Diposting Rabu, 4 Juli 2012 jam 12:40 pm oleh Evy Siscawati

Bukti Pertama Pemujaan di Judah Masa Raja Daud

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 4 Juli 2012 -


Selama penggalian arkeologi di Khirbet Qeiyafa, sebuah kota benteng di Judah dekat Lembah Elah, Garfinkel dan koleganya mengungkap sejumlah besar tembikar, alat batu dan logam, banyak karya seni, dan benda-benda pemujaan. Disini termasuklah tiga ruang besar yang menjadi tempat pemujaan, dimana arsitekturnya berkorespondensi dengan deskripsi kitab suci mengenai adanya pemujaan di masa Raja Daud.

Penemuan ini luar biasa karena ia pertama kalinya tempat pemujaan dari masa raja-raja kitab suci ditemukan. Karena tempat pemujaan ini mendahului pembuatan kuil Sulaiman di Yerusalem sejauh 30 hingga 40 tahun, ia menjadi bukti fisik pertama adanya pemujaan di masa raja Daud, dengan implikasi signifikan untuk bidang arkeologi, sejarah, teologi, dan sosiologi agama.

Ekspedisi ke Khirbet Qeiyafa telah menggali di lokasi ini selama enam minggu setiap musim panas sejak tahun 2007, dengan ko-direktur Saar Ganor dari Otoritas Antik Israel. Hasil revolusioner dari kerja lima tahun ini disajikan dalam buku, “Footsteps of King David in the Valley of Elah,” diterbitkan oleh Yedioth Ahronoth.

Berada sekitar 30 km di tenggara Yerusalem di lembah Elah, Khirbet Qeiyafa adalah sebuah kota perbatasan kerajaan Judah dengan kota Gath Philistine. Kota ini, yang diukur dengan pengukuran radiometrik 10 (14C) di Universitas Oxford pada tungku zaitun yang terbakar, ditemukan ada selama periode singkat antara 1020 hingga 980 SM dan dihancurkan dengan kekerasan.

 Tradisi kitab suci menyatakan masyarakat Israel melakukan pemujaan yang berbeda dari bangsa lain di Timur Dekat purba dengan menjadi monoteistik dan an-ikonik (melarang gambar manusia atau hewan). Walau begitu, tidak jelas kapan praktek ini dirumuskan, jika memang pada masa monarki (abad ke-10 sampai ke-6 SM), atau lebih muda yaitu di masa Persia atau Hellenistik.

 Ketiadaan gambar pujaan berupa manusia atau hewan dalam tiga tempat pemujaan ini memberi bukti kalau penghuni tempat ini mempraktekkan pemujaan yang berbeda dari Kanaanit atau Philistin, dimana ia melarang gambar yang diukir.

Temuan di Khirbet Qeiyafa juga menunjukkan kalau gaya arsitektur yang digunakan telah dikembangkan sejak masa Raja Daud. Konstruksi demikian umum dipakai dalam aktivitas kerajaan, karenanya mengindikasikan kalau formasi kerajaan, pendirian level sosial elit, dan urbanisme di daerah tersebut ada di masa raja-raja awal Israel. Temuan ini memperkuat historisitas tradisi kitab suci dan deskripsi arsitektur Istana dan Kuil Sulaiman.

 Menurut profesor Garfinkel, “Ini pertama kalinya arkeolog mengungkap sebuah kota benteng di Judah dari masa Raja Daud. Bahkan di Yerusalem, kami tidak punya kota benteng yang jelas dari periode ini. Karenanya, berbagai saran mengatakan kalau tradisi kitab suci tentang Raja Daud ditolak dan berpendapat kalau ia adalah figur mitologis, atau hanya seorang pemimpin suku kecil, dan sekarang itu terbukti salah.” Garfinkel melanjutkan, “Sepanjang tahun, ribuan tulang hewan ditemukan, termasuk domba, kambing, dan sapi namun tidak ada babi. Sekarang kami menggali tiga ruangan tempat pemujaan, dengan berbagai paraphernalia, namun tidak ada pula gambar manusia atau hewan ditemukan. Hal ini menunjukkan kalau populasi Khirbet Qeiyafa melakukan dua larangan kitab suci – babi dan gambar – dan karenanya mempraktekkan pemujaan yang berbeda dari Kanaanit dan Philistin.”

Deskripsi temuan dan signifikansinya

 Tiga tempat keramat ini merupakan bagian dari kompleks bangunan yang lebih besar. Dalam hal ini ia berbeda dari pemujaan Kanaanit atau Filistin, yang dipraktekkan dalam kuil – bangunan terpisah yang didedikasikan hanya untuk ritual. Tradisi kitab suci menyatakan fenomena ini dalam masa Raja Daud: “Ia membawa tabut dari sebuah rumah di Kyriat Yearim dan meletakkannya di Yerusalem dalam sebuah rumah” (2 Samuel 6).

Objek pemujaan mencakup lima batu tegak (Massebot), dua altar basalt, dua wadah libasi tembikar, dan dua tempat pemujaan portabel. Tidak ada gambar manusia atau hewan ditemukan, menunjukkan masyarakat Khirbet Qeiyafa melakukan pelarangan gambar seperti dalam kitab suci.

Dua tempat pemujaan portabel (atau “model tempat pemujaan”) ditemukan, satu terbuat dari tembikar (sekitar 20 cm tingginya) dan yang lain dari batu (tingginya 35 cm). Bentuknya kotak menyerupai kuil, dan dapat ditutup dengan pintu.

Tempat pemujaan tanah liat dihias dengan rumit, mencakup dua singa penjaga, dua tiang, sebuah pintu utama, penopang atap, tekstil terlipat, dan tiga burung berdiri di atap. Dua dari elemen ini dinyatakan dalam Kuil Sulaiman: kedua tiang (Yachin dan Boaz) dan tekstil (Parochet).

 Tempat pemujaan batu terbuat dari pualam lembut dan dicat merah. Hiasannya ada dua unsur. Pertama adalah tujuh kelompok batang atap, tiga batang masing-masing. Elemen arsitektur ini, triglif, ditemukan juga dalam kuil klasik Yunani seperti Parthenon di Athena. Kemunculannya di Khirbet Qeiyafa adalah contoh tertua yang terpahat di batu, sebuah pencapaian dalam dunia arsitektur.

 Elemen dekorasi kedua adalah pintu mundur. Tipe pintu atau jendela ini dikenal dalam arsitektur kuil, istana, dan pusara kerajaan di Timur Dekat kuno. Ini adalah simbol umum keagungan dan keilahian masa itu.

 Model batu membantu kami memahami istilah teknik yang kabur dalam deskripsi istana Sulaiman sebagaimana dinyatakan dalam 1 Raja-Raja 7, 1-6. Teks menggunakan istilah “slaot” yang diduga sebagai tiang dan sekarang ternyata adalah triglif. Teks juga memakai istilah “sequfim”, yang biasanya ditafsirkan sebagai sembilan jendela di istana, dan ternyata adalah “tiga pintu mundur”.

 Triglif dan pintu mundur yang sama dapat ditemukan dalam deskripsi kuil Sulaiman (1 Raja-raja 6, ayat 5, 31-33, dan dalam deskripsi sebuah kuil oleh nabi Ezekiel (41:6). Teks kitab suci ini diulang dengan istilah-istilah teknik yang kabur yang kehilangan arti sesungguhnya selama bermilenium. Sekarang, dengan bantuan model batu yang diungkap di Khirbet Qeiyafa, teks kitab suci ini diklarifikasi. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kami memiliki objek aktual dari masa Daud, yang dapat dihubungkan dengan monumen-monumen yang dinyatakan dalam Injil.

Sumber berita:

Hebrew University of Jerusalem

Referensi buku:

Saar Ganor et al. 2012, “Footsteps of King David in the Valley of Elah,” Yedioth Ahronoth

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.