Diposting Senin, 16 Juli 2012 jam 10:27 pm oleh Evy Siscawati

Berat Badan Berlebih Saja Tidak Berarti Meningkatkan Resiko Kematian Jangka Pendek

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 16 Juli 2012 -


 Ketika membandingkan orang dengan berat normal, orang yang kegemukan tidak memiliki resiko kematian lebih tinggi dalam periode follow up enam tahun. Orang yang sangat gemuk memang memiliki resiko lebih tinggi, namun hanya jika ia juga menderita diabetes atau tekanan darah tinggi.

 Temuan ini, yang muncul dalam edisi Juli-Agustus   The Journal of American Board of Family Medicine, mempertanyakan studi-studi sebelumnya – memakai data yang dikumpulkan ketika kegemukan masih sedikit di masyarakat – yang menghubungkan mortalitas jangka pendek dengan penambahan berat badan.

 “Saat ini ada keyakinan luas kalau peningkatan berat badan akan meningkatkan resiko kematian, namun temuan kami menunjukkan hal ini tidak berlaku,” kata Anthony Jerant, profesor kedokteran keluarga dan masyarakat serta pengarang perdana studi ini. “Dalam bingkai waktu enam tahun evaluasi kami, kami menemukan kalau hanya kegemukan parah yang berasosiasi dengan peningkatan resiko kematian, karena komplikasi diabetes dan tekanan darah tinggi.”

 Berdasarkan studi ini, Jerant merekomendasikan percakapan dokter dengan pasien yang kegemukan, namun yang tidak parah, berfokus pada dampak negatif yang diketahui mengenai kondisi fungsi mental dan fisik, daripada peningkatan resiko kematian jangka pendek.

Sebagai perbandingan, Jerant menambahkan kalau penting bagi dokter untuk bicara dengan pasien yang sangat gemuk yang juga menderita diabetes atau tekanan darah tinggi mengenai resiko kematian jangka pendek dan perawatannya, termasuk penurunan berat badan.

 “Hasil kami tidak berarti kalau menjadi kegemukan bukan ancaman bagi kesehatan individu atau publik,” kata Jerant. “Kondisi ini berdampak nyata pada mutu hidup, dan atas alasan ini saja penurunan berat badan sudah harus disarankan.”

 Dalam melakukan studi ini, Jerant menggunakan data seluas negara tahun 2000 hingga 2005 dari hampir 51 ribu orang dewasa berusia 18 hingga 90 tahun yang berpartisipasi dalam   Medical Expenditure Panel Surveys mengenai kesehatan dan ongkos kesehatan. Survey ini mencakup informasi mengenai kondisi kesehatan seperti diabetes dan tekanan darah tinggi.

 Indeks Massa Tubuh (Body mass index – BMI), atau berat berdasarkan tinggi, dihitung untuk tiap responden. Studi ini mengkategorikan orang sebagai kurus (BMI < 20), normal (BMI 20 hingga <25), gemuk (BMI 25 hingga < 30), obesitas (BMI 30 hingga 35) atau obesitas parah (BMI > 35).

 Mortalitas dinilai menggunakan National Death Index. Dari 50,994 orang dalam analisis UC Davis, hanya 3 persen (1,683) yang wafat dalam enam tahun ke depan.

 Para peneliti menemukan kalau orang yang obesitas parah 1,26 kali lebih mungkin meninggal saat follow up ketimbang orang dengan berat normal. Walau begitu, jika orang diabetes atau tekanan darah tinggi dihapus dari data, mereka yang gemuk, obesitas, atau bahkan obesitas parah memiliki tingkat kematian yang sama atau bahkan lebih rendah dari orang normal. Konsisten dengan penelitian sebelumnya, orang kurus hampir dua kali lebih mungkin meninggal daripada orang normal, tidak melihat apakah ia juga menderita diabetes atau tekanan darah tinggi.

 Prevalensi kegemukan dan obesitas telah meningkat dramatis dalam dekade terakhir. Diperkirakan sepertiga dari semua orang dewasa di AS diatas usia 20 tahun tergolong obesitas dan sepertiganya gemuk. Selain diabetes dan tekanan darah tinggi, masalah kesehatan yang berasosiasi dengan kondisi ini mencakup penyakit jantung, osteoarthritis, dan apnea tidur.

Hubungan antara berat dan mortalitas adalah topik kontroversial dalam kesehatan publik. Walaupun studi berdasarkan data yang dikumpulkan 30 tahun lalu menunjukkan resiko kematian naik seiring meningkatnya berat, analisis data yang lebih modern, termasuk dalam penelitian ini, mempertanyakan asumsi tersebut.

 “Temuan kami menunjukkan kalau resiko memiliki BMI di atas normal mungkin lebih rendah daripada di masa lalu,” kata Jerant. “Sementara studi ini tidak dapat menjelaskan alasannya, mungkin kalau kegemukan dan obesitas telah menjadi lebih umum, dokter menjadi lebih sadar atas asosiasinya dengan isu kesehatan seperti tingginya tekanan darah, kolesterol, dan gula darah, sehingga lebih agresif dalam melakukan deteksi dini dan perawatan kondisi ini.”

 Jerant mengatakan kalau periode enam tahun penyelidikan ini membatasi kemampuan membuat asumsi mengenai hubungan antara berat badan yang tidak sehat dan resiko kematian dalam bingkai waktu lebih panjang.

“Kami berharap temuan kami akan memicu studi lanjutan yang memeriksa hubungan kegemukan atau obesitas dengan mortalitas jangka panjang,” kata Jerant.

 Pengarang lain studi ini adalah Peter Franks, profesor Jurusan Kesehatan Keluarga dan Masyarakat UC Davis. Franks dan Jerant menggunakan data akses publik dalam melakukan studi ini, yang tidak melibatkan pendanaan dari luar.

Sumber berita:

University of California – Davis Health System.

Referensi jurnal:

A. Jerant, P. Franks. Body Mass Index, Diabetes, Hypertension, and Short-Term Mortality: A Population-Based Observational Study, 2000-2006. The Journal of the American Board of Family Medicine, 2012; 25 (4): 422 DOI: 10.3122/jabfm.2012.04.110289

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.