Diposting Rabu, 23 Mei 2012 jam 11:47 am oleh Evy Siscawati

Produk Simbolik Budaya: Maukah Engkau Membeli Pembuat Kapucino Sony?

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 23 Mei 2012 -


“Banyak merek terkenal menjadi simbol atau ikon budaya atau negara yang berasosiasi dengannya,” tulis pengarang Carlos J. Torelli dan Rohini Ahluwalia (keduanya dari Universitas Minnesota). Contoh merek simbolik budaya mencakup Budweiser (Amerika), Sony (Jepang), atau Corona (Meksiko). Para peneliti melihat apa yang terjadi ketika sebuah mereka simbolik budaya memperluas jalur produknya dengan menciptakan produk baru.

Para pengarang brefokus pada sebuah deliberasi konsumen yang berbasis kongruitas budaya – keluasan dimana sebuah merek dan produknya secara otomatis mengingatkan pengetahuan mengenai suatu budaya. “Proses ini bekerja independen dari persepsi konsumen mengenai kesesuaian asosiasi merek dan atribut produk, atau pemikiran mereka mengenai keahlian manufaktur merek karena asosiasi asal-usul negaranya, dan dapat mempengaruhi evaluasi ekstensi secara independen dari faktor-faktor ini,” jelas para peneliti.

 Singkatnya, ketika sebuah merek diasosiasikan dengan sebuah budaya sesuai dengan pemahaman pribadi mengenai kebudayaan (skema kebudayaan), konsumen memiliki pengolahan waktu yang lebih mudah dan karenanya menerima produk baru.

 Para peneliti menemukan kalau partisipan memiliki perasaan positif untuk ekstensi yang kongruen secara budaya (seperti mobil listrik Sony), sementara mereka memiliki perasaan yang kurang positif pada oven pemanggang Sony; mereka menemukan kalau gagasan cappunccino-macchiato Sony bahkan lebih tidak menarik lagi. Para peneliti mengatakan efek ini muncul hanya ketika baik merek maupun produk merupakan simbol budaya.

 “Sebuah simbolisme budaya merek dapat menjadi beban atau aset, dan untuk mengolahnya agar menguntungkan, seorang manajer harus memahami simbolisme budaya kategori ekstensi potensial yang sedang dipertimbangkan,” simpul para peneliti.

Sumber berita:

  University of Chicago Press Journals

Referensi jurnal:

Carlos J. Torelli, Rohini Ahluwalia. Extending Culturally Symbolic Brands: A Blessing or a Curse? Journal of Consumer Research, 2011; [link]

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.