Kelelawar, Paus, dan Bio-Sonar: Temuan Baru Tentang Perilaku Mencari Makan Paus Mengungkapkan Konvergensi Evolusi Mengejutkan
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Senin, 14 Mei 2012 - Walaupun mereka berevolusi secara terpisah dalam jutaan tahun di dunia berbeda kegelapannya, kelelawar dan paus menggunakan perilaku akustik yang sama untuk menemukan, melacak, dan menangkap mangsa memakai ekolokasi atau sonar biologis.
Para peneliti akan menyajikan hasil mereka dalam rapat Acoustics 2012 di Hong Kong, 13-18 Mei 2012, sebuah rapat bersama Masyarakat Akustik Amerika (ASA), Masyarakat Akustik China, Konferensi Akustik Pasifik Barat, dan Institut Akustik Hongkong.
Kelelawar dan paus bergigi (yang mencakup lumba-lumba biasa dan lumba-lumba hidung botol) memiliki banyak kesempatan untuk mengevolusikan teknik ekolokasi yang berbeda satu sama lain, karena leluhur bersama terdekat mereka tidak mampu melakukan ekolokasi. Walau begitu, seperti diketahui para ilmuan selama bertahun-tahun, kelelawar dan paus bergigi bertopang pada jangkauan frekuensi ultrasonik yang sama, antara 15 hingga 200 kilohertz, untuk memburu mangsanya. (Sebagai perbandingan, pendengaran manusia berjangkauan antara 20 hingga 20 kilohertz.) Pertindihan dalam frekuensi ini mengejutkan karena suara bergerak sekitar lima kali lebih cepat di air daripada di udara, membuat paus bergigi memiliki lebih banyak waktu daripada kelelawar untuk memilih apakah akan menangkap mangsa potensial.
Sekarang, berkat teknologi baru yang merekam apa yang didengar paus serta bagaimana ia bergerak di alam liar, Peter Teglberg Madsen dari Universitas Aarhus di Denmark dan Annemarie Surlykke dari Universitas Denmark Selatan mengungkap kesamaan yang lebih banyak lagi pada taktik akustik hewan ini.
Kelelawar meningkatkan jumlah panggilan per detik (apa yang disebut para peneliti sebagai “tingkat buzz”) saat memburu mangsanya. Paus diduga mempertahankan laju panggilan atau klik yang sama tidak peduli seberapa jauh mereka dari targetnya. Namun penelitian terbaru ini menunjukkan kalau paus liar juga meningkatkan laju panggilan atau klik mereka pada saat perburuan – dan kalau laju buzz paus hampir sama dengan kelelawar, sekitar 500 panggilan atau klik per detik.
“Dalam basis fisika murni, anda seharusnya meramalkan paus dan kelelawar beroperasi dalam tingkat dan frekuensi ekolokasi berbeda,” kata Madsen. “Namun mereka beroperasi dalam tingkat dan frekuensi yang sama.” Kesamaan ini mendukung gagasan kalau perilaku akustik kelelawar dan paus dapat ditentukan oleh keterbatasan pengelolaan auditorik otak mamalia.
Hingga sekarang, lanjut Madsen, “tidak diketahui bagaimana seekor paus dapat mengkoordinasikan perilaku akustiknya” di alam liar untuk menangkap mangsanya.
Untuk melacak perilaku berburu paus di alam liar, para peneliti bertopang pada alat baru yang disebut DTAG, yang dikembangkan oleh insinyur listrik Mark Johnson di Lembaga Oseanografi Woods Hole di Woods Hole, Mass. DTAG ditempelkan pada kulit paus lewat mangkuk penyedot dan merekam frekuensi ultrasonik (memungkinkan para ilmuan menganalisis apa yang didengar paus) serta rekaman inersia dan tekanan (yang memungkinkan para ilmuan merekonstruksi gerakan paus di air dalam tiga dimensi).
Dengan cara ini, ilmuan mampu melacak perilaku makan paus secara lebih detail, tag yang baru ini juga akan membantu konservasionis menilai dampak lingkungan pada perilaku paus, kata Madsen.
Sumber berita:
Acoustical Society of America (ASA)
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
