Diposting Rabu, 13 Juni 2012 jam 7:55 pm oleh Evy Siscawati

Ketika Anak Prasekolah Bertanya Tentang Sains Mereka Beresiko Ditinggalkan dalam Kesulitan oleh Gurunya

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Juni 2012 -


 Dalam tesisnya, Susanne Thulin memeriksa cara guru dan anak berkomunikasi di sekitar pertanyaan sains dalam pendidikan anak usia dini. Studinya mencakup pengamatan video anak dan guru di pra sekolah bekerja dalam sebuah subjek ilmiah dalam dua bidang tema, “Hidup di tunggul pohon,” dan “Bagaimana tanah terbentuk.”

 Hasilnya menunjukkan kalau anak beresiko kehilangan muatan ilmiah. Pertanyaan anak sering sejalan dengan pertanyaan dari guru. Langka ditemukan anak yang memperoleh jawaban atau belajar dari pengetahuan dan pengalaman guru dalam bidang pertanyaan. Guru juga yang memperkenalkan pemakaian bahasa, misalnya bahasa antropomorfik dimana hewan dihumanisasi.

 Penjelasan acak

 “Anak ingin memahami dunia namun mereka beresiko ditinggalkan untuk memunculkan penjelasannya sendiri yang acak,” kata Susanne Thulin. Ia menemukan beberapa alasan yang mungkin. “Pertama mungkin guru sesungguhnya tidak mampu menjawab pertanyaan anak. Kedua mungkin ini ada hubungannya dengan pandangan tradisional mengenai peran pra sekolah di Swedia. Pandangan ini menekankan pada perawatan dan permainan anak, bukannya belajar. Menurut pendekatan ini, guru tidak boleh preskriptif dan memberi tahu anak apapun. Anak diharapkan berpikir sendiri dan menemukannya sendiri,” kata Susanne Thulin.

Perkuat peran pengetahuan 

Peran pra sekolah telah berubah. Kurikulum pra sekolah pertama muncul tahun 1998, memberikan pra sekolah peran yang lebih besar dalam sistem pendidikan. Peran pengetahuan diperkuat dari pra sekolah baru saja ditekankan lebih jauh dalam kurikulum hasil revisi, yang diterapkan tanggal 1 Juli 2011. Dalam mata pelajaran sains, muatan khusus seperti kimia, fenomena fisika, dan teknologi sekarang diajarkan pada lingkungan pendidikan anak usia dini, selain biologi, ekologi, dan lingkungan.

“Namun jika kita ingin mendorong nafsu anak untuk belajar maka guru perlu memiliki kemampuan menciptakan hubungan antara pengalaman sehari-hari anak, bahasa sehari-hari mereka di satu sisi dan bahasa ilmiah dan pendekatan ilmiah di sisi lain. Muatannya harus terlihat oleh anak. Ini artinya ketika anak bertanya, selidiki untuk menemukan jawabannya dan beri kesempatan untuk membahas hasilnya. Hal ini membutuhkan inklinasi, keberanian, dan skill bagi guru pra sekolah,” kata  Susanne Thulin.

Tesisnya dikembangkan dalam kerangka National Research School of Childhood, Learning and Didactics (RSCLD).

Sumber berita:

 University of Gothenburg.

Referensi tesis:

Susanne Thulin . 2011.Teacher talk and children’s queries: Communication about natural science in early childhood education. University of Gothenburg.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.