Pendidikan Mempengaruhi Keagamaan orang Amerika – Tapi tidak seperti yang Anda pikirkan
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Minggu, 28 Oktober 2012 - Diyakini kalau semakin terpelajar seseorang, semakin mungkin ia mempertanyakan agamanya, berhenti beribadah, dan bahkan meninggalkan agamanya sepenuhnya. Apakah benar demikian?
Sebuah penelitian terbaru dari University of Nebraska-Lincoln menantang pandangan lama dengan temuan yang menunjukkan kalau pendidikan sesungguhnya berdampak positif bagi kebiasaan orang Amerika untuk pergi ke gereja, praktek ibadahnya, penekanannya pada agama dalam aspek kehidupan, dan dukungan mereka pada pemimpin agama dalam isu tertentu.
Penelitian ini, diterbitkan dalam jurnal Review of Religious Research, menganalisis sampel satu Negara dari ribuan responden dalam General Social Survey. Analisis menentukan kalau pendidikan memang, pada kenyataanya, mempengaruhi keyakinan dan aktivitas keagamaan orang Amerika – namun dampaknya lebih rumit dari yang diduga sebelumnya.
“Pendidikan mempengaruhi strategi bertindak, dan strategi-strategi bertindak ini relevan bagi beberapa keyakinan dan aktivitas agama, tapi tidak dengan yang lain,” kata Philip Schwadel, asisten professor sosiologi di UNL dan pengarang studi ini. “Pengaruh pendidikan pada agama tidak sesederhana meningkatkan atau menurunkan. Dalam banyak cara, pengaruhnya beragam, tergantung pada bagaimana anda mendefinisikan agama.”
Sebagai contoh, studi ini menemukan tingkat pendidikan yang tinggi mengikis pandangan orang Amerika kalau agama mereka adalah “satu-satunya agama yang benar” dan kalau Injil adalah firman Tuhan yang literal. Di saat yang sama, pendidikan mempengaruhi secara positif keyakinan mengenai hari akhir. Dan sementara semakin terdidik orang Amerika mereka kadang mereka kurang yakin adanya Tuhan, tapi ini karena sebagian mereka percaya adanya kekuatan yang Mahatinggi, bukan karena mereka sepenuhnya tidak percaya.
Penelitian ini juga menemukan kalau keluar dari lembaga atau agama sepenuhnya, bukanlah pilihan popular untuk orang Amerika yang sangat terdidik - faktanya, berpendidikan tinggi berasosiasi paling sering dengan kembali menjadi orang Protestan non evangelis yang umum.
Studi ini tergolong unik, kata Schwadel, karena ia memeriksa dampak pendidikan pada agama dalam berbagai cara orang Amerika beragama – dari keyakinan mereka, dari cara ikut serta, dan sifat hubungan mereka dengan agama tertentu.
Selain itu, temuan studi ini yang lain antara lain:
- Pendidikan berpengaruh positif dan kuat pada partisipasi agama. Dengan tiap tambahan tahun pendidikan, kemungkinan ikut dalam ibadah agama meningkat 15 persen.
- Peningkatan pendidikan berasosiasi dengan membaca Injil. Dengan tiap tambahan tahun pendidikan, kemungkinan membaca injil meningkat 9 persen.
- Pendidikan berkaitan dengan perubahan agama responden. Kemungkinan berubah menjadi Protestan meningkat 13 persen tiap tahun pendidikan.
- Semakin responden terpelajar, semakin mereka mempertanyakan peran agama dalam masyarakat sekuler. Namun, mereka menentang pelarangan khutbah para pemimpin agama mengenai isu sosial dan mendukung hak pemimpin agama mereka untuk mempengaruhi pilihan orang.
“Hasilnya menunjukkan kalau orang Amerika yang sangat terpelajar tidak menentang agama – bahkan pemimpin agama yang menyatakan pendapat politiknya,” kata Schwadel. “Namun mereka menentang apa yang dipandang sebagai agama yang dipaksakan dalam masyarakat sekuler.”
Penelitian ini menggambarkan merek keagamaan Amerika yang unik dan sukarela, katanya, dan harusnya membuka diskusi mengenai interaksi antara pendidikan dan agama di kehidupan Amerika modern.
“Jelas kalau lewat pandangan dunia agama dari orang sangat terdidik berbeda dari pandangan dunia agama mereka yang berpendidikan rendah, agama berperan penting dalam kehidupan orang Amerika yang sangat terpelajar,” kata Schwadel. “Dan agama tetap relevan bagi orang Amerika dari semua tingkat pendidikan.”
Sumber berita:
University of Nebraska-Lincoln.
Referensi jurnal:
Philip Schwadel. The Effects of Education on Americans’ Religious Practices, Beliefs, and Affiliations. Review of Religious Research, 2011; DOI: 10.1007/s13644-011-0007-4
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
