Diposting Kamis, 5 April 2012 jam 12:31 pm oleh Evy Siscawati

Filsafat Sains: “Kategori Aktor” dalam Penulisan Sejarah Sains

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 5 April 2012 -


Definisi Posmodernisme

Postmodernisme adalah penolakan teori kalau ada model atau konstruk linguistik yang cukup untuk menjelaskan kenyataan, jika kenyataan dinyatakan sebagai totalitas dari segalanya, jagad moral, keseluruhan pengalaman, kesatuan subjek, permainan sejarah, dsb.

Pada dasarnya, postmodernisme adalah seperangkat dogma yang menolak kemampuan subjek untuk mengetahui, dengan cara apapun, sebuah sistem yang dapat mengetahui dunia dari dalam teori. Ini berarti menolak keyakinan adanya pengetahuan objektif (yang tidak berarti praktek ilmiah), yang mencakup narasi besar sejarah, sains, dan filsafat, mencakup segalanya dari ekonomi Marxist hingga matematika sampai “mitos” Pencerahan kalau realitas adalah yang ada di sekitar kita, dan kalaupun bukan, realitas itu akan suatu saat diketahui. Ia menyebut ini sebagai model-model dengan berbagai derajat prediktivitas, dan berbagai derajat kestabilan dan ketahanan, yang saling tindih dan menjelaskan realitas relatif dengan penyusunnya lewat subjek yang berada dalam koordinat sosio-historik.

Postmodernisme dan Sejarah Sains

Dalam penulisan sejarah sains versi posmodern, terdapat istilah “kategori aktor”. Kategori aktor adalah metode penulisan sejarah dimana dalam menceritakan perkembangan sains, kita tidak boleh menggunakan konsep yang belum ada dalam pikiran orang yang terlibat. Sebagai contoh, dimasa Darwin belum ada istilah evolusi, jadi jika kita membahas Darwin, kita tidak boleh menggunakan istilah ini, demikian kira-kira konsep “kategori aktor” dalam penulisan sejarah sains.

Penekanan pada kategori aktor punya masalah serius. Bila seorang sejarawan mampu membuat jelas cara sekelompok ilmuan masa lalu menyajikan dunia di sekitar mereka, maka mungkin untuk menghargai arah pemikiran seperti yang mereka alami, dan ini memiliki fungsi penjelas yang penting. Sebagai contoh, penjelasan Rudwick mengenai Kontroversi Devonian Besar memberi kita perspektif partisipan sehingga kita dapat mengikuti penyelidikan mereka, lalu merasakan kejutan dan melihat pancingan dari pendekatan-pendekatan mereka, dan beberapa halaman kemudian, ternyata tidak berbuah hasil. Namun dapat salah jika kita berpikir kalau ini satu-satunya peran penjelasan yang harus disajikan sejarah atau yang menunjukkan kalau apa yang sekarang kita terima merupakan hal yang tidak pada tempatnya. Sejarawan matematika sering menemukan hal menarik untuk mengutip bukti Frobenius yang mengatakan kalau hanya ada tepat tiga aljabar pembagian asosiatif pada bilangan real dalam menjelaskan mengapa pemikiran Hamilton pada analog berdimensi tinggi dari bilangan kompleks runtuh. Pertimbangan demikian tidak akan membantu kita melihat dan merasakan bagaimana Hamilton melihatnya, namun memungkinkan kita memahami mengapa ia mengalami masalah dalam pemikirannya. Pengetahuan selanjutnya dapat diterapkan dalam sejarah untuk memenuhi fungsi penjelas, berbeda dari memasukkan diri kita ke dalam dunia protagonis.

Pemeluk aliran purisme mungkin khawatir kehilangan temuan dari sains modern dalam memahami masa lalu. Seperti dalam kejadian lain, purisme segera menjadi absurd. Haruskah sejarawan militer mempelajari perang parit antara tahun 1914 dan 1918 abstain dari memahami efek hantaman mortir pada lansekap, atau penyebaran penyakit menular, atau konsekuensi psikologis hidup di parit – pemahaman yang dapat dihasilkan dengan merefleksi pada peristiwa yang dipelajari?

Tidak peduli berapa teguh kita berpegang pada kategori aktor, setiap pertimbangan tentang orang di masa lalu akan melibatkan asumsi mengenai motivasi dan tindakan, karakter dunia publik dan respon manusia terhadapnya, dan kita membuat asumsi tersebut menggunakan informasi terbaik yang kita punya. Ketika kita menyadari kalau mencoba menunda beberapa keyakinan saat ini dapat bernilai dalam memberi kita pandangan mengenai situasi seperti dia ditampilkan di mata para partisipan dan tidak menunda keyakinan tersebut penting dalam membuat kita menyadari (dari luar) masalah dan keberhasilan, kita dapat memberikan totem sejarawan atas ketepatannya.

Sebagai contoh, kita tahu benar kalau Eropa menderita wabah bubonik pada akhir Abad Pertengahan, dan sains modern memberi tahu kita bagaimana wabah bubonik menular. Mudah mengetahui legitimasi dua gaya yang berbeda dari sejarawan yang mengkaji masa wabah ini.

Satu sejarawan akan menawarkan kita perspektif aktor, memakai kategori mereka, dan menyajikan kita pilihan dan kesulitan sebagaimana orang yang hidup di masa itu mengalaminya. Satu sejarawan yang lain menggunakan epidemiologi modern untuk menjelaskan mengapa wabah terjadi di sana, mengapa berbagai strategi untuk mengatasinya tidak efektif, bagaimana sebagian orang berhasil selamat dan mengapa, dan seterusnya. Sejarah dari kedua tipe dapat sama-sama memberikan gambaran, dan yang kedua tidak boleh disingkirkan karena prejudis a priori.

Empat Dogma Postmodernisme

Banyak kritik terhadap posmodern mengenali kalau relativisme sering kali berlebihan. Dalam mengenali empat rute yang berawal dari titik yang masuk akal, kita dapat melihat kalau postmodern dipoles dengan niat terbaik namun argumen terburuk.

Ada Empat Dogma postmodernisme: (1) tidak ada kebenaran yang aman dari penerimaan sosial, (2) tidak ada sistem keyakinan yang dikendalai oleh nalar atau realitas, dan tidak ada sistem keyakinan yang istimewa; dan (3) tidak ada asimetri dalam penjelasan kebenaran atau kesalahan, masyarakat atau alam; dan (4) penghormatan harus selalu diberikan pada “kategori aktor”.

Tentunya salah meninggalkan diagnosis penyakit relativisme modern ini pada titik ini saja. Ketika keempat dogma telah diserap seluruhnya, sehingga sarjana muda mulai dari kesimpulan mereka seolah itu adalah kitab sucinya, maka keanehan besar dunia relativisme akan bergema. Bagaimana bisa postmodern dibebaskan dari perlakuan asimetris pada masyarakat dan alam yang dicapai pada fase awal sosiologi pengetahuan ilmiah? Bagaimana pelajaran postmodern diterapkan pada postmodern itu sendiri?

Begitulah postmo. Bermain dengan Lacan, Lyotard, Deleuze, Derrida. Membangun jaringan aktor, mencampur adukkan praktek, dialektika, wacana multivokal poligender postfallogosentrik transkategoris yang sensitif … Mari kita berikan solusi pada masalah yang tidak pernah seorangpun ajukan tentang sains sebelumnya; Malahan, mari kita lupakan sains seluruhnya dalam teks dan konteks.

Tuturan di atas memang berlebihan, tapi sedikit saja. Pembaca mungkin dapat mengambil sendiri dan mendalami buku Latour,  We Have Never Been Modern atau buku Pickering The Mangle of Practice. Di sana pembaca mungkin hanya dapat membayangkan seberapa dalam lautan postmodern meluap. Sains sepertinya tidak lagi menjadi subjek utama (kejayaan akan dianugerahkan pada postmodern itu sendiri); justru kita memasuki sebuah wacana tertutup dari fenomena yang menjadi pusat bidang beberapa penyelidikan filsafat tahun 1950an dengan obsesinya pada kegelapan burung gagak. Secara redup, kita melihat kalau perspektif lawan dihantamkan satu sama lain, namun karakter pasti dari posisi dan standar akuntabilitasnya sepenuhnya kabur. Pada akhirnya, kita hanya bisa bertanya “Bila ada jawaban, apa pertanyaannya?”

Ini tentu saja point dimana kritik postmodern, baik dari dalam maupun dari luar pemeluk postmodern itu sendiri. Seharusnya kita katakan “Cukup!” ketika sang protagonis berpikir kalau ada sebuah penalaran logis yang membawa mereka ke kesimpulan mereka, lawan mereka menggunakan asumsi yang sama dan menganggap kalau seluruhnya telah rusak dari awal.

Ini adalah sebuah bentuk ketidak sabaran dengan perkembangan postmodernisme dimana Empat Dogma mereka diusung sebagai sesuatu yang ilmiah. Namun untuk mengungkapkan sebenar-benarnya seperti apa mahluk yang namanya postmodern itu mungkin memberikan banyak penafsiran yang salah. Yang jelas, akan lebih baik jika para ilmuan yang mengusung postmodern mengalihkan sumber daya mereka ke hal yang lebih baik.

Sumber:

Philip Kitcher. A Plea for Science Studies dalam House Built on Sand: Exposing Postmodernist Myths About Science; Koertge, Noretta (Editor)

Definisi postmodern di ambil dari:

Philosophy Forums.

http://forums.philosophyforums.com/threads/postmodernism-vs-relativism-vs-nihilism-30057.html

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.