Diposting Minggu, 29 Juli 2012 jam 9:35 pm oleh Evy Siscawati

Neandertal di Spanyol Utara Mengetahui tentang Kualitas Penyembuhan Tanaman

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 29 Juli 2012 -


Hingga sekarang Neandertal, yang hilang antara 30 ribu dan 24 ribu tahun lalu, diduga umumnya merupakan pemakan daging. Walau begitu, bukti keluasan makanan tumbuh seiring semakin canggihnya analisis dilakukan.

 Para peneliti dari Spanyol, Inggris, dan Australia menggabungkan spektrometri massa-gas-kromatografi pirolisis denga nanalisis morfologis fosil mikro tanaman untuk menemukan bahan yang terjebak dalam kalkulus gigi (plak gigi yang mengapur) dari lima Neandertal dari situs Spanyol utara El Sidron.

 Hasilnya, diterbitkan dalam  Naturwissenschaften - The Science of Nature minggu ini, memberikan cerita baru – bukti molekuler pertama untuk makanan obat yang dipakai seorang individu Neandertal.

 Para peneliti mengatakan granula pati dan penanda karbohidrat dalam sampel, plus bukti senyawa tanaman seperti azulene dan coumarin, serta mungkin bukti kacang, rumput, dan bahkan sayuran hijau, berpendapat digunakannya secara luas tanaman yang dicerna daripada yang ditemukan oleh analisis isotop stabil.

 Pengarang utama Karen Hardy, profesor riset dari  Catalan Institute of Research and Advanced Studies (ICREA) di Universitat Autònoma de Barcelona (UAB) dan Honorary Research Associate di University of York, Inggris, mengatakan: “Keragaman penggunaan tanaman yang kami temukan menunjukkan kalau Neandertal yang tinggal di El Sidron memiliki pengetahuan mengenai lingkungan alam mereka yang mencakup kemampuan memilih dan menggunakan tanaman tertentu untuk nilai nutrisi dan medikasinya. Sementara daging memang jelas penting, penelitian kami menunjukkan makanan yang lebih kompleks dari yang diduga sebelumnya.”

 Penelitian sebelumnya oleh para anggota tim ini menunjukkan kalau Neandertal di El Sidron memiliki gen persepsi rasa pahit. Sekarang terjebak dalam kalkulus gigi, para peneliti menemukan bukti molekuler kalau satu individu telah memakan tanaman yang rasanya pahit.

Dr Stephen Buckley, seorang peneliti dari fasilitas penelitian BioArCh Universitas York mengatakan: “Bukti kalau individu ini memakan tanaman pahit seperti yarrow dan camomile dengan nilai nutrisi rendah itu mengejutkan. Kami tahu kalau Neandertal mengetahui tanaman ini pahit, jadi kemungkinannya tanaman ini dipilih atas alasan lain selain rasa.”

 Sepuluh sampel kalkulus gigi dari lima Neandertal dipilih untuk studi ini. Para peneliti memakai desorpsi termal dan spektrometri massa-kromatografi-gas pirolisis untuk menemukan komponen organik bebas dan terikat dalam kalkulus gigi. Memakai metode ini disertai ekstraksi dan analisis mikrofosil tanaman, mereka menemukan bukti kimia konsisten dengan asap api kayu, sejumlah makanan berpati yang dimasak, dua tanaman yang dikenal sekarang karena kualitas medisnya, dan bitumen atau minyak yang terjebak di kalkulus gigi.

Professor Matthew Collins, yang mengepalai fasilitas penelitian BioArCh di York mengatakan: “Memakai spektrometri massa, kami mampu menemukan balok bangunan karbohidrat dalam kalkulus dia dewasa, satu individu khususnya tampak memakan beberapa jenis makanan kaya karbohidrat. Digabung dengan analisis mikroskopis ditunjukkan bagaimana kalkulus gigi dapat memberi sumber informasi yang banyak.”

 Para peneliti mengatakan bukti untuk karbohidrat yang dimasak dibenarkan baik oleh granula pati pecah/masak yang diamati secara mikroskopis dan bukti molekuler memasak dan paparan pada asap kayu atau makanan yang diasap dalam bentuk sejumlah penanda kimia termasuk metil ester, fenol, dan hidrokarbon aromatik polinuklir yang ditemukan dalam kalkulus gigi.

 Professor Les Copeland dari fakultas pertanian dan lingkungan Universitas Sydney Australia mengatakan: “Penelitian kami membenarkan keanekaragaman dan pemakaian tanaman secara selektif oleh Neandertal.”

 Studi ini juga memberi bukti kalau granula pati yang dilaporkan dari El Sidron menjadi granula tertua yang dikonfirmasi dengan uji biokimia, sementara bakteri kuno yang tertempel dalam kalkulus menawarkan potensi untuk studi lanjutan mengenai kesehatan gigi.

 Situs gua arkeologi El Sidron, berada di daerah Asturias Spanyol utara, mengandung koleksi terbaik sisa-sisa Neandertal yang ada di semenanjung Iberia dan salah satu situs paling aktif dan penting di dunia. Ditemukan tahun 1994, ia mengandung 2 ribu potongan tulang dari setidaknya 13 orang yang berasal dari 47,300 hingga 50,600 tahun lalu.

 Antonio Rosas, dariMuseum of Natural History di  Madrid — CSIC (Spanish National Research Council), mengatakan: “El Sidron memungkinkan kita menghapus banyak prakonsepsi kita tentang Neandertal. Berkat studi sebelumnya, kita tahu kalau mereka menjaga teman mereka yang sakit, mengubur yang mati, dan menghias tubuh mereka. Sekarang dimensi lain telah ditambahkan terkait dengan pola makan dan pengobatan mereka.”

 Penelitian lapangan di El Sidron, dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Oviedo, didanai oleh Departemen Kebudayaan Spanyol. Sampel kalkulus gigi yang dipakai dalam studi ini disediakan oleh laboratorium yang memimpin studi sisa-sisa manusia yang ditemukan di El Sidron, yang berada di   Museum of Natural History di Madrid — CSIC.

Sumber berita:

 University of York.

Referensi jurnal

Karen Hardy, Stephen Buckley, Matthew J. Collins, Almudena Estalrrich, Don Brothwell, Les Copeland, Antonio García-Tabernero, Samuel García-Vargas, Marco Rasilla, Carles Lalueza-Fox, Rosa Huguet, Markus Bastir, David Santamaría, Marco Madella, Julie Wilson, Ángel Fernández Cortés, Antonio Rosas. Neanderthal medics? Evidence for food, cooking, and medicinal plants entrapped in dental calculus. Naturwissenschaften, 2012; DOI: 10.1007/s00114-012-0942-0

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.