. Burung Finch Bengali, seperti yang dicatat para peneliti, bisa memutar kembali ke bagian melodi sebelumnya, memungkinkan hasil variasi yang lebih besar serta mengkomunikasikan hal yang lebih banyak; sedangkan burung bulbul diperkirakan mampu mengalunkan 100 hingga 200 melodi.

Berbeda dengan jenis-jenis hewan lainnya, yang hanya memiliki model ekspresi paling dasar tanpa kapasitas melodi yang sama. Lebah berkomunikasi secara visual, menggunakan gerakan turun-naik untuk menunjukkan sumber makanan pada rekan-rekannya, primata lain bisa mengeluarkan berbagai suara untuk memberi peringatan akan adanya pemangsa atau pesan-pesan lainnya.

Manusia menggabungkan kedua sistem ini untuk menghasilkan manfaat. Kita bisa mengkomunikasikan informasi penting, seperti halnya lebah atau primata – tapi, seperti halnya burung, kita juga memiliki kapasitas melodi dan kemampuan menggabung-ulang bagian-bagian bahasa yang kita ucapkan. Untuk alasan ini, kosakata kita yang terbatas dapat menghasilkan untaian kata-kata yang tampaknya tak terbatas. Para peneliti menunjukkan, awalnya manusia memiliki kemampuan bernyanyi, seperti yang diduga Darwin, kemudian berhasil mengintegrasikan unsur-unsur leksikal tertentu ke dalam nyanyian-nyanyiannya.

“Bukanlah langkah yang sangat panjang untuk mengatakan bahwa apa yang sudah tergabung menjadi satu merupakan kemampuan dalam membangun pola-pola kompleks ini, seperti nyanyian, namun dengan kata-kata,” jelas Berwick.

Seperti yang dicatat dalam studi ini, beberapa “pararel mencolok” antara penguasaan bahasa pada burung dan manusia meliputi fase hidup saat masing-masing melakukan hal yang terbaik dalam memilih bahasa dan bagian otak digunakan untuk bahasa. Kesamaan lain berkaitan dengan hasil observasi dari profesor linguistik Morris Halle, yang menunjukkan bahwa “semua bahasa manusia memiliki jumlah pola tekanan yang terbatas, yaitu sejumlah pola ketukan. Pada burung, juga terdapat jumlah pola ketukan yang terbatas ini.”

Burung dan Lebah

Para peneliti mengakui, diperlukan penelitian-penelitian empiris lebih lanjut terhadap subjek.

“Ini barulah hipotesis,” ujar Berwick, “Namun inilah cara untuk membuat eksplisit pada apa yang diungkapan secara samar-samar oleh Darwin, karena sekarang kita tahu lebih banyak tentang bahasa.”

Miyagawa menegaskan bahwa gagasan ini layak karena bisa menjadi subjek untuk bisa diteliti lagi, sebagaimana pola-pola komunikasi pada spesies lain lebih lanjut diteliti secara rinci. “Jika ini benar, maka bahasa manusia memiliki perintis di alam, dalam evolusi, yang benar-benar bisa kita uji saat ini,” katanya seraya menambahkan bahwa lebah, burung dan primata lainnya bisa menjadi sumber wawasan penelitian lebih lanjut.

Penelitian linguistik berbasis di MIT ini sebagian besar dicirikan dengan penelurusan aspek-aspek universal pada semua bahasa manusia. Miyagawa, Berwick dan Okanoya berharap bisa mendorong peneliti lain untuk memikirkan universalitas bahasa dalam hal evolusi. Ini bukan sekedar konstruksi budaya acak, namun berbasis pada bagian kapasitas manusia dalam hal berbagi dengan spesies lain. Di saat yang sama, bahasa manusia bersifat unik dengan tergabungnya dua sistem independen di alam dalam spesies kita, memungkinkan kita menghasilkan linguistik yang tak terbatas, meski dalam sistem yang terbatas.

“Bahasa manusia tidak sekedar bentuk yang unik, namun juga didasarkan pada aturan,” tegas Miyagawa, “Jika kami benar, bahasa manusia memiliki rintangan yang sangat berat pada apa yang bisa dan tidak bisa dilakukannya, berdasarkan pada pendahulunya di alam.”

Kredit: Massachusetts Institute of Technology
Jurnal: Shigeru Miyagawa, Robert C. Berwick, Kazuo Okanoya. The Emergence of Hierarchical Structure in Human Language. Frontiers in Psychology, 2013; 4 DOI: 10.3389/fpsyg.2013.00071

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.