Diposting Jumat, 5 Oktober 2012 jam 12:33 pm oleh Evy Siscawati

Bagaimana Burung Menguasai Lagu Kawin: Finch Zebra Memberi Petunjuk Rangkaian Otak dan Belajar

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 5 Oktober 2012 -


 Dalam sebuah makalah yang muncul bulan September 2012 dalam jurnal  Nature Neuroscience, para peneliti universitas Duke dan Harvard mengamati kebiasaan belajar bersuara dengan peniruan pada burung finch zebra jantan untuk menunjukkan rangkaian mana dalam otak burung yang dibutuhkan untuk mempelajari lagu mereka.

 Mengetahui rangkaian otak mana yang terlibat dalam belajar lewat peniruan dapat berimplikasi luas untuk mendiagnosis dan merawat gangguan perkembangan manusia, kata para peneliti. Temuan ini menunjukkan kalau rangkaian yang sama digunakan untuk pengendalian suara juga berpartisipasi dalam belajar dengan mendengar, menaikkan kemungkinan kalau rangkaian suara di otak kita sendiri juga membantu menyandi pengalaman pendengaran yang penting untuk belajar berbicara dan berbahasa.

 “Burung mempelajari lagu mereka di awal hidup mereka dengan mendengar dan mengingat lagu orang tua mereka dan guru burung dewasa lainnya, dalam proses sama dengan bagaimana manusia belajar berbicara,” kata   Todd Roberts, Ph.D., pengarang perdana studi ini dan mahasiswa pasca doktoral neurobiologi di Universitas Duke. “Mereka membentuk vokalisasi mereka agar sesuai atau sama dengan lagu guru mereka.”

 Seekor finch zebra muda, kata Roberts, belajar lagunya dalam dua fase – mengingat dan praktek. Ia mengatakan kalau siswa dapat mengingat lagu dengan cepat dari seorang guru dewasa, namun harus berlatih menyanyi sebanyak 100 ribu kali dalam periode 45 hari untuk meniru sepenuhnya lagu sang guru.

 Dalam studi ini, software pengenal suara dipasangkan dengan optogenetika, sebuah teknologi yang mengkombinasikan genetika dan optika untuk mengendalikan aktivitas listrik di sel syaraf atau neuron. Menggunakan alat ini, para peneliti mampu mengacau sinyal otak yang mengkoordinasikan sejumlah kecil neuron dalam otak burung muda selama beberapa ratus milidetik ketika ia mendengarkan suara gurunya, membuat mereka dapat menguji daerah otak mana yang penting dalam proses belajar ini.

Hasil penelitian ini menunjukkan kalau sebuah daerah pra-motorik lagu di otak pelajar berperan ganda. Bukan hanya ia mengendalikan pelaksanaan urutan suara yang dipelajari, ia juga membantu menyandikan informasi ketika pelajar tersebut mendengarkan gurunya, kata Roberts.

 “Kita belajar beberapa perilaku yang paling menarik, termasuk bahasa, tuturan, dan musik, dengan mendengarkan sebuah model yang pantas dan mengemulasi model ini lewat latihan intensif,” kata pengarang senior  Richard Mooney, Ph.D., professor neurobiologi dan anggota Lembaga Ilmu Otak Duke. “Pandangan tradisional mengatakan kalau ini barisan dua langkah – mendengar lalu menggunakan motorik – pertama melibatkan aktivasi dengan model daerah otak penting untuk pengolahan pendengaran. Hal ini diikuti beberapa hari, minggu, atau bahkan bulan kemudian dengan aktivasi daerah otak yang penting untuk pengendalian motorik.”

 “Disini kami menemukan kalau sebuah daerah otak yang penting bagi pengendalian motorik lagu juga memiliki peran penting dalam membantu belajar mendengar lagu guru,” kata Mooney. “Temuan ini mendorong kemungkinan kalau rangkaian pramotorik penting bagi perencanaan dan pengendalian suara di otak kita sendiri juga berperan penting dalam belajar pendengaran suara ucapan saat bayi.” Daerah otak ini, dikenal sebagai daerah Broca, berada di lobus frontalis di belahan otak kiri.

 Penelitian ini berimplikasi penting untuk peran rangkaian pramotor di otak dan menunjukkan kalau daerah ini merupakan target penting untuk dipertimbangkan ketika menilai gangguan perkembangan yang mempengaruhi bahasa, ucapan, dan perilaku meniru lainnya pada manusia, kata Roberts.

 Selain Roberts dan Mooney, pengarang studi lainnya mencakup  Sharon M. H. Gobes dari Harvard University dan Wellesley College; Malavika Murugan dari Duke; dan Bence P. Ölveczky dari Harvard.

Penelitian ini didukung oleh dana dari   National Science Foundation dan National Institutes of Health (R01 DC02524) untuk Richard Mooney; dan dana dari NIH (R01 NS066408) dan Klingenstein, Sloan and McKnight Foundations untuk Bence P. Ölveczky; dan Rubicon fellowship dari Netherlands Organization for Scientific Research untuk Sharon M.H. Gobes.

Sumber berita

 Duke University Medical Center

Referensi jurnal:

Todd F Roberts, Sharon M H Gobes, Malavika Murugan, Bence P Ölveczky, Richard Mooney. Motor circuits are required to encode a sensory model for imitative learning. Nature Neuroscience, 2012; DOI: 10.1038/nn.3206

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.