Diposting Minggu, 29 Juli 2012 jam 12:04 am oleh Albert Liang

Serangan Jantung dan Stroke Lebih Sering Terjadi Pada Pekerja Shift

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 29 Juli 2012 -


Suatu Penelitian menunjukkan bahwa bekerja pada shift malam atau jadwal non-tradisional lainnya dapat meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke.

Penelitian sebelumnya telah menghubungkan antara shift malam dengan faktor resiko penyakit jantung dan stroke termasuk tekanan darah tinggi, kadar kolesterol tinggi, dan diabetes. Saat ini, peneliti yang mengumpulkan 34 penelitian yang melibatkan lebih dari 2 juta orang menemukan bahwa pekerja shift juga lebih mungkin untuk mengalami serangan jantung atau stroke.

Penelitian baru ini “memberikan pijakan yang kuat untuk menyatakan bahwa pekerjaan dengan shift berhubungan dengan peningkatan resiko serangan jantung dan stroke. Hubungan tersebut mungkin bersifat kausal, namun hal tersebut sulit diutarakan apabila hanya didasarkan pada penelitian observasional”, kata peneliti penelitian ini, Daniel G. Hackam, MD, PhD. Beliau merupakan asisten profesor University of Western Ontario, Canada.

Penelitian ini dipublikasikan secara online pada jurnal BMJ.

Mekanisme mengenai bagaimana kerja shift meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke belum dimengerti seluruhnya. Kerja shift dapat mengganggu siklus tidur-bangun alamiah tubuh. Pekerja shift juga lebih mungkin merokok dan memiliki pola makan yang tidak sehat. Dan mereka lebih jarang memiliki aktifitas fisik yang teratur.

Pada penelitian ini, kerja shift didefinisikan sebagai:
• Shift malam
• Shift rotasi
• Shift terbagi (misal: setengah shift di pagi hari dan setengah di sore hari)
• Jadwal non-siang hari lainnya

Pekerja shift malam dalam penelitian ini memiliki resiko serangan jantung dan stroke tertinggi, terutama dalam 10-15 tahun pertama pekerjaan.

Dibandingkan dengan orang yang bekerja pada siang hari, pekerja shift mengalami hal sebagai berikut:
• 23% lebih mungkin mengalami serangan jantung
• 5% lebih mungkin mengalami stroke

Namun penelitian ini juga menunjukkan bahwa tidak lebih mungkin mengalami kematian dibandingkan dengan pekerja siang hari.

Temuan tersebut tetap bertahan walaupun para peneliti memperhitungkan perilaku tidak sehat dan faktor-faktor lain yang meningkatkan resiko serangan jantung dan stroke.

Pencegahan adalah kuncinya, kata Hackam. “Apabila anda merupakan pekerja shift, kenali faktor resiko anda dengan baik. Kunjungi dokter keluarga anda dan lakukan pemeriksaan fisik berkala. Dan mintalah pengukuran tekanan darah, lingkar pinggang, kolesterol, trigliserida, dan gula darah puasa.”

Hackam juga merekomendasikan tips-tips kesehatan berikut ini:
• Mengadopsi gaya hidup lebih sehat, termasuk membawa makanan sehat ke pekerjaan.
• Mengambil rehat “relaksasi” berkala
• Berhenti merokok
• Berolahraga.

Glenn Jacobowitz, MD, setuju bahwa pekerja shift merupakan kelompok resiko tinggi, beliau merupakan assosiate professor bedah dan wakil kepala bedah vaskuler di New York University Langone Medical Center di New York City.

“semua orang yang merupakan pekerja shift mungkin layak mendapatkan pemantauan medis setian enam sampai 12 bulan,” katanya. Kunjungan dokter tersebut sebaiknya mencakup pemeriksaan kolesterol, tekanan darah, dan resiko diabetes.

Pekerja Shift Dapat Menipu Otaknya Sendiri

“Temuan-temuan yang ada semakin bertambah mengatakan bahwa tidur yang buruk, buruk bagi kesehatan anda. Dan salah satu bentuk tidur yang buruk adalah [yang berhubungan dengan] kerja shift.” Kata Steven H. Feinsilver, MD. Ia adalah direktur dariCenter for Sleep Medicine di Mount Sinai Medical Center di kota New York.

Pekerja shift memiliki lebih sedikit tidur dibandingkan dengan orang yang bekerja dengan jadwal siang hari.

Sebagian besar orang tidak dapat langsung keluar dari pekerjaannya, terutama dengan kondisi ekonomi saat ini, namun pekerja shift bukan tidak berdaya samasekali, kata Feinsilver. “apabila anda bekerja pada shift malam, Dapatkanlah kacamata hitam paling gelap, kacamata terbaik yang dapat anda temukan untuk pulang ke rumah pada pagi hari sehingga anda dapat mengurangi paparan pada cahaya alami.”

Pastikan kamar tidur anda seperti gua – gelap, sunyi, dan dingin. “saat waktunya bangn, nyalakan setiap lampu yang dapat anda temukan.” Katanya. Teknik ini dapat membantu mengakali otak anda agar berpikir bahwa keadaan tersebut adalah malam atau pagi hari sehingga anda dapat memperoleh tidur yang cukup.

Sumber Berita: http://www.webmd.com/heart-disease/news/20120726/heart-attack-stroke-more-common-in-shift-workers

sumber jurnal:  D. G. Hackam, G. Parraga, et. al. Shift work and vascular events: systematic review and meta-analysis. BMJ 2012;345:e4800
http://www.bmj.com/content/345/bmj.e4800

Albert Liang
praktisi kesehatan di Bandung.
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.