Bermasalah Dengan Gerakan Tarian? GABA yang Bertanggung Jawab
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Rabu, 4 Juli 2012 - Jika anda cenderung bermasalah meniru gerakan tari atau belajar memainkan nada piano baru, telah ada penjelasannya.
Duta kimiawinya, dikenal sebagai GABA, penting untuk plastisitas korteks motorik, sebuah daerah otak yang terlibat dalam perencanaan, pengendalian, dan eksekusi gerakan sadar.
“Ada keragaman dalam perilaku belajar motorik antar individu,” kata Charlotte Stagg dari Universitas Oxford. “Kami mencoba menguji apakah keragaman ini dapat dijelaskan lewat variasi respons sistem GABA.”
Para peneliti memakai spektroskopi resonansi magnetik untuk mengukur langsung tingkat GABA di otak baik sebelum dan sesudah arus rendah dikirim lewat kulit kepala partisipan penelitian. Prosedur tersebut, yang disebut anodal transcranial direct current stimulation (tDCS), diketahui menghasilkan penurunan GABA dalam korteks motorik. Latihan memungkinkan para peneliti mengkuantifikasi level GABA dasar individual dan respon GABA mereka.
Pada hari yang terpisah, individu-individu tersebut diminta mempelajari sederetan gerakan jari sambil otak mereka dipindai kembali dengan functional magnetic resonance imaging (fMRI). Ternyata mereka yang lebih responsif GABA juga lebih cepat belajar tugas motorik sederhana. Otak individu yang lebih responsif GABA juga menunjukkan aktivitas besar di korteks motorik saat belajar. Para peneliti juga menemukan kalau mereka dengan konsentrasi GABA tinggi pada level dasar cenderung memiliki waktu reaksi lebih lambat dan aktivitas otak lebih sedikit saat belajar.
Temuan ini menyarankan kalau responsivitas GABA adalah kunci dalam korteks motorik untuk membuat hubungan syaraf yang menjadi basis seluler belajar dan mengingat, kata para peneliti. Mereka menawarkan jendela penting dalam memulihkan pasca cedera otak, seperti stroke.
Tingkat GABA dapat berubah setelah sejenis trauma otak, dan temuan ini mendukung gagasan kalau perawatan yang dirancang untuk mempengaruhi tingkat GABA dapat meningkatkan kemampuan belajar. Faktanya, tDCS telah dipakai sebagai alat untuk rehabilitasi motorik pasien stroke.
“Ini menunjukkan bagaimana itu dapat bekerja,” kata Stagg. Ia juga dapat membawa pada strategi untuk membuat peningkatan tersebut berjangka panjang, tambahnya
Sumber berita:
Referensi jurnal:
Charlotte J. Stagg, Velicia Bachtiar, Heidi Johansen-Berg. The Role of GABA in Human Motor Learning. Current Biology, 03 March 2011 DOI: 10.1016/j.cub.2011.01.069
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
