Diposting Senin, 16 April 2012 jam 12:34 pm oleh Evy Siscawati

Evolusi di Laut: Eksperimen Jangka Panjang Menunjukkan Fitoplankton dapat Beradaptasi pada Keasaman Laut

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 16 April 2012 -


 Para ilmuan dari  Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel (GEOMAR) sekarang pertama kalinya menunjukkan potensi ganggang bersel satu   Emiliania huxleyi untuk beradaptasi pada kondisi pH yang berubah dan karenanya setidaknya sebagian memitigasi dampak negatif pengasaman samudera. Hasil ini dimunculkan oleh ahli biologi  Kai Lohbeck, Prof. Ulf Riebesell dan Prof. Thorsten Reusch dan diterbitkan dalam edisi terbaru Nature Geoscience.

Strain eksperimental  Emiliania huxleyi di isolasi dari perairan pesisir Norwegia dan dibiakkan dalam laboratorium dalam kondisi CO2 samudera masa depan terproyeksi. Setelah sekitar setahun, yang berarti 500 generasi spesies yang bereproduksi cepat ini, biologiwan mendeteksi adaptasi pada CO2 tinggi – populasi yang teradaptasi tumbuh dan mengapur lebih baik secara signifikan daripada populasi kontrol yang tidak teradaptasi ketika diuji dalam kondisi keasaman samudera.

 “Dari perspektif biogeokimia temuan yang paling menarik adalah mungkin restorasi sebagian tingkat pengapuran” catat ilmuan GEOMAR   Prof. Ulf Riebesell. Emiliania huxleyi menutupi permukaan selnya dengan sisik kalsit kecil yang ditemukan mengurangi berat dalam konsentrasi CO2 yang meningkat. “Ini apa yang kami duga dari literature. Namun kami terkesan menemukan pengapuran dapat pulih hanya dalam 500 generasi,” kata ahli biologi  Kai Lohbeck.

Mekanisme evolusi yang diajukan oleh para ilmuan GEOMAR adalah seleksi genotipe berbeda dan penumpukan mutasi menguntungkan baru. Adaptasi demikian belum ditunjukkan sebelumnya dalam spesies fitoplankton kunci. “Dengan studi ini, kami telah menunjukkan pertama kalinya kalau proses evolusi memiliki potensi terjadi pada skala waktu yang relevan dengan perubahan iklim dan karenanya memitigasi dampak negatif pengasaman samudera yang sedang berlangsung” kata biologiwan evolusi  Thorsten Reusch dan menambahkan “temuan ini menekankan kebutuhan mempertimbangkan proses evolusi dalam studi penilaian masa depan pada konsekuensi biologis dari perubahan iklim”.

Walaupun telah ada penemuan ini, para ilmuan GEOMAR belum memikirkan tentang tanda jelas pengasaman samudera. Potensi evolusi adaptif mungkin besar dalam spesies yang berkembangbiak cepat dengan ukuran populasi besar seperti  Emiliania huxleyi. “Ini salah satu alas an mengapa kami memilih spesies ini untuk studi kami” kata ahli biologi. Spesies berumur panjang dan khususnya yang hanya memiliki beberapa keturunan per generasi umumnya memiliki potensi adaptif yang jauh lebih rendah pada skala waktu yang relevan dengan perubahan iklim. “Sejarah bumi memberikan kisah meyakinkan tentang keterbatasan adaptasi evolusi,” jelas   Prof. Ulf Riebesell, “perubahan lingkungan sebanding dengan apa yang terjadi sekarang di samudera sering kali menghasilkan kepunahan massal, walaupun perubahan tersebut 10-100 kali lebih lambat dari yang kita amati sekarang.”

 Pertanyaan terbuka lainnya adalah seberapa luas perubahan evolusioner teramati dalam kondisi laboratorium ini dapat ditunjukkan di samudera dimana faktor lingkungan dan interaksi ekologi ikut serta. Karenanya, para ilmuan GEOMAR telah mempersiapkan eksperimen lanjutan. Dalam kerangka  proyek BIOACID (Biological Impacts of Ocean ACIDification), didanai oleh Kementrian Pendidikan dan Penelitian Jerman (BMBF), para ilmuan berencana memakai Mesokosmos Lepas Pantai Kiel untuk menyelidiki potensi adaptif Emiliania huxleyi dalam kondisi alamiah.

Sumber berita:

 GEOMAR | Helmholtz Centre for Ocean Research Kiel,

Referensi jurnal:

Kai T. Lohbeck, Ulf Riebesell, Thorsten B. H. Reusch. Adaptive evolution of a key phytoplankton species to ocean acidification. Nature Geoscience, 2012; DOI: 10.1038/NGEO1441

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.