Diposting Rabu, 4 Juli 2012 jam 12:32 pm oleh Evy Siscawati

Bermasalah Dengan Gerakan Tarian? GABA yang Bertanggung Jawab

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 4 Juli 2012 -


Duta kimiawinya, dikenal sebagai GABA, penting untuk plastisitas korteks motorik, sebuah daerah otak yang terlibat dalam perencanaan, pengendalian, dan eksekusi gerakan sadar.

 “Ada keragaman dalam perilaku belajar motorik antar individu,” kata Charlotte Stagg dari Universitas Oxford. “Kami mencoba menguji apakah keragaman ini dapat dijelaskan lewat variasi respons sistem GABA.”

Para peneliti memakai spektroskopi resonansi magnetik untuk mengukur langsung tingkat GABA di otak baik sebelum dan sesudah arus rendah dikirim lewat kulit kepala partisipan penelitian. Prosedur tersebut, yang disebut  anodal transcranial direct current stimulation (tDCS), diketahui menghasilkan penurunan GABA dalam korteks motorik. Latihan memungkinkan para peneliti mengkuantifikasi level GABA dasar individual dan respon GABA mereka.

 Pada hari yang terpisah, individu-individu tersebut diminta mempelajari sederetan gerakan jari sambil otak mereka dipindai kembali dengan  functional magnetic resonance imaging (fMRI). Ternyata mereka yang lebih responsif GABA juga lebih cepat belajar tugas motorik sederhana. Otak individu yang lebih responsif GABA juga menunjukkan aktivitas besar di korteks motorik saat belajar. Para peneliti juga menemukan kalau mereka dengan konsentrasi GABA tinggi pada level dasar cenderung memiliki waktu reaksi lebih lambat dan aktivitas otak lebih sedikit saat belajar.

 Temuan ini menyarankan kalau responsivitas GABA adalah kunci dalam korteks motorik untuk membuat hubungan syaraf yang menjadi basis seluler belajar dan mengingat, kata para peneliti. Mereka menawarkan jendela penting dalam memulihkan pasca cedera otak, seperti stroke.

 Tingkat GABA dapat berubah setelah sejenis trauma otak, dan temuan ini mendukung gagasan kalau perawatan yang dirancang untuk mempengaruhi tingkat GABA dapat meningkatkan kemampuan belajar. Faktanya, tDCS telah dipakai sebagai alat untuk rehabilitasi motorik pasien stroke.

 “Ini menunjukkan bagaimana itu dapat bekerja,” kata Stagg. Ia juga dapat membawa pada strategi untuk membuat peningkatan tersebut berjangka panjang, tambahnya

Sumber berita:

Cell Press,

Referensi jurnal:

Charlotte J. Stagg, Velicia Bachtiar, Heidi Johansen-Berg. The Role of GABA in Human Motor Learning. Current Biology, 03 March 2011 DOI: 10.1016/j.cub.2011.01.069

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.