Diposting Senin, 16 April 2012 jam 12:46 pm oleh Evy Siscawati

Mikroflora Memiliki Peran Penting dalam Penyakit Autoimun, Sebagian Baik, Sebagian Jahat

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 16 April 2012 -


 “Ini bukan saja menunjukkan kalau komposisi mikroflora kita berperan penting dalam perkembangan penyakit kronis, namun juga kalau sel kunci penyebab penyakit dapat mengembangkan ‘kembaran’ anti-pendarahan,” jelas  Dr. Christina Zielinski, pengarang perdana studi ini.

Penelitian mereka diterbitkan dalam edisi terbaru jurnal ilmiah   Nature.

Peneliti berusia 32 tahun dari   Dermatology and Allergology Clinic di Charité dan Berlin-Brandenburg School for Regenerative Therapies, dan koleganya menemukan sinyal dasar yang menyebabkan ya atau tidak sel imun anti pendarahan atau patogenik berkembang. Diketahui kemudian kalau interleukin 1b, salah satu hormon sistem kekebalan tubuh, bekerja seperti saklar molekuler. Keberadaannya melatih sel kekebalan saat autoimun terjadi agar berfungsi secara destruktif dan melepaskan zat duta pendarahan. Ketiadaannya, sebaliknya, memungkinkan sel kekebalan menjadi dewasa menjadi bagian anti pendarahan. Menariknya, mikroorganisme tubuh kita sendiri yang memutuskan apakah interleukin 1b dihasilkan dan karenanya modus apa yang dipilih.

 Pengamatan ini mendorong para ilmuan untuk juga melihat pasien yang menderita kelebihan produksi interleukin 1b, yang merupakan kasus sindrom pendarahan auto (misalnya CAPS, Muckle-Wells, atau sindrom Schnitzler). Para pasien ini, khususnya anak-anak, menderita berbagai gejala seperti demam, arthritis, dan ruam kulit. Pengembangan pasti penyakit ini, walau begitu, masih belum dapat dijelaskan. Para peneliti menguji apakah terapi antibodi yang memblokir interleukin 1b dapat menghasilkan potensi anti-pendarahan dalam sel kekebalan. Faktanya, setelah pemberian terapi ini, sel kekebalan menghasilkan duta penghambat pendarahan. Mereka bahkan mengembangkan memori untuk melepaskan zat duta dalam periode waktu yang lama.

 “Saya yakin kalau ketidakseimbangan dalam mikroflora mikroba kita memberi pengaruh pada perkembangan penyakit pendarahan kronis seperti reumatisme, Morbus Crohn, dan psoriasis. Organisme kita terdiri dari sepuluh kali lebih banyak sel mikroba daripada sel tubuh kita sendiri. Menjaga hal ini tetap seimbang bukan hal mudah. Interleukin 1b sekarang ternyata merupakan saklar molekuler penting yang dipakai mikroba untuk menentukan antara sehat atau sakit,” kata   Dr. Christina Zielinski. Ia melihat potensi besar dalam terapi penyakit pendarahan dengan memblokir zat duta ini. Dibandingkan dengan terapi kekebalan lainnya, hal ini tidak memunculkan pelemahan sistem kekebalan, namun memungkinkan sel menjadi anti-pendarahan jika dibutuhkan, tanpa kehilangan kemampuannya melawan patogen berbahaya.

Sumber berita:

  Charité – Universitätsmedizin Berlin,

Referensi jurnal:

Christina E. Zielinski, Federico Mele, Dominik Aschenbrenner, David Jarrossay, Francesca Ronchi, Marco Gattorno, Silvia Monticelli, Antonio Lanzavecchia, Federica Sallusto. Pathogen-induced human TH17 cells produce IFN-? or IL-10 and are regulated by IL-1?. Nature, 2012; DOI: 10.1038/nature10957

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.