Orang Afghanistan Memiliki Warisan Genetik yang Unik Menurut Analisis DNA
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Kamis, 5 April 2012 - Sebuah studi oleh Genographic Project menemukan kalau mayoritas dari semua etnik yang diketahui di Afghanistan memiliki warisan genetik unik diturunkan dari populasi leluhur bersama yang paling mungkin muncul pada revolusi Neolitikum dan pembentukan komunitas pertanian purba.
Studi menemukan peradaban awal ini mungkin merupakan migrasi dan invasi terasimilasi, karenanya menciptakan perbedaan genetik antar populasi dan memberi Afghan keanekaragaman genetik yang unik di Asia Tengah. Diterbitkan baru-baru ini di jurnal PLoS ONE, studi ini dipimpin oleh penyelidik utama Pierre Zalloua dan Marc Haber, keduanya dari pusat regional Timur Tengah Genographic.
“Afghanistan memiliki keanekaragaman masyarakat multi-etnik dan multi-bahasa. Tujuan studi kami adalah menentukan apakah berbagai kelompok Afghan muncul dari populasi yang sama dengan sistem sosial berbeda namun pasokan genetik yang sama atau apakah perbedaan budaya dan etnik didasari oleh perbedaan genetik yang sudah ada,” kata Zalloua.
“Kita tahu kalau Afghan berbeda secara budaya, namun kita tidak yakin apakah DNA mereka member petunjuk bagaimana mereka berevolusi. Kita sekarang tahu kalau evolusi budaya utama dan kemajuan teknologi prasejarah, diikuti oleh migrasi dan penaklukkan, menyisakan jejak dalam DNA Afghan, memberi kita pandangan mengagumkan pada asal usul populasi ini,” kata Haber.
Lokasi geografis strategis Afghanistan menjadi poros utama perdagangan serta persimpangan banyak rute invasi. Lokasi berdampingan dengan perkembangan budaya membentuk warisan genetik unik masyarakat Afghan.
Genographic Project, diluncurkan tahun 2005, memasuki delapan tahun musim semi ini. Hampir 75 ribu partisipan dari seribu masyarakat asli di dunia telah ikut serta dalam inisiatif ini, bersama dengan lebih dari 440 ribu anggota masyarakat umum yang membeli alat uji secara online, menyeka pipinya, lalu mengirimkan sampelnya ke lab Genographic untuk diolah. Koleksi sampel tak terduga ini beserta datanya merupakan sumberdaya ilmiah yang direncanakan untuk dikembangkan proyek ini.
Direktur Genographic Project dan National Geographic Explorer-in-Residence Dr. Spencer Wells mencatat, “Studi ini adalah yang pertama melakukan analisis detail populasi Afghan, menunjukkan keluasan geografis tak terkira sampling Genographic. Proyek ini berusaha mengisi celah dalam pengetahuan kita mengenai sejarah migrasi manusia, dan Afghanistan selalu merupakan celah dalam peta kita. Kita sekarang lebih tahu banyak mengenai gambaran bagaimana kelompok ini saling berkaitan dengan daerah sekitarnya. Selanjutnya, kami berharap mengisi detail sejarah demografis Afghanistan dengan studi penanda genetik lainnya dalam populasi ini.”
Sumber berita:
Referensi jurnal:
- Marc Haber, Daniel E. Platt, Maziar Ashrafian Bonab, Sonia C. Youhanna, David F. Soria-Hernanz, Begoña Martínez-Cruz, Bouchra Douaihy, Michella Ghassibe-Sabbagh, Hoshang Rafatpanah, Mohsen Ghanbari, John Whale, Oleg Balanovsky, R. Spencer Wells, David Comas, Chris Tyler-Smith, Pierre A. Zalloua. Afghanistan’s Ethnic Groups Share a Y-Chromosomal Heritage Structured by Historical Events. PLoS ONE, 2012; 7 (3): e34288 DOI: 10.1371/journal.pone.0034288
- Urutan Genom Coelacanth Menginformasikan Evolusi Vertebrata Darat
- Misi Kepler NASA: Tiga Planet Berukuran Super-Bumi Ditemukan Dalam Zona Layak Huni
- Teknik Ultra-cepat Menyingkap Prinsip-prinsip Perancangan dalam Biologi Kuantum
- Studi Telur Mengungkap Eratnya Hubungan Evolusi Antara Burung dan Dinosaurus
- Ilmuwan Membentuk Sel-sel Saraf Baru – Langsung di Dalam Otak
- Ilmuwan Temukan Kemungkinan untuk Menciptakan Bahan Bakar dari Karbon Dioksida di Atmosfer
- Metascreen Ultra-tipis: Setahap Mewujudkan Mantel Tembus Pandang ala Harry Potter
- Kehadiran Manusia di Kepulauan Pasifik Sebabkan Kepunahan Massal Burung
- Kehidupan Ditemukan Dalam Ekosistem Terluas di Bumi, Jauh di Kedalaman Kerak Samudera
- Ilmuwan Menghidupkan Kembali Embrio Katak yang Telah Punah
