Diposting Rabu, 13 Juni 2012 jam 8:05 pm oleh Evy Siscawati

Astronom Menemukan Badai Pasir di Antariksa

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 13 Juni 2012 -


 Ditulis di Nature, tim peneliti memakai teknik baru yang memungkinkan mereka melihat atmosfer bintang jauh yang sekarat.

 Tim yang dipimpin Barnaby Norris dari Universitas Sydney Australia, memuat para ilmuan dari Universitas Manchaster, Paris-Diderot, Oxford, dan Macquaeri, New South Wales. Mereka memakai Very Large Telescope di Chili yang dioperasikan oleh Observatorium Selatan Eropa.

 Pada resolusi yang dipakai para ilmuan, seseorang dapat dari Inggris, membedakan dua sinar lampu di sebuah mobil di Australia. Resolusi ekstrim ini memungkinkan untuk melihat bintang-bintang raksasa merah dan melihat angin gas dan debu yang keluar dari bintang.

Bintang seperti Matahari mengakhiri hidupnya dengan sebuah angin super, 100 juta kali lebih kuat dari angin surya. Angin ini terjadi dalam periode 10 ribu tahun, dan membuang sampai separuh massa bintang. Pada akhirnya, hanya sebuah sisa sekarat dan kabur dari bintang yang tersisa. Matahari akan mulai melontarkan gas-gas ini dalam sekitar lima miliar tahun ke depan.

 Penyebab angin super ini masih berupa misteri. Para ilmuan berasumsi kalau mereka dikendalikan oleh butiran debu kecil, yang terbentuk di atmosfer bintang dan menyerap sinarnya. Cahaya bintang mendorong butiran debu (silikat) menjauh dari bintang.

 Walau begitu, model-model telah menunjukkan kalau mekanisme ini tidak bekerja baik. Butiran debu menjadi terlalu panas dan menguap sebelum dapat didorong.

 Para ilmuan sekarang menemukan kalau butirannya tumbuh ke ukuran jauh lebih besar dari pada diduga sebelumnya. Para ilmuan menemukan ukurannya hampir satu micron – sekecil debu, namun besar bagi angin bintang.

 Butiran seukuran ini berperilaku seperti cermin dan memantulkan sinar bintang, bukannya menyerapnya. Hal ini membuat butiran menjadi dingin, dan sinar bintang dapat mendorongnya tanpa menghancurkannya. Ini mungkin solusi dari misteri angin super.

 Butiran besar didorong oleh cahaya bintang pada kecepatan 10 kilometer per detik, atau 36 ribu kilometer per jam – kecepatan sebuah roket. Efeknya sama dengan badai pasir. Dibandingkan dengan butiran pasir, silikat dalam angin bintang masih lebih kecil.

 Professor Albert Zijlstra, dari Observatorium Jodrell Bank Universitas Manchester, mengatakan kalau terobosan ini mengubah pandangan kita mengenai angin super ini. Untuk pertama kalinya, kami mulai memahami bagaimana angin super bekerja dan bagaimana bintang (termasuk matahari kita di masa depan) mati.

 Beliau menambahkan: “Debu dan pasir dalam angin super akan selamat dan menjadi awan di antariksa dimana bintang-bintang baru akan terbentuk. Butiran pasir pada saat itu menjadi balok bangunan planet. Bumi kita sendiri terbentuk dari debu bintang. Kita sekarang selangkah lebih jauh dalam memahami siklus hidup dan mati.

Sumber berita:

Manchester University

Referensi jurnal:

Barnaby R. M. Norris, Peter G. Tuthill, Michael J. Ireland, Sylvestre Lacour, Albert A. Zijlstra, Foteini Lykou, Thomas M. Evans, Paul Stewart, Timothy R. Bedding. A close halo of large transparent grains around extreme red giant stars. Nature, 2012; 484 (7393): 220 DOI: 10.1038/nature10935

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.