Diposting Senin, 14 Mei 2012 jam 3:34 pm oleh Evy Siscawati

Pandangan Berbeda Mengenai Tuhan Mempengaruhi Perilaku Mencontek

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 14 Mei 2012 -


Di sisi lain, peneliti psikologi Azim F. Shariff dari Universitas Oregon dan Ara Norenzayan dari Universitas British Columbia menemukan kalau mahasiswa s1 yang percaya pada Tuhan yang pengasih dan pengampun lebih mungkin mencontek.

 Temuan ini muncul dari dua eksperimen yang melibatkan tes matematika dimana kejujuran yang sesungguhnya diuji. Mahasiswa diberi tahu tentang sebuah glich software dimana jawaban yang benar untuk setiap pertanyaan akan muncul setelah beberapa detik. Untuk menghindari melihat jawaban, mereka diminta menekan tombol spasi segera setelah melihat tiap pertanyaan dan sebelum memikirkan jawabannya tanpa kertas corat-coret atau kalkulator.

 Hasilnya dijelaskan secara detail dalam  International Journal for the Psychology of Religion. Penelitian ini adalah bagian dari usaha yang lebih besar untuk memahami perkembangan budaya, khususnya peran agama dalam mendorong – atau bahkan memaksa pemeluknya – untuk berperilaku bermoral.

 “Bersama-sama, temuan kami menunjukkan, setidaknya sebagai pendahuluan, kalau keyakinan agama memang berdampak pada perilaku moral, namun yang penting lebih dari apakah kamu percaya Tuhan ada atau tidak, tapi Tuhan jenis apa yang kamu percayai,” kata Shariff. “Ada hubungan: percaya pada Tuhan yang kejam dan penghukum membantu menghilangkan perilaku mencontek. Percaya pada Tuhan yang pengasih dan pengampun, maka dampaknya justru mendorong mencontek.”

 Dalam eksperimen pertama, 61 mahasiswa mengambil tes matematika sederhana tapi sulit. Setelahnya, mereka ditanya mengenai keimanannya, pandangan mengenai Tuhan, dan demografis. Pandangan mengenai Tuhan, melibatkan 14 sifat, dianalisis dan dibagi untuk menemukan persepsi partisipan mengenai Tuhan mereka apakah pengasih, perawat, pengampun, atau kejam, keras, pendendam, dan penghukum. Perilaku mencontek mereka – apakah mereka memakai spasi untuk menghindari mendapatkan jawaban yang benar – diukur.

 Tidak ada perbedaan signifikan pada perilaku mencontek antara teis dan ateis. Walau  begitu, mahasiswa yang secara khusus memandang Tuhannya sebagai penghukum, pemarah, dan pendendam menunjukkan tingkat mencontek yang lebih rendah secara signifikan.

 Studi kedua dirancang untuk membuang variabel potensial lainnya seperti kepribadian dan agama yang dianut. 39 partisipan mahasiswa s1 disurvey beberapa hari sebelum ujian mencontek mengenai pandangan mereka pada Tuhan dalam sederetan pertanyaan yang diberikan secara acak yang menyentuh berbagai jenis topik. Subjek kemudian mengambil tes matematika yang sama.

 Kembali, mahasiswa yang percaya Tuhan yang pengasih lebih mungkin mencontek. Begitu pula, orang yang menyatakan dirinya percaya adanya Tuhan tidak berbeda dengan yang tidak percaya Tuhan ada dalam perilaku mencontek. Dalam kedua scenario, “Tuhan penghukum” dan “Tuhan penyayang” secara signifikan meramalkan perilaku mencontek dalam arah yang berbeda.

 Data yang muncul dari literatur psikologi sosial cenderung menemukan kalau, sebagai kecenderungan umum, apa yang orang percaya setiap hari tidak benar-benar mempengaruhi hasil moral, kata Shariff. Walaupun beberapa penelitian baru mengenai peran agama, yang melibatkan keyakinan agama yang diaktivasi secara tidak sadar pada momen tertentu, menemukan kalau berada dalam situasi religius itu penting, sedikit bukti yang menunjukkan kalau kecenderungan beragama mendorong perilaku bermoral.

 “Menurut literatur psikologi, orang yang percaya Tuhan tampaknya tidak berperilaku lebih bermoral daripada orang yang tidak percaya adanya Tuhan,” katanya. “Kami ingin melihat lebih dalam pada keyakinan tertentu. Salah satu gagasan adalah hipotesis hukuman supernatural: menghukum perilaku anti-normatif – perilaku immoral – merupakan bagian penting dalam kehidupan di masyarakat. Masyarakat tidak dapat berkembang tanpa mengatur perilaku moral.”

 Walaupun trend yang ditemukan dalam studi ini signifikan, Shariff memperingatkan, hasilnya masih berupa pendahuluan. Khususnya, penelitian ini berfokus pada perilaku mencontek, yang hanya satu tipe perilaku moral. Tidak jelas apakah pola hasil ini dapat digeneralisasi untuk mendorong perilaku positif, seperti kebaikan. Para peneliti harus memeriksa dampak lain mengenai bagaimana pandangan pada Tuhan mempengaruhi tipe lain perilaku moral baik yang positif maupun negatif.

 Dalam jurnal Science tahun 2008, Shariff dan Norenzayan meninjau penelitian ilmu sosial selama 30 tahun dan berpendapat kalau ada sebuah kecenderungan mengenai hubungan yang sangat penting antara agama dan perilaku bermoral. Sebelum tinjauan literatur mereka selesai, Norenzayan mengatakan pada tahun 2008, debat publik mengenai apakah agama mendorong kerjasama dan saling percaya dikendalikan bukan secara ilmiah namun oleh pendapat dan anekdot. Studi saat ini menambah usaha terbaru untuk memberikan bukti ilmiah dalam perdebatan ini.

Sumber berita:

University of Oregon.

Referensi jurnal:

Shariff, Azim F. and Norenzayan, Ara(2011) ‘Mean Gods Make Good People: Different Views of God Predict Cheating Behavior’, International Journal for the Psychology of Religion, 21: 2, 85 — 96

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.