Diposting Rabu, 13 Juni 2012 jam 8:16 pm oleh Evy Siscawati

Simpanse Memakai Metode Inovatif untuk Menipu Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Juni 2012 -


 Studi ini, yang dilakukan di Universitas Lund, diterbitkan dalam PloS ONE.

Studi terbaru ini melihat kemampuan simpanse untuk melakukan perencanaan kompleks. Studi kasus menunjukkan kalau kerabat terdekat manusia dalam kerajaan hewan ini tampaknya mampu merencanakan untuk menipu orang lain, dan kalau mereka dapat merencanakan penipuan ini secara inovatif. Perilaku simpanse Santino merupakan hal khusus karena dilakukan ketika manusia yang akan ditipu tidak terlihat. Itu artinya simpanse dapat merencanakan tanpa memperoleh umpan balik perseptual seketika atas tujuannya – pengunjung kebun binatang – untuk membantu perencanaannya.

Subjek studi ini adalah Santino sang simpanse, yang terkenal secara internasional tahun 2009 atas kebiasaannya mengumpulkan batu dan membuat proyektil untuk melempar pengunjung dari keamanan kandangnya di Kebun Binatang Furuvik di utara Stockholm. Perilakunya dilaporkan sebagai contoh perencanaan spontan peristiwa masa depan, di mana keadaan psikologis tampak berbeda dari perilaku agresifnya. Sebelumnya, kemampuan kognitif demikian telah lama diyakini hanya terbatas pada manusia.

 Studi terbaru ini mencoba mengumpulkan data yang lebih detail mengenai perilaku pelemparan proyektil Santino selama tahun 2010.

 Dalam studi ini, simpanse meneruskan dan memperluas perilaku sebelumnya dengan menangkap proyektil untuk kembali dipakai dalam pelemparan. Perilaku baru ini melibatkan penggunaan pelindung yang inovatif: baik yang alami maupun dibuat. Semua berada di dekat daerah pengunjung. Hal ini memungkinkan Santino melempar pelurunya sebelum para pengunjung punya kesempatan untuk menghindar.

 Persembunyian jerami pertama dibuat setelah pemandu kebun binatang terus melindungi pengunjung ketika simpanse mencoba melempari mereka. Semua persembunyian dibuat ketika para pengunjung tidak terlihat, dan peluru tersembunyi digunakan ketika mereka kembali. Untuk membuat persembunyian jerami, simpanse membawa jerami dari dalam sarangnya. Sepanjang waktu, para peneliti mengamati kalau pemakaian persembunyian menjadi strategi yang dipilih simpanse ini. Lebih jauh, Santino mengkombinasikan dua strategi penipuan secara konsisten: menyembunyikan peluru dan tidak menunjukkan perilaku dominasi sebelum melempar pelurunya.

 Temuan baru ini menunjukkan kalau simpanse mampu menunjukkan perilaku masa depan sementara individu lain tidak ada. Juga penting kalau perilaku awal simpanse menghasilkan peristiwa masa depan, bukannya semata bersiap untuk yang telah terjadi sebelumnya. Ini pada gilirannya menunjukkan kemampuan perencanaan yang fleksibel dimana, pada manusia, bertopang pada rekombinasi ingatan secara kreatif secara mental dengan skenario masa depan “jika-maka”.

 Para pengarang studi ini adalah Mathias Osvath dari Jurusan Ilmu Kognitif Universitas Lund, dan Elin Korvanen, dari Stasiun Penelitian Primata Universitas ini. Artikel mereka berjudul  ‘Spontaneous innovation for future deception in a male chimpanzee’ dan telah tampil dalam jurnal PloS One, diterbitkan oleh   Public Library of Science.

Sumber berita:

 Lund University

Referensi jurnal:

Mathias Osvath, Elin Karvonen. Spontaneous Innovation for Future Deception in a Male Chimpanzee. PLoS ONE, 2012; 7 (5): e36782 DOI: 10.1371/journal.pone.0036782

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.