Diposting Sabtu, 16 Februari 2013 jam 2:56 pm oleh Gun HS

Memprediksi Partisipan Politik: Republik dan Demokrat Mengelola Resiko dalam Otak Secara Berbeda

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 16 Februari 2013 -


Sebuah tim yang terdiri dari para ilmuwan politik dan ahli saraf telah menunjukkan bahwa kaum liberal dan konservatif menggunakan bagian otak yang berbeda satu sama lain saat mereka membuat keputusan yang berisiko. Area-area otak ini kemudian dapat digunakan untuk memprediksi partai politik mana yang lebih disukai seseorang. Studi baru ini menunjukkan bahwa meskipun genetika atau pengaruh orangtua memiliki peranan penting, namun untuk menjadi Republik atau Demokrat dapat mengubah bagaimana bagian-bagian otak tertentu berfungsi.

Dr. Darren Schreiber, seorang peneliti di bidang neuropolitik dari University of Exeter, bekerja sama dengan para kolega dari University of California, San Diego, membangun studi untuk mengeksplorasi perbedaan dalam cara fungsi otak dari kaum liberal dan konservatif di Amerika. Temuan studi ini dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE, 13 Februari.

Dalam percobaan sebelumnya, aktivitas otak para partisipan diukur saat mereka bermain judi yang sederhana. Dr. Schreiber bersama rekan-rekan dari University of California, San Diego, mampu melihat keanggotaan  partai politik para partisipan dalam catatan publik. Dengan menggunakan analisis baru terhadap 82 orang yang melakukan tugas berjudi, para akademisi menunjukkan bahwa pihak Republik dan Demokrat tidak terdapat perbedaan pada resiko yang mereka ambil. Namun, ada perbedaan yang mencolok pada aktivitas otak para partisipan selama tugas pengambilan resiko.

Perbedaan Republik dan Demokrat terdapat pada mekanisme saraf yang teraktivasi saat melakukan tugas pengambilan risiko. Pihak Republik lebih kuat mengaktifkan amigdala sebelah kanan, bagian yang terkait dengan orientasi perhatian pada isyarat eksternal. Demokrat memiliki aktivitas yang lebih tinggi pada insula posterior sebelah kiri, bagian yang terkait dengan persepsi keadaan fisiologis internal. Aktivasi ini juga berbatasan dengan persimpangan temporal-parietal, dan karena itu mungkin mencerminkan perbedaan pada pendorong fisiologis internal serta persepsi keadaan internal dan pendorong yang lain-lainnya. (Kredit: Darren Schreiber, Greg Fonzo, Alan N. Simmons, Christopher T. Dawes, Taru Flagan, James H. Fowler, Martin P. Paulus. Red Brain, Blue Brain: Evaluative Processes Differ in Democrats and Republicans. PLoS ONE, 2013; 8 (2): e52970 DOI: 10.1371/journal.pone.0052970)

Pihak Demokrat menunjukkan aktivitas yang signifikan lebih besar pada insula kiri, area yang berhubungan dengan sosial dan kesadaran diri. Sedangkan pihak Republik menunjukkan aktivitas yang signifikan lebih besar pada amigdala sebelah kanan, area yang terlibat dalam sistem tubuh yang merespon stres. Hasil pengamatan ini menunjukkan bahwa kaum liberal dan konservatif melibatkan proses kognitif yang berbeda satu sama lain saat berpikir tentang resiko.

Bahkan, aktivitas otak pada kedua area itu sendiri dapat digunakan untuk memprediksi apakah seseorang memilih Demokrat atau Republik, dengan tingkat akurasi hingga 82,9%. Sebagai perbandingan, model tradisional yang sudah lama bertahan dalam ilmu politik, yang menggunakan afiliasi partai ibu dan ayah untuk memprediksi afiliasi anak, keakuratannya hanya berkisar 69,5%. Sedangkan model lain yang didasarkan pada perbedaan struktur otak untuk membedakan liberal dan konservatif, keakurasian hanya 71,6%.

Model dalam studi ini juga melebihi model yang didasarkan pada perbedaan dalam gen. “Meskipun genetika telah terbukti berkontribusi terhadap perbedaan ideologi politik dan kekuatan politik partai, porsi variasi dalam afiliasi politik yang dijelaskan oleh aktivitas di amigdala dan insula secara signifikan jauh lebih besar, menunjukkan bahwa afiliasi dengan partai politik dan keterlibatan dalam lingkungan partisan dapat mengubah otak, yang bahkan melampaui pengaruh dari sifat turunan,” jelas Dr. Schreiber.

Hasil studi ini dapat membuka jalan bagi studi berikut yang berfokus pada perilaku pemilih suara, menghasilkan pemahaman yang lebih baik pada perbedaan cara berpikir pihak liberal dan konservatif. “Kemampuan untuk secara akurat memprediksi partai politik hanya dengan menggunakan aktivitas otak selagi berjudi menunjukkan bahwa menyelidiki perbedaan saraf yang mendasar di antara para pemilih dapat memberikan kita wawasan yang lebih kuat dibanding alat tradisional ilmu politik,” tegas Dr. Schreiber.

Kredit: University of Exeter
Jurnal: Darren Schreiber, Greg Fonzo, Alan N. Simmons, Christopher T. Dawes, Taru Flagan, James H. Fowler, Martin P. Paulus. Red Brain, Blue Brain: Evaluative Processes Differ in Democrats and Republicans. PLoS ONE, 2013; 8 (2): e52970 DOI: 10.1371/journal.pone.0052970

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.