Diposting Minggu, 29 Juli 2012 jam 9:26 pm oleh Evy Siscawati

Dimensi Mitik, Ontologis, Dan Fungsional Dari Situs Megalit Gunung Padang, Cianjur

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 29 Juli 2012 -


Oleh: Tayo Sandono[1]

Abstrak

Pandangan dunia ontologis, etis, maupun epistemologis dari struktur hidup masyarakat dapat ditemukan dalam berbagai objek budaya, termasuklah situs megalit Gunung Padang di Cianjur. Dengan hanya membayar Rp2.000 anda bisa mengkaji salah satu situs budaya yang kaya makna tersebut. Ditinjau dari sisi sejarah (dan prasejarah), situs ini setidaknya telah berusia 4000 tahun jauh sebelum kerajaan Salakanegara muncul. Situs megalit Gunung Padang adalah sebuah bangunan punden berundak yang berukuran raksasa dan disebut-sebut sebagai yang terbesar di Asia Tenggara. Dalam tulisan ini, aspek mitik, ontologis, dan fungsional dari bangunan lima teras ini dikaji. Ditemukan kalau aspek mitik tersimpan dalam arsitektur bangunan dan penempatan bangunan di wilayah berpagar gunung. Aspek ontologis ditemukan dalam upacara yang menjadi bentuk antroposentrik pertama di situs ini maupun dari nuansa religio-politik yang tersimpan dalam pemaknaan masyarakat sekitar. Dimensi fungsional ditemukan pada bagaimana masyarakat memanfaatkan situs ini baik untuk tujuan niaga maupun tujuan irasional seperti agar tercapai cita-citanya.

Kata kunci:  kerajaan Pajajaran, kebudayaan Austronesia, mitos Siliwangi, situs megalit, tradisi Sunda

  1. A.    PENDAHULUAN

Indonesia memiliki banyak peninggalan punden berundak-undak dari masa megalitik. Di Jawa Barat sendiri terdapat situs di Ciranjang, Lembah, Duhur, Gunung Padang, Sukabumi, dan Banten Selatan. Fungsi dari bangunan batu besar ini adalah sebagai tempat upacara sakral manusia pra sejarah (Sukendar, 1983). Terdapat tiga tempat di Jawa Barat yang bernama Gunung Padang, yaitu di Cianjur, Kabupaten Bandung, dan Ciamis, semuanya memiliki megalit yang sebagian tersusun secara berpola dan semuanya menjadi tempat meditasi masyarakat sekitar (van Zanten, 1984). Banyaknya gunung Padang dan hubungannya ini dapat ditarik dari makna frasa “Gunung Padang” yang berarti “tempat untuk menyinari hati” (Babad Galuh Imanegara). “Gunung Padang” bermakna “ari gunung luhur, padang nyatana hate urang… Ieu gunung teh luhur, ari padang teh hate nu caang.” (Gunung artinya kepala kita, sementara padang berarti menyinari hati) (Djunatan, 2011a). Ketiga gunung ini merupakan satu kesatuan. Gunung Padang di Cianjur merupakan lokasi dimana Raja Sunda (mungkin Raja Premana Dikusumah ataupun Prabu Siliwangi) mencari panduan dan memprediksikan gejala langit. Gunung Padang di Ciamis menjadi lokasi berdoa raja (mungkin dari Kerajaan Galuh), dan gunung Padang di Ciwidey menjadi tempat meditasi dimana seorang raja muda atau pangeran dapat belajar mengenai alam dan tugas-tugas raja. Ketiga  gunung ini membentuk makna filosofi Sunda yaitu kebaikan, nilai-nilai kehidupan, dan jalan flosofis hidup. Ia membentuk pandangan dunia ontologis, etis, maupun epistemologis dari struktur hidup triadik masyarakat Sunda (Djunatan, 2011).

Situs Gunung Padang (885 meter) yang dibahas disini terletak di Cianjur dan diperkirakan dibangun sekitar 2500 – 1500 SM. Ia ditemukan kembali di tahun 1979 oleh para petani namun telah tercatat dalam literatur Belanda setidaknya tahun 1914 dalam laporan NJ Krom berjudul Rapporten van de Oudheid-kunginen Dienst dan dieksplorasi kembali tahun 1949 oleh NJ Krom. Luas areal situs ini mencapai 3.132,15 m2 dengan luas bangunan purbakala sekitar 900 m2 (Wahyudin, 2007). Bangunan terbentuk seolah menempel di puncak bukit sehingga menimbulkan dugaan kalau bangunan ini sesungguhnya puncak dari bangunan yang lebih besar.

Saat ini, jika anda berkunjung ke situs Gunung Padang, anda akan menemukan sebuah objek wisata kekayaan budaya yang penuh pengunjung terutama pada hari libur. Harga tiket masuk hanya Rp2.000 per orang namun jarak dari jalan utama Cianjur-Sukabumi mencapai 20 km melintasi pegunungan Sunda. Selama perjalanan anda disuguhi pemandangan alam maupun perkebunan teh yang terbentang.

Gambar 1 Lokasi Megalit Gunung Padang

 

Sumber gambar: Dahlan dan Situngkir, 2009

Tulisan ini berusaha mengungkap tiga dimensi budaya Van Peursen yang ada pada situs Gunung Padang. Penulis termotivasi untuk menulis artikel ini mengingat adanya sintesis budaya yang muncul ketika penulis berkunjung ke situs tersebut. Sebagai situs megalit, bangunan ini merupakan bangunan pra sejarah yang dibuat jauh sebelum masa kerajaan Sunda (lihat Tabel 1). Di sisi lain, ketika anda berkunjung ke lokasi tersebut, anda akan menemukan semua petugas menggunakan pakaian khas Sunda dan bercerita tentang warisan kebudayaan Sunda di tanah tua ini. Apakah ini hanya sebuah klaim atas kekayaan masa lalu yang tidak diketahui ataukah ada sebuah fungsi budaya mendalam yang ingin diceritakan masyarakat Sunda berdasarkan teori kebudayaan? Penulis tertarik untuk mengkajinya dari perspektif Van Peursen sehingga memperoleh justifikasi atas fenomena penggunaan kebudayaan Sunda terhadap warisan pra-Sunda tersebut.

Tabel 1 Megalit Gunung Padang dan Kerajaan-Kerajaan di tanah Sunda berdasarkan tahun berdirinya termasuk Republik Indonesia

NoNamaLokasi situsPerkiraan tahun berdiri
1Megalit Gunung PadangCianjur2500 – 1500 SM
2Kerajaan SalakanegaraPandeglang150 M
3Kerajaan TarumanegaraBanten300 M
4Kerajaan SundaBanten-Jawa Barat669 M
5Kerajaan GaluhBanten-Jawa Barat735 M
6Kerajaan PajajaranBogor923 M
7Kerajaan PanjaluCiamis1200 M
8Kerajaan Sumedang LarangJawa Barat1521 M
9Kesultanan BantenBanten1524 M
10Kesultanan CirebonJawa Barat1527 M
11Republik IndonesiaKepulauan Nusantara1945 M

Sumber: Al Hamidi, 2009

  1. B.     TIGA DIMENSI BUDAYA VAN PEURSEN

C.A van Peursen (1976) mengajukan bahwa kebudayaan terdiri dari tiga dimensi yaitu mitis, ontologis, dan fungsional. Dalam dimensi mitis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat terbuka. Pada dimensi ontologis, relasi manusia dengan lingkungannya bersifat tertutup. Dan pada dimensi fungsional, relasi manusia dengan lingkungan bersifat partisipatif.

Dimensi mitis ditandai oleh manusia yang merasa dirinya dikelilingi oleh gaya tak terlihat disekitarnya. Dimensi mitis disebut juga pandangan ekosentris dimana manusia berintegrasi dengan alam dan dikendalikan oleh alam.

Dimensi ontologis ditandai oleh manusia yang tidak lagi hidup dalam kekuasaan mitis namun bebas untuk memeriksa apapun. Dimensi ontologis disebut juga pandangan antroposentris dimana manusia bersifat asertif dan mengendalikan alam.

Dimensi fungsional ditandai oleh sikap dan kondisi pikiran yang tidak lagi terkesan dengan sekitarnya, tidak lagi mengambil jarak dengan objek, namun ia ingin membentuk hubungan terhadap segala hal dalam lingkungannya. Dimensi ini diidentifikasi sebagai kebudayaan modern.

  1. C.    SITUS GUNUNG PADANG

Sampai sekarang tidak diketahui siapa pembuatnya, kemana para pembuatnya sekarang, dan apakah pembuatnya merupakan leluhur manusia Sunda modern. Pengetahuan mengenai fungsi maupun usia telah cukup pasti. Hipotesis paling kuat mengenai fungsi Gunung Padang adalah sebagai tempat ritual. Hal ini dapat dilihat dari bentuk bangunan yang terdiri dari lima teras.

Gambar 2: Keseluruhan Bangunan situs Gunung Padang

 

Sumber gambar: Yondri, 2011

Teras pertama terdiri dari beberapa bentuk bangunan. Satu bentuk menyerupai tempat penjamuan (lihat Gambar 3). Diduga disini para tamu beristirahat dan menikmati jamuan sebelum berangkat ke teras selanjutnya. Selain itu, lokasi ini juga dapat diartikan sebagai tempat para pemimpin masyarakat memutuskan undang-undang yang harus dipatuhi seluruh penduduk. Jika demikian, lokasi ini selain bermakna sakral juga bermakna profan, setidaknya pada teras pertama.

Gambar 3: Struktur Lantai di Teras Pertama

 

Sumber gambar: Warouw dan Prasetyo, 2012

Teras kedua terdapat batu-batu tegak besar yang berfungsi sebagai pembatas jalan. Fungsi teras ini juga diduga sama dengan teras pertama yaitu untuk bermusyawarah ditandai dengan adanya batu berbentuk meja dan tempat duduk. Teras ketiga memiliki kelompok batu tegak dan beberapa bangunan. Tampak tidak ada jalan atau pondasi penghubung antar bangunan. Krom menduga teras ketiga merupakan kompleks kuburan namun eksplorasi lebih lanjut oleh Bintarti tahun 1982 tidak menemukan adanya kerangka namun sejumlah gerabah polos.

Teras keempat memiliki tiga bangunan yang semuanya ada di sisi timur laut. Bagian barat daya berupa tanah kosong yang diduga tempat pelaksanaan upacara tertentu yang membutuhkan tempat luas. Teras kelima terdiri dari bangunan-bangunan kecil berupa tumpukan monolit. Diduga kalau teras tertinggi ini merupakan tempat upacara paling sakral diadakan.

Selain bagian yang telah digali, diduga masih terdapat struktur yang lebih besar, tertanam di bawah tanah (Yoga, 2012). Jika memang demikian, tujuan awal pembangunan situs Gunung Padang akan sangat berarti bagi kehidupan di masa tersebut.  Kemungkinan ia bukan semata sebagai pusat ritual namun bersifat multifungsi. Walau begitu, untuk sekarang, disimpulkan kalau fungsi bangunan megalit ini sebagai pusat ritual. Fungsi situs ini sebagai tempat ritual diperkuat oleh ditemukannya sejumlah batu yang berfungsi sebagai prototipe gamelan (Dahlan dan Situngkir, 2009).

Di kaki situs sendiri terdapat sebuah sumur yang dibangun sedemikian rupa sehingga berbentuk kokoh. Keberadaan sumur di bagian kaki situs besar kemungkinannya sebagai sarana pensucian diri sebelum melakukan ibadah atau melaksanakan upacara (Yondri, 2011).

  1. D.    DIMENSI MITIS GUNUNG PADANG

Dimensi mitis situs Gunung Padang muncul dari masa ketika ia dibuat. Arsitektur situs Gunung Padang mengungkapkan kalau ia memiliki kemampuan mencegah longsor yang baik dengan penerapan arsitektur dasar dan penggunaan tanda, seperti simbol-simbol khusus di bebatuan (Santosa, 2012), termasuk adanya alat musik dari batu (Dahlan dan Situngkir, 2008). Inilah yang membuat bangunan ini dapat lestari hingga sekarang dengan usia antara 3500 hingga 4500 tahun. Bangunan kokoh semacam ini tentunya dibuat untuk sebuah tujuan yang tidak sembarangan. Terlebih lagi ia dibangun di wilayah yang dikelilingi lereng cukup terjal yang rawan bencana longsor (Yondri, 2011).

Aspek mitis paling kuat dari situs Gunung Padang adalah aspek pembangunan yang dilakukan di lokasi ini. Ritual yang dilakukan mungkin bersifat antroposentrik namun aspek pembangunan bersifat mitik. Sejumlah tanda aspek mitik ini antara lain:

  1. Sumur pensucian diri yang dirancang kokoh dengan air yang segar memberikan kontak pertama manusia dengan alam secara sentuhan sebagai ucapan selamat datang dari alam atau pengambilan restu dari alam atas upacara yang akan dilakukan (Gambar 4)
  2.  Jalan masuk situs yang dikelilingi pepohonan memberi petunjuk pertemuan manusia dalam alam dimana alam mengantar para peziarah ke lokasi
  3. 378 anak tangga dibuat tanpa mengubah kontur tanah.
  4. Bangunan  yang kokoh dan dibuat dengan hati-hati memberi petunjuk kalau masyarakat pembuat menghargai alam sehingga tidak ingin agar alam murka dengan memberikan bencana longsor. Sebagai contoh, tembok dibuat dengan tanah uruk dan batu andesit ditumpuk secara horizontal dan vertikal.
  5. Posisi bangunan yang berada di puncak dan dikelilingi oleh gunung (enam gunung mengelilingi Gunung Padang yaitu Gunung Melati, Pasir Malang, Pasir Pogor, Pasir Gombong, Pasir Empat, dan Gunung Karuhun) memberi perspektif mengenai keluasan alam dan perlindungan oleh alam terhadap manusia, misalnya untuk mengurangi tiupan angin kencang (Herlambang, 2012).
  6. Batuan yang digunakan untuk membuat situs Gunung Padang adalah batuan andesit yang berasal dari gunung itu sendiri dan beberapa gunung tetangganya. Selain karena kemudahan, hal ini dapat diartikan untuk tidak merusak alam.
  7. Posisi bangunan kemungkinan besar terletak di tempat terpencil saat didirikan. Hal ini didukung dengan tidak ditemukannya situs-situs sejenis di sekitar Gunung Padang. Walau demikian, ada kemungkinan pula kalau ada bangunan-bangunan yang tidak kuat yang telah hancur dan tidak bersisa yang didirikan para pembangun untuk peristirahatan. Jika memang ia didirikan di daerah terpencil, maka aspek mitis menjadi lebih kuat lagi dimana masyarakat mempercayakan dirinya pada alam dan merasa bahwa di kedalaman alam terdapat kesatuan yang paling suci.

Gambar 4: Sumur Pensucian Diri

 

Sumber: Helmy dan Jaluardi, 2012

  1. E.     DIMENSI ONTOLOGIS GUNUNG PADANG

Dimensi ontologis Gunung Padang dapat ditarik dari masa bangunan tersebut didirikan yaitu sebagai sarana penghubung antara yang hidup dengan arwah para leluhurnya yang sudah meninggal. Menurut Sudjono, kebudayaan pendiri situs percaya kalau orang yang telah mati berpengaruh kuat terhadap kesejahteraan masyarakat dan kesuburan tanaman. Inilah tujuan utama upacara purba dilakukan di situs ini sebagaimana diinferensi dari bangunan-bangunan serupa yang ditemukan di Nias, Flores, dan Timor Barat.

Pembangunan situs Gunung Padang mengandung filosofi mengenai gotong royong dimana setiap anggota masyarakat bekerja sama sehingga saling mengakrabkan dalam hubungan sosial. Pembangunan situs Gunung Padang selain memberikan pendekatan bagi individu pada kekuatan supranatural (dimensi mitis), ia juga memberikan nilai luhur kebersamaan, gotong royong, dan persatuan. Ribuan orang terlibat dalam pembuatan situs baik dalam membelah batu, mengangkut, dan mengatur balok-balok batu tersebut (Rachmawati, 2003).

Dalam masyarakat Sunda, gunung Padang telah mendapatkan dimensi ontologisnya yang kuat. Para tetua berpendapat bahwa ia mengandung konsepsi asal usul dan tujuan hidup serta mengenai kehidupan yang luhur bagi manusia. Ini merupakan pelekatan kosmologis, epistemologis, pandangan dunia, dan keyakinan agama Sunda pada situs gunung Padang (Djunatan, 2011b).

Teras kelima sering dihubungkan dengan Prabu Siliwangi. Dikisahkan kalau Prabu Siliwangi mendapat titah membangun istana batu dalam waktu satu malam. Ia mulai membangun istana tersebut dari batu-batu besar yang dipotong dengan kesaktiannya. Sayangnya fajar datang sebelum istana selesai dibuat. Prabu Siliwangi kesal dan menendang bangunan tersebut hingga runtuh. Reruntuhan ini sekarang terlihat sebagai situs Gunung Padang.

Batu-batu dengan bentuk khususpun mulai mendapat pemaknaan ontologis. Masyarakat ada yang menganggap batu tertentu sebagai tongkat Prabu Kiansantang, formasi batuan berbentuk kubah di teras pertama sebagai mesjid, dan ada pula yang menganggap batuan tertentu sebagai harimau (Susianto, 1988). Sementara itu, pohon cempaka yang tumbuh di tengah situs dipercaya sebagai tempat pertemuan para wali.

Teras ketiga dimaknai sebagai tempat pengujian karena terdapat batu gendong. Masyarakat percaya mereka yang mampu mengangkat batu ini akan memperoleh kesejahteraan atau keinginannya terkabul. Teras keempat dimaknai sebagai tempat pertapaan, dan teras kelima sebagai singgasana (Herlina, 2012). Secara umum, masyarakat memaknai bahwa fungsi utama formasi Gunung Padang adalah sebagai tempat pertemuan para raja (Warouw dan Prasetyo, 2012). Tidak hanya dimaknai secara Sunda, situs gunung Padang pun dimaknai secara Islam. Lima teras Gunung Padang diberi nama Meja Kiai Giling Pangancingan, Kursi Eyang Bonang, Jojodog Eyang Swasana, Sandaran Batu Syeh Suhaedin (Syeh Abdul Rusman), Tangga Eyang Syeh Marzuki, dan Batu Syeh Abdul Fukor.

Aspek ontologis paling kuat dari situs Gunung Padang adalah ritual yang dilakukan di lokasi ini. Sejumlah tanda aspek ontologis ini antara lain:

  1. Gotong royong dan semangat sosial yang terbangun dalam tahap konstruksi situs
  2. Ritual penyembahan leluhur yang dilakukan di masa pertama dan pertemuan para raja dan pangeran di masa Sunda
  3. Pembuatan hubungan filsafat manusia Sunda dengan fungsi bangunan situs
  4. Pemaknaan masyarakat sekitar terhadap setiap konstruksi di dalam situs dengan makna-makna antroposentrik (mesjid, harimau, tongkat Kiansantang)
    1. F.     DIMENSI FUNGSIONAL GUNUNG PADANG

Berdasarkan kunjungan penulis maupun literatur, ditemukan kalau sejumlah dimensi fungsional telah hadir dengan kuat di wilayah Gunung Padang. Dalam dimensi fungsional, orang tidak lagi membahas mengenai makna filosofis atau mitis dari suatu objek budaya, tapi bicara mengenai apa manfaat praktisnya bagi mereka. Dimensi fungsional ini antara lain:

  1. Ada batu di teras keempat yang disebut batu gendong. Batu gendong tersebut merupakan batu andesit berukuran sebesar tas punggung berwarna coklat. Dipercaya kalau orang yang mampu mengangkat batu tersebut akan tercapai cita-cita dan harapannya.
  2. Adanya prototipe gamelan dalam bentuk batu memunculkan mitos kalau pesinden atau pemusik yang menjenguknya akan berpenampilan menjadi lebih baik.
  3. Teras kelima sering digunakan untuk mencari wangsit demi memompa kepercayaan diri oleh para pejabat daerah dan nasional (Helmy dan Jaluardi, 2012).
  4. Banyaknya pedagang, ojek, dan pengemis menunjukkan fungsionalisme ekonomi dari bangunan megalit Gunung Padang terhadap masyarakat sekitarnya.

KESIMPULAN

Situs Gunung Padang merupakan situs peninggalan budaya sehingga dapat dianalisis dengan teori kebudayaan yang ada. Menggunakan teori kebudayaan van Peursen ditemukan kalau dimensi mitis, ontologis, dan fungsional dapat dibedakan dengan baik. Kentalnya kebudayaan Sunda di situs Gunung Padang lebih karena aspek ontologis dan fungsional ketimbang mitis. Sebagai situs budaya yang telah setidaknya berusia 4000 tahun, situs Gunung Padang melewati berbagai kebudayaan mulai dari masa Austronesia, Sunda, Hindu-Buddha, Islam, hingga modern. Berlapis-lapisnya mitos dan usaha para antropolog, geolog, dan arkeolog untuk mengkajinya merupakan bentuk kekayaan kebudayaan bangsa. Di masa yang akan datang, diharapkan pengetahuan kita semakin bertambah tentang situs ini dan misteri tidak lagi menjadi bahan untuk dijual di Gunung Padang, melainkan sebuah rasa takjub atas kearifan masa lalu dan masa sekarang.

Referensi

Al Hamidi, P.M. 2009. Kerajaan Kandis “Atlantis Nusantara” antara Cerita dan Fakta: Sebuah Hipotesa Lokasi Awal Peradaban di Indonesia. Makalah Seminar.

Dahlan, R.M., Situngkir, H. 2008. Tradisi Musik di Zaman Prasejarah Indonesia. Bandung Fe Institute.

Dahlan, R.M., Situngkir, H. 2009. Musical Tradition in Megalithic Site of Indonesian Gunung Padang? Bandung Fe Institute.

Djunatan, S. 2011a. The Principle of Affirmation: An Ontological and Epistemological Ground of Interculturality. PhD Dissertation. Erasmus Universiteit Rotterdam.

Djunatan, S. 2011b. Sunda – The Affirmative life: The Mythological Worldview of the Contemplative Site of Nagara Padang, West Java, Indonesia. Universitas Parahyangan.

Helmy, C., Jaluardi, H. 2012. Tanah Air: Memperkuat Pesona Gunung Padang. Kompas 3 Maret 2012.

Herlambang, C.H. 2012. Tanah Air: Menyelamatkan Bukti Cinta di Gunung Padang. Kompas, 3 Maret 2012.

Herlina, T. 2012. Perjalanan ke Gunung Padang: Pesinden dan Presiden. Sinar Harapan, 23 Februari 2012.

Peursen, C.A. van. 1976. Cultural Strategy. Translation; Hartoko Dick. Publisher Doubleday; Yogyakarta.

Rachmawati, E. 2003. Menatap Sisa Kejayaan Masa Megalitik. Kompas, 6 Juni 2003.

Santosa, T. 2012. Simbol-Simbol Aneh di Gunung Padang Mulai Diteliti. Rakyat Merdeka, 24 Mei 2012.

Sukendar, H. 1983. The Living Megalithic Tradition in Eastern Indonesia. Centre of Archaeology, Jakarta.

Susianto, D. 1988. Peninggalan Megalitik Gunung Padang, Cianjur. Suara Pembaruan, 25 Maret 1988.

Tp. tt. Babad Galuh Imbanegara.

Van Zanten, W. 1984. The Poetry of Tembang Sunda. Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde 140, no: 2/3, Leiden, 289-316

Wahyudin, P.D. 2007. Makna Simbolisme Kacapi Indung dalam Tembang Sunda Cianjuran: Analisis Struktural pada Penembang terhadap Proses Pengarusutamaan Gender. Rimbapurnama.multiply.com.

Warouw, W., Prasetyo, S. 2012. Perjalanan Ke Gunung Padang: Mengulik Peradaban yang Hilang. Sinar Harapan, 24 Februari 2012.

Yoga, D.E. 2012. Memperkirakan Hubungan Candi Ceto, Piramida Gunung Padang, dan Candi Suku Maya. http://atlantissunda.wordpress.com

Yondri, L. 2011. Punden Berundak Gunung Padang: Maha Karya Nenek Moyang dan Kandungannya Akan Nilai-Nilai Kearifan Lingkungan di Masa Lalu di Tatar Sunda. Balai Arkeologi Bandung.


[1] Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman. Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati 2012.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.