Berkuasa Tidak Selalu Memperkuat Kepribadian
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Minggu, 24 Juni 2012 - “Jika anda ingin mengetahui karakter seseorang, beri ia kekuasaan” kata Abraham Lincoln. Ini adalah sebuah truisme kalau kekuasaan memperkuat kepribadian – tapi apakah ini benar? Sebuah studi baru mengatakan tidak. “Sebelumnya, orang berpikir kalau disposisi berkaitan dengan keinginan; ia dikendalikan umumnya secara internal” kata psikologi University College London, Ana Guinote, yang melakukan studinya bersama dengan Mario Weick dan Universitas Kent dan mahasiswa doctoral Alice Cai. “Temuan kami menunjukkan kalau lingkungan berperan penting dalam memicu disposisi atau perilaku konter-disposisi pada orang yang berkuasa.”
Temuan ini hadir dalam Psychological Science, sebuah jurnal Asosiasi Ilmu Psikologi.
Penelitian menunjukkan kalau disposisi – kecenderungan bertindak dan berpikir dengan cara tertentu – dapat ditekan oleh respon orang lain, termasuk orang yang jarang. Namun apakah orang berkuasa, yang biasanya memiliki kontrol, tetap pada senjata disposisi? Dalam tiga eksperimen, partisipan diberikan peran berkuasa – sebagai manajer dan karyawan, sebagai pelaksana atau penasehat kebijakan universita – lalu diberi tugas menguji apakah sifat kebiasaan mereka diatur.
Dalam eksperimen pertama, partisipan diuji untuk menuliskan sifat yang mereka pandang penting dan yang jauh dari kesadaran mereka. Partisipan dengan kecenderungan kuat untuk melihat orang lain sebagai orang yang kasar, jujur, atau supel kemudian bermain sebuah permainan kata. Bagi separuh mereka, permainan mengandung kata-kata netral seperti kertas dan papan, bagi yang lain, kata-kata permainan memunculkan konter-disposisi – karakteristik yang tidak secara normal mereka pertimbangkan. Kata-kata tersebut juga relevan dengan tugas selanjutnya: menilai orang dengan kalimat deskriptif. Sebagai contoh: “ketika Donald bertemu temannya, ia memberitahunya kalau ia cukup bau.” Apakah ia jujur atau kasar? Pemegang kekuasaan netral menilai orang lain lebih kuat dalam cara tipikal mereka. Namun ketika deskripsi mereka diluar pemikiran biasa mereka, penguasa justru memilih itu. Persepsi orang dengan kekuasaan rendah tetap konstan.
Dalam eksperimen lain, partisipan menuliskan sumbangan yang mereka sukai. Seminggu kemudian mereka memilih kepada siapa mereka menyumbang, baik pada sehelai kertas atau dari sebuah daftar. Pada kertas kosong, kekuasaan meningkatkan kemungkinan memilih sumbangan favorit. Ketika diberi daftar, orang berkuasa memilih organisasi lain; orang yang tidak berkuasa tidak berubah. Eksperimen ketiga melibatkan orang dengan disposisi egois atau kooperatif menyebarkan token bernilai pada diri mereka sendiri dan orang lain. Dalam kondisi netral, pemegang kekuasaan yang egois menguasai token, orang yang sosial berbagi. Ketika didorong bertindak berbeda, ini tidak lagi jadi kasusnya.
Guinote menjelaskan: “Penguasa harus membuat keputusan cepat dan merespon pada kesempatan, jadi sering mereka menggunakan proses kognitif otomatis.” Penguasa lebih kuat menunjukkan karakter mereka, namun mereka juga rentan manipulasi lingkungan – jauh lebih kuat dari orang yang tidak berkuasa, yang bertindak biasa dan kurang ekstrim namun pilihannya lebih konsisten.
Implikasinya? “Budaya organisasi dan norma sosial memiliki kekuasaan besar pada pemegang kekuasaan.” Namun tidak perlu manipulasi Orwellian. “Cukup membiarkan kebudayaan ada di sekitar mereka atau tugas untuk melakukan sesuatu yang meminta perilaku yang diinginkan.” Kebudayaan dapat memunculkan kerjasama atau otoritarianisme, sosiabilitas, atau keserakahan pada orang yang membangun kekuasaan dan pengaruh.
Sumber berita:
Association for Psychological Science.
Referensi jurnal:
Guinote, A., Weick, M., & Cai, A. Does Power Magnify the Expression of Dispositions? Psychological Science, 2012 (in press)
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
