Diposting Minggu, 24 Juni 2012 jam 7:36 pm oleh Evy Siscawati

Berkuasa Tidak Selalu Memperkuat Kepribadian

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 24 Juni 2012 -


Temuan ini hadir dalam Psychological Science, sebuah jurnal Asosiasi Ilmu Psikologi.

Penelitian menunjukkan kalau disposisi – kecenderungan bertindak dan berpikir dengan cara tertentu – dapat ditekan oleh respon orang lain, termasuk orang yang jarang. Namun apakah orang berkuasa, yang biasanya memiliki kontrol, tetap pada senjata disposisi? Dalam tiga eksperimen, partisipan diberikan peran berkuasa – sebagai manajer dan karyawan, sebagai pelaksana atau penasehat kebijakan universita – lalu diberi tugas menguji apakah sifat kebiasaan mereka diatur.

 Dalam eksperimen pertama, partisipan diuji untuk menuliskan sifat yang mereka pandang penting dan yang jauh dari kesadaran mereka. Partisipan dengan kecenderungan kuat untuk melihat orang lain sebagai orang yang kasar, jujur, atau supel kemudian bermain sebuah permainan kata. Bagi separuh mereka, permainan mengandung kata-kata netral seperti kertas dan papan, bagi yang lain, kata-kata permainan memunculkan konter-disposisi – karakteristik yang tidak secara normal mereka pertimbangkan. Kata-kata tersebut juga relevan dengan tugas selanjutnya: menilai orang dengan kalimat deskriptif. Sebagai contoh: “ketika Donald bertemu temannya, ia memberitahunya kalau ia cukup bau.” Apakah ia jujur atau kasar? Pemegang kekuasaan netral menilai orang lain lebih kuat dalam cara tipikal mereka. Namun ketika deskripsi mereka diluar pemikiran biasa mereka, penguasa justru memilih itu. Persepsi orang dengan kekuasaan rendah tetap konstan.

Dalam eksperimen lain, partisipan menuliskan sumbangan yang mereka sukai. Seminggu kemudian mereka memilih kepada siapa mereka menyumbang, baik pada sehelai kertas atau dari sebuah daftar. Pada kertas kosong, kekuasaan meningkatkan kemungkinan memilih sumbangan favorit. Ketika diberi daftar, orang berkuasa memilih organisasi lain; orang yang tidak berkuasa tidak berubah. Eksperimen ketiga melibatkan orang dengan disposisi egois atau kooperatif menyebarkan token bernilai pada diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam kondisi netral, pemegang kekuasaan yang egois menguasai token, orang yang sosial berbagi. Ketika didorong bertindak berbeda, ini tidak lagi jadi kasusnya.

Guinote menjelaskan: “Penguasa harus membuat keputusan cepat dan merespon pada kesempatan, jadi sering mereka menggunakan proses kognitif otomatis.” Penguasa lebih kuat menunjukkan karakter mereka, namun mereka juga rentan manipulasi lingkungan – jauh lebih kuat dari orang yang tidak berkuasa, yang bertindak biasa dan kurang ekstrim namun pilihannya lebih konsisten.

 Implikasinya? “Budaya organisasi dan norma sosial memiliki kekuasaan besar pada pemegang kekuasaan.” Namun tidak perlu manipulasi Orwellian. “Cukup membiarkan kebudayaan ada di sekitar mereka atau tugas untuk melakukan sesuatu yang meminta perilaku yang diinginkan.” Kebudayaan dapat memunculkan kerjasama atau otoritarianisme, sosiabilitas, atau keserakahan pada orang yang membangun kekuasaan dan pengaruh.

Sumber berita:

Association for Psychological Science.

Referensi jurnal:

Guinote, A., Weick, M., & Cai, A. Does Power Magnify the Expression of Dispositions? Psychological Science, 2012 (in press)

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.