Diposting Selasa, 18 September 2012 jam 5:05 pm oleh Gun HS

Melacak Penyebaran Manusia Modern dari Afrika dengan Genetika dan Rekonstruksi Iklim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 18 September 2012 -


Para peneliti menunjukkan bahwa penyebaran manusia dari Afrika diarahkan oleh iklim yang menguntungkan.

Dengan mengintegrasikan genetika dengan rekonstruksi sejarah iklim beresolusi tinggi, para ilmuwan mampu memprediksi waktu dan rute yang diambil manusia modern selama ekspansi keluar dari Afrika. Penelitian mereka mengungkapkan bahwa penyebaran manusia dari Afrika diarahkan oleh iklim, dengan tertundanya mereka masuk ke Eropa akibat persaingan dengan Neanderthal. Penelitian ini dipublikasikan di jurnal PNAS, 17 September.

Dr. Anders Eriksson, penulis utama makalah dari Universitas Cambridge, mengatakan: “Dengan menggabungkan informasi genetik dengan model iklim dan vegetasi, kami mampu membangun rekonstruksi sejarah manusia yang paling rinci sejauh ini.”

Peran perubahan iklim dalam menentukan waktu penyebaran populasi manusia telah lama diperdebatkan. Fosil tertua yang secara anatomis merupakan manusia modern ditemukan di Afrika dan diperkirakan hidup sekitar 200 ribu tahun yang lalu, namun terdapat jejak di luar Afrika hingga 100 ribu tahun kemudian.

Model yang baru dipublikasikan ini menunjukkan hubungan langsung antara perubahan iklim dan waktu ekspansi manusia dari Afrika, beserta rute-rute yang mereka ambil.

Diagram yang menunjukkan penyebaran manusia dari Afrika. (Kredit: Andrea Manica)

Untuk menyelidiki peran iklim tersebut, para ilmuwan di Cambridge membangun sebuah model yang sangat rinci dalam melacak semua individu di planet ini. Proyek ini melibatkan para ahli dari berbagai bidang. Bekerjasama dengan para klimatologis dan pemodel vegetasi, mereka merekonstruksi perubahan iklim dan permukaan laut serta efeknya pada ketersediaan pangan. Setelah menelusuri jutaan skenario demografi (misalnya angka kelahiran, tingkat perpindahan lokal, hubungan antara ketersediaan pangan dan ukuran populasi), mereka mampu mengidentifikasi skenario yang paling kompatibel dengan pola geografis keanekaragaman genetik pada manusia modern. Bekerjasama dengan para antropolog dan arkeolog, mereka kemudian mampu membandingkan skenario-skenario ini terhadap penanggalan serta lokasi-lokasi temuan arkeologis dan fosil yang diketahui.

Skenario demografis yang dipilih oleh model ini, yang menunjukkan hubungan antara ketersediaan pangan dan kepadatan populasi di masa lalu, sangat mirip dengan hubungan yang ditemukan pemburu-pengumpul di masa kini. Berdasarkan pada hubungan ini, model menemukan bahwa iklim telah menahan manusia keluar dari Afrika hingga akhirnya iklim yang menguntungkan muncul di Afrika Timur Laut sekitar 70-55 ribu tahun yang lalu. Perpindahan manusia sebagian besar terjadi melalui jalur yang disebut Rute Sothern, keluar dari Afrika melewati selat Bab-el-Mandeb menuju Semenanjung Arab.

Penanggalan pada perpindahan out-of-Africa serta masa-masa kedatangan di benua-benua lain yang teridentifikasi dalam model ini sebagian besar sesuai dengan bukti-bukti arkeologis dan fosil, kecuali pada kedatangan di Eropa. Untuk Eropa, model yang didasarkan pada iklim ini memprediksi waktu kedatangan sekitar 10 ribu tahun lebih awal dari bukti arkeologi yang ada. Perbedaan ini dapat dijelaskan dengan adanya persaingan dengan Neanderthal, yang tidak diperhitungkan dalam model lain, dan hal ini kemungkinan memperlambat kolonisasi manusia modern di Eropa.

Dr. Manica, yang ikut memimpin penelitian ini, mengatakan, “Gagasan bahwa kami bisa merekonstruksi iklim, serta perkiraan ketersediaan pangan dan akhirnya mengetahui perubahan demografi dan perpindahan nenek moyang kita di seluruh dunia sangat menakjubkan. Kenyataan di mana sebagian besar hasil penelitian kami ini sesuai dengan bukti-bukti arkeologi dan antropologi – yang tidak digunakan untuk menghasilkan model kami – menunjukkan fakta bahwa rekonstruksi kami yang berdasarkan genetika ini cukup realistis.”

Kredit: Universitas Cambridge
Jurnal: Anders Erikssona, Lia Betti, Andrew D. Friend, Stephen J. Lycett, Joy S. Singarayer, Noreen von Cramon-Taubadel, Paul J. Valdes, Francois Balloux, Andrea Manica. Late Pleistocene climate change and the global expansion of anatomically modern humans. PNAS, 17 September 2012; DOI: 10.1073/pnas.1209494109

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.