Diposting Minggu, 24 Juni 2012 jam 7:47 pm oleh Evy Siscawati

Ilmuan Berhasil Memblokir Agresivitas Berlebih pada Tikus Lab

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 24 Juni 2012 -


Dalam sebuah studi yang muncul tanggal 19 Juni di  The Journal of Neuroscience, para peneliti dari USC dan Italia menemukan faktor neurologis kritis dalam agresi: sebuah reseptor otak yang mengalami malfungsi dalam tikus pemarah berlebih. Ketika para peneliti mematikan reseptor otak ini, yang juga ada pada manusia, agresi berlebih tersebut lenyap.

 Temuannya merupakan terobosan penting dalam mengembangkan target obat untuk agresi patologis, komponen dalam penyakit Alzheimer, autisme, gangguan bipolar, dan schizofrenia, serta gangguan psikologis lainnya.

 “Dari sudut pandang klinis dan sosial, agresi reaktif sepenuhnya masalah besar,” kata Marco Bortolato, pengarang studi dan asisten profesor penelitian farmakologi dan ilmu farmasi di Sekolah Farmasi USC. “Kami ingin mencari alat yang mampu mengurangi kekerasan impulsif tikus.”

 Sejumlah besar penelitian independen, termasuk penelitian sebelumnya oleh Bortolato dan pengarang lainnya Jean Shih, profesor farmakologi dan ilmu farmasi USC menemukan predisposisi genetik spesifik untuk agresi patologis: rendahnya tingkat enzim monoamin oksidase A (MAO A). Baik pria manusia maupun jantan tikus dengan definisensi enzim ini merespon secara kasar pada stress.

 “Tipe mutasi yang sama yang kami pelajari pada tikus berasosiasi dengan perilaku kriminal yang sangat kasar pada manusia,” kata Bortolato. “Namun kami tidak benar-benar tahu mengapa seperti itu.”

Bortolato dan Shih bekerja mundur untuk mereplikasi elemen dalam agresi patologis manusia pada tikus, termasuk bukan hanya level enzim yang rendah namun juga interaksi genetik dengan peristiwa stress awal, seperti trauma atau pengabaian saat kecil.

 “Rendahnya level MAO A adalah salah satu basis predisposisi agresi manusia. Yang lain adalah perjumpaan dengan perlakuan salah, dan kombinasi kedua faktor ini tampaknya mematikan: ia dapat menyebabkan kekerasan yang konsisten pada orang dewasa,” kata Bortolato.

 Para peneliti menunjukkan kalau pada pengerat yang agresif berlebih yang rendah level MAO A, level rangsangan listrik tinggi dibutuhkan untuk mengaktivasi reseptor otak tertentu di korteks pre frontal. Bahkan ketika reseptor otak ini tidak bekerja, ia tetap aktif hanya dalam periode waktu singkat.

 “Fakta kalau memblokir reseptor ini menghambat agresilah mengapa penemuan ini berpotensi besar. Ia mungkin punya penerapan penting dalam terapi,” kata Bortolato. “Apapun cara lingkungan dapat secara persisten mempengaruhi perilaku – dan bahkan kepribadian dalam jangka panjang – perilaku pada akhirnya didukung oleh mekanisme biologis.”

 Yang lebih penting, reseptor agresi, yang disebut NMDA, juga diduga berperan penting dalam membantu kita memahami aliran jamak yang bertumpuk dari informasi inderawi, menurut Bortolato.

 Para peneliti sekarang mempelajari efek samping potensial dari obat yang mengurangi aktivitas reseptor ini.

 “Perilaku agresif ditemukan memiliki dampak sosio-ekonomi besar, namun strategi saat ini untuk mengurangi perilaku berbahaya ini sangat tidak memuaskan,” kata Bortolato. “Tantangan kami sekarang adalah memahami alat farmakologis apa dan resimen terapi apa yang harus diberikan untuk menstabilitkan defisit reseptor ini. Bila kami dapat mengaturnya, ini merupakan penemuan yang sangat penting.”

 Sean Godar, seorang ilmuan pasca doktoral di Jurusan Farmakologi dan Ilmu Farmasi Sekolah Farmasi, adalah pengarang lain studi ini. Kevin Chen, seorang asisten profesor penelitian Sekolah Farmasi juga menjadi pengarang.

 Penelitian ini didanai oleh   National Institute of Mental Health of the National Institutes of Health dalam dana nomor R01MH39085, National Institute of Child Health and Human Development of the National Institutes of Health dalam dana nomor R21HD070611, Boyd and Elsie Welin Professorship oleh Shih dan USC Zumberge Research Individual Grant pada Bortolato.

Sumber berita:

 University of Southern California.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.