Diposting Rabu, 13 Juni 2012 jam 8:16 pm oleh Evy Siscawati

Perkembangan Aku Ontologik, Aku Fungsional, dan Aku Mitik pada Manusia

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Juni 2012 -


Dalam relasinya dengan dunia luar, manusia membentuk sejumlah kategori eksistensial yaitu kata ganti individual dan kolektif. Kata ganti individual termasuklah aku, kamu, dan dia. Sementara kata ganti kolektif mencakup kita, kami, kalian, dan mereka. Tulisan ini merujuk pada aku, yaitu salah satu kata ganti individual yang merujuk individu manusia pada dirinya sendiri, sesuatu yang sering di istilahkan sebagai manusia sebagai subjek.

Dalam teori kebudayaan, aku memiliki tiga dimensi yaitu ontologik, fungsional, dan mitik. Ketiga dimensi ini dibedakan berdasarkan suatu kata kerja yaitu menempatkan, menyeimbangkan, dan menyatukan. Ontologik tidak lain adalah bagaimana manusia menempatkan dirinya terhadap objek, fungsional merupakan bagaimana manusia menyeimbangkan dirinya  dengan objek, dan mitik merupakan bagaimana manusia menyatukan dirinya dengan objek.

Tulisan ini lebih berfokus pada aku ontologik. Sebagai sebuah dimensi, aku ontologik bukan sebuah fase dalam evolusi ataupun siklus, namun sebuah bagian dari perilaku manusia terhadap dunia luar. Setiap fenomena memiliki derajat ke akuan ontologik yang berbeda, begitu juga derajat dari fungsional ataupun mitik.

Aku ontologik dicirikan oleh perilaku mengambil jarak, meneliti, dan menguasai sesuatu objek, termasuk dirinya sendiri. Ia dapat dikatakan bersumber pada daya cipta individu secara sistematik yang bentuk tercanggihnya mewujud dalam perilaku saintifik manusia.

Aku ontologik telah dapat diamati pada masa bayi. Beberapa bulan setelah lahir, bayi manusia telah mampu membedakan antara dirinya dan orang lain. Dapat diargumenkan, walau begitu, aku mitik adalah yang pertama muncul pada diri bayi. Begitu lahir bayi masih menganggap manusia lain seperti orang tuanya merupakan bagian dari dirinya sendiri. Tetapi aku ontologik sebenarnya telah hadir juga pada masa ini. Walaupun bayi menganggap orang tuanya sebagai bagian dari dirinya, ia menganggap benda-benda lain sebagai sesuatu di luar dirinya. Disini objek dimaknai sepenuhnya sebagai “bukan manusia”.

Lewat pembelajaran yang cepat disertai kemampuan biologis yang juga semakin terkoordinir, bayi mulai memisahkan antara dirinya dan orang tuanya. Disinilah manusia mulai memisahkan orang lain sebagai objek dan saya sebagai subjek. Sebagian orang tua bahkan sering menilai bayi sebagai mahluk egois yang menuntut segalanya dari orang tuanya. Lebih jauh, hal ini dapat diamati pada bayi autis dimana sang bayi sepenuhnya tidak mampu membedakan manusia dengan alat.

Kesadaran bahwa aku sebagai individu dapat pula berperan sebagai objek tercapai jauh ketika anak manusia mulai mampu berpikir. Hal ini tercapai kurang lebih pada usia satu hingga dua tahun. Karenanya, secara perkembangan, dapat diargumenkan kalau manusia diawali dari memisahkan manusia dengan alat, memisahkan diri dengan orang lain, dan akhirnya memisahkan diri subjek dengan diri objek. Ini tercermin misalnya dari proses mimpi atau berimajinasi. Dalam mimpi, manusia pemimpi adalah subjek dan manusia-manusia dalam mimpinya adalah objek. Begitu juga, dalam berimajinasi, orang yang berimajinasi adalah subjek sementara dirinya yang diimajinasikan, katakanlah dirinya yang kaya raya, adalah objek.

Di usia sekitar satu tahun, barulah manusia mempelajari bagaimana memanipulasi benda. Disini dapat dikatakan manusia telah mencapai aku fungsional. Ia bermain dengan benda-benda. Menyentuh benda dengan segenap inderanya sambil merangkak. Sering kali orang tua ketakutan melihat anaknya memasukkan barang ke dalam mulutnya tanpa takut.

Setelah berusia balita, manusia bukan hanya memanipulasi benda tak hidup, namun juga memanipulasi manusia. Dalam usia ini, balita telah memasuki fase sosial dimana ia bergaul dengan individu-individu lain. Proses manipulasi berjalan lewat kemampuan berbahasa, dan lebih lanjut dalam kemampuan menulis. Semua usaha komunikasi yang dilakukan manusia dengan manusia lain dapat dimaknai sebagai usaha manipulasi individu lain sebagai objek dan karenanya merupakan penerapan aku fungsional. Kenapa dikatakan fungsional? Karena individu lain tersebut juga memberikan berbagai pengaruh dalam bentuk umpan balik, entah itu respon bicara atau respon emosional. Ingat kalau fungsional mencakup isu keseimbangan. Disini terjadi keseimbangan akibat dua dorongan, satu pengaruh dari aku, dan satu pengaruh dari mereka. Adanya aku fungsional inilah yang mengkendalai positivisme berkembang dalam ilmu sosial. Interaksi yang ada terlalu kompleks dan masih diluar piranti positivisme untuk menjangkaunya.

Aku fungsional pada gilirannya mampu memanipulasi aku objek sehingga membentuk keseimbangan aku subjek-aku objek. Ini terwujud pada masa baligh ketika manusia harus menyesuaikan dirinya dengan norma-norma sosial di masyarakat. Di satu sisi, ada dorongan dari dirinya untuk melakukan sesuatu, katakanlah telanjang. Di sisi lain, ada dorongan juga dari dirinya untuk tidak melakukan sesuatu tersebut, katakanlah untuk berpakaian. Jadi keseimbangan antara dua dorongan ini mewujud pada tidak telanjang. Ini bukan berarti condong ke arah norma sosial, namun seimbang dalam artian norma sosial tersebut pada dasarnya telah tertanam pada diri individu sejak kecil sehingga mewujud pada rasa malu. Aku fungsional juga dapat dilihat dari perilaku berpuasa dan berbagai usaha menahan diri lainnya.

Dimensi terakhir yang muncul pada diri manusia adalah dimensi mitik. Baru ketika manusia dewasa ia dapat membaca dan menulis. Proses membaca dan menulis dapat dimaknai sebagai aku mitik karena dari sekian fungsi yang ada, satu fungsi merupakan indikasi dimensi mitik, kerinduan manusia akan alam. Adanya indikasi ini ditunjukkan oleh keinginan manusia untuk mengetahui segalanya. Sains rindu akan teori segalanya, seorang ilmuan rindu akan pengetahuan atas misteri jagad raya, dan seorang mistikus rindu akan pengetahuan segalanya. Mereka merasakan adanya kesatuan dengan dunia luar.

Proses membaca ini secara umum diawali dari semata membaca hal-hal yang terkait dengan lingkungannya di masa kanak-kanak. Hal ini berlanjut dengan membaca segalanya sehingga seseorang menjadi generalis (omniheuristikawan) sebagaimana ditekankan sistem pendidikan. Setelah dewasa mereka menjadi spesialis seperti ilmuan atau tetap generalis seperti filsuf atau mistikus.

Aku mitik paling jelas dalam perilaku skeptik manusia. Manusia skeptik atas hal-hal yang tidak masuk akalnya atau bertentangan dengan pengetahuannya. Mereka ingin menjadi maha tahu. Saya ragu kalau manusia ingin maha tahu karena ingin memanipulasi (aku fungsional) atau karena ingin keluar dari alam ini (aku ontologik). Saya rasa manusia ingin tahu karena memang mereka ingin mengembalikan segalanya ke dalam dirinya, sebuah ciri dari dimensi mitik yang bermakna penyatuan.

Jadi, berdasarkan kajian psikologi perkembangan dan literatur teoritis mengenai teori budaya, dapat disimpulkan kalau manusia dewasa memiliki dimensi ontologis, fungsional, dan mitik. Ketiga dimensi ini, walaupun hampir selalu ada, namun muncul dalam waktu berbeda dalam hidup manusia. Pada awalnya manusia memunculkan dimensi ontologis, kemudian fungsional, dan akhirnya dimensi mitik. Kita berasal dari alam, tapi begitu eksis, kita tidak menyadari itu, baru kemudian akhirnya kita rindu akan hal ini kembali. Karenanya, dapat pula dirumuskan sebuah prinsip moral ilmiah: sains semestinya semakin mendekatkan diri kita pada alam, bukannya menjauhkan kita. Al Qur’an mungkin merupakan sebuah kitab mitik. Ia tidak diawali oleh perintah sembahlah Aku (ontologis) atau sebarkanlah Islam (fungsional). Ia diawali dengan perintah membaca.

Periode perkembangan dimensi-dimensi aku dapat diilustrasikan dalam gambar berikut.

 Aku ontologikAku fungsionalAku mitik
Dewasa  Ilmuan/mistikus
Aqil baligh Manipulasi diriOmniheuristikawan
Anak-anak  Membaca
Balita Manipulasi manusia 
Satu tahunAku subjek dan aku objekManipulasi benda 
Beberapa bulanAku dan manusia lain  
LahirManusia dan benda  
Pra lahir  Menyatu?

Sumber: dikembangkan untuk tulisan ini

Referensi:

Gopnik, A. Meltzoff, A.N., Kuhl, P.K. The Scientist in the Crib: What Early Learning Tells Us About the Mind. Terjemahan (Keajaiban Otak Anak: Rahasia Cara Anak Balita Mempelajari Benda, Bahasa, dan Manusia). Kaifa. 2007

Noerhadi, Toeti Heraty. Aku Dalam Budaya. Disertasi Doktor Dalam Ilmu Sastra Jurusan Filsafat. Universitas Indonesia. 1979

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.