Diposting Selasa, 31 Juli 2012 jam 11:59 pm oleh Albert Liang

CPR: Lebih Cepat Tidak Selalu Lebih Baik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Selasa, 31 Juli 2012 -


Melakukan CPR terlalu cepat dapat berarti kompresi dada tidak cukup dalam untuk memfasilitasi aliran darah ke jantung dan otak, menurut sebuah penelitian baru yang dilakukan di Belgia.

Para peneliti menemukan bahwa saat penyelamat menekan dada dengan frekuensi di atas 145 kompresi per menit, kedalaman kompresi dada menurun menjadi kurang dari empat sentimeter.

Rekomendasi dari Eropa dan Amerika Serikat saat ini menyatakan bahwa kompresi sekurang-kurangnya sedalam lima sentimeter, dengan kecepatan sebesar 100 kali per menit atau lebih cepat.

“Intinya adalah, dengan tiap kompresi pada dada, anda mengalirkan sedikit darah ke tubuh dan apabila anda menekan lebih cepat dan lebih dalam anda akan mengalirkan lebih banyak darah”, kata Dr Benjamin Abella, seorang dokter UGD di Rumah sakit Universitas Pennsylvania di Philadelphia, yang tidak terlibat dalam penelitian baru yang disebutkan di atas.

Namun, “apabila anda menekan lebih cepat, cukup logis apabila pada akhirnya

anda akan menekan lebih dangkal”, katanya.
Untuk penolong yang bukan profesional yang terlatih dalam CPR, yang merupakan kependekan dari cardiopulmonary resuscitation (resusitasi jantung-paru), hal yang paling penting hanyalah menekan “dalam dan cepat” – namun tidak terlalu cepat sehingga anda kelelahan dalam beberapa menit, seperti yang disepakati oleh para peneliti. Kemudian layanan gawatdarurat medis dapat memberikan perawatan lebih lanjut saat mereka datang.

Untuk penelitian baru ini, Dr. Koenraad Monsieurs dan rekan dari Rumah Sakit Universitas Antwerp di Belgia mempergunakan accelerometer untuk mengukur frekuensi dan kedalaman kompresi dada saat CPR dilakukan oleh tenaga kesehatan profesional pada 133 pasien.

Mereka menemukan bahwa kompresi yang sangat cepat seringkali lebih dangkal dengan kompresi yang frekuensinya mendekati 100 kali per menit. Dan pada kurang lebih 145 kompresi per menit, kedalaman kompresinya menjadi “terlalu rendah untuk dapat diterima”, seperti yang dilaporkan oleh para peneliti di jurnal Resuscitation.

Standar kedalaman kompresi didasarkan pada Pedoman Penatalaksanaan Eropa 2005 yang mengatakan bahwa kompresi sedalam empat sentimeter atau lebih, cukup dalam. Semenjak saat itu standar tersebut telah dinaikkan.

“Dari Pengalaman saya melakukan CPR… saya memiliki kesan bahwa sebagian penolong berpendapat bahwa, semakin cepat semakin baik”, kaa Monsieurs. “nampaknya bagi sebagian besar penolong, saat mereka melakukannya terlalu cepat, kedalaman kompresi menjadi tidak cukup.”

Hal tersebut penting, karena kompresi yang lebih dalam akan meningkatkan kemungkinan keberhasilan jantung berdetak kembali jika mempergunakan defibrillator dan pasien akan datang ke rumah sakit dalam keadaaan hidup, kata para peneliti. Kompresi yang lebih dalam akan mengalirkan lebih banyak drah pada jantung dan otak – organ yang paling penting untuk dijaga tetap hidup, menurut Monsieurs.

CPR pada umumnya dilakukan setelah serangan jantung atau keadaan tenggelam, saat seseorang tidak memiliki denyut jantung atau tidak bernafas.
Pada tahun 2010, pedoman Asosiasi Jantung Amerika mengatakan bahwa, penolong awam yang melakukan CPR boleh tidak melakukan pernafasan bantuan yang merupakan bagian dari protokol awal dan langsung melakukan kompresi dada hingga staff emergency datang.

Tenaga kesehatan dapat memperoleh umpan balik mengenai kecepatan dan kedalaman kompresmi dari alat pengukur kompresi seperti accelerometer – namun bagi penolong awam, hal yang paling penting dilakukan hanyalah melakukan CPR, kata Abella.

Ia mengatakan semua orang sebaiknya belajar melakukan CPR apabila mereka mampu – baik mendapatkan sertifikat resmi maupun tidak – dan jangan takut untuk maju dan mulai melakukan kompresi pada keadaan darurat.

“Apabila seseorang mengalami henti jantung, anda tidak akan menyakiti orang tersebut (dengan melakukan CPR) , yang anda lakukan hanya membantu orang tersebut”, katanya.

Salah satu pilihan adalah dengan melakukan kompresi seiring dengan lagu Bee Gees tahun 1977 “Stayin’ Alive”, yang kebetulan memiliki irama 100 ketukan per menit. Tentu saja, ketukan tersebut mungkin bukan merupakan hal termudah untuk diingat pada keadaan darurat, kata Abella.

“selama anda menaruh tangan anda pada dada dan menekan keras dan menekan cepat, anda melakukan sesuatu yang sangat penting,” tuturnya.

sumber berita: Reuters

Sumber jurnal: K.G. Monsieurs, M. De Regge, K Vansteelandt, J. De Smet, E. Annaert, S. Lemoyne, A Kalmar, P.A. Calle. Excessive chest compression rate is associated with insufficient compression depth in prehospital cardiac arrest. j.resuscitation.2012.07.015

Albert Liang
praktisi kesehatan di Bandung.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.