Bahan Zaman Antariksa Baru untuk Barang Rumah Tangga, Pakaian, dan Kebutuhan Sehari-hari Lainnya
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Selasa, 11 September 2012 - Sebuah perkembangan besar dalam dunia bahan padat teringan dan bahan isolasi padat terbaik, dijelaskan tanggal 19 Agustus 2012 di Philadelphia, dapat menjadikan temuan zaman antariksa ini menjadi kecanggihan dunia pakaian, pendingin dengan dinding tipis yang menyimpan makanan lebih banyak, bangunan, dan produk lainnya.
Laporan ini, mengenai pengembangan “aerogel” fleksibel baru – bahan yang begitu ringan sehingga disebut juga “asap padat’ – adalah bagian dari Rapat dan Eksposisi Nasional ke-244 Masyarakat Kimia Amerika.
Mary Ann B. Meador, Ph.D., menjelaskan aerogel tradisional, yang dikembangkan satu dekade lalu dan dibuat dari silika, ditemukan dalam pasir pantai, bersifat rapuh dan mudah patah atau hancur. Para ilmuan telah meningkatkan kekuatan aerogel sepanjang berjalannya waktu, dan Meador menjelaskan salah satu bahan diperkuat ini yang dikembangkan dengan rekan-rekannya dari Pusat Penelitian Glenn NASA di Cleveland, Ohio.
“Aerogel jenis baru ini 500 kali lebih kuat dari sebelumnya,” kata Meador. “Sebuah lembaran tebal mampu menopang berat sebuah mobil. Dan mereka dapat dibuat dalam bentuk tipis dalam bentuk film yang begitu fleksibel sehingga berbagai penggunaan komersial dan industrial mungkin dilakukan.”
Aerogel fleksibel, misalnya, dapat digunakan dalam genre baru pakaian super isolasi yang menjaga orang tetap hangat dalam cuaca dingin dengan ukuran lebih tipis daripada garmen termal tradisional. Tenda dan kantung tidur juga dapat diperingan. Pendingin dan lemari es dapat diisolasi dengan bahan ini sehingga akan memperkecil ketebalan dinding dan memperbesar kapasitas penyimpanan. Meador mengatakan kalau aerogel 5-10 kali lebih efisien daripada isolasi modern, dengan lembar setebal 6 mm, ia mampu memberikan isolasi setara 7,5 cm fiberglass. Dan dapat digunakan dalam banyak aplikasi dalam isolasi efisiensi tinggi dan tipis seperti bangunan, kaca, pipa, pemanas air, dan alat lainnya.
NASA membayangkan menggunakannya dalam pesawat antariksa sistem re-entri yang kembali ke Bumi dari Stasiun Antariksa Internasional dan mungkin misi lainnya pula. Kendaraan re-entri membutuhkan pelindung panas yang menjaga mereka agar tidak terbakar saat dipanaskan oleh gesekan dengan atmosfer Bumi. Pelindung tersebut besar dan berat. Jadi NASA mencari cara memakai pelindung panas dari aerogel fleksibel yang mengembang seperti balon ketika pesawat memasuki atmosfer.
Meador mengatakan bahan ini juga dapat dipakai untuk mengisolasi pakaian antariksa. Walau begitu, ia mungkin tidak bagus untuk produk pakaian pemadam kebakaran, yang membutuhkan perlindungan melebihi batas 300 derajat Celsius yang dimiliki aerogel ini.
Para ilmuan memproduksi aerogel baru yang lebih kuat ini dengan dua cara. Pertama melibatkan pengubahan dalam arsitektur terdalam aerogel silika tradisional. Mereka memakai sebuah bahan polimer mirip plastik untuk memperkuat jaringan silika yang merentang dalam struktur aerogel. Cara lain menggunakan pembuatan aerogel dari polyimida, sebuah polimer yang sangat kuat dan tahan panas, atau bahan mirip plastik, dan kemudian memasukkan hubungan melintang mirip kalung untuk menambah kekuatan pada strukturnya.
Sumber berita:
American Chemical Society (ACS)
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
