Diposting Rabu, 28 Maret 2012 jam 9:57 pm oleh Gun HS

Riset Terbaru Menunjukkan Neandertal Sudah Hampir Punah Jauh Sebelum Kemunculan Manusia Modern

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 28 Maret 2012 -


Eropa Barat telah lama dipandang sebagai “tempat lahir”-nya evolusi Neanderthal dengan begitu banyaknya penemuan paling awal yang berasal dari situs-situs di wilayah tersebut. Namun, saat Neandertal mulai menghilang sekitar 30.000 tahun yang lalu, para antropolog menemukan bahwa faktor iklim atau persaingan dari manusia modern tampaknya menjadi penyebabnya. Menariknya, penelitian terbaru menunjukkan bahwa Neanderthal Eropa Barat sudah berada di ambang kepunahan jauh sebelum manusia modern muncul.

Perspektif baru ini berasal dari sebuah penelitian DNA purba yang dilakukan oleh tim peneliti internasional.

“Neandertal merupakan kerabat fosil terdekat kita, dan bukti yang berlimpah mengenai cara hidup mereka serta sisa-sisa kerangka mereka telah ditemukan di berbagai situs di seluruh Eropa dan Asia Barat,” kata Rolf Quam, antropolog dari Universitas Binghamton yang menjadi penulis pendamping dalam studi ini. “Sebelum akhirnya manusia modern tiba di lokasi, secara luas diduga bahwa Eropa telah dihuni dengan relatif stabil oleh populasi Neanderthal selama ratusan ribu tahun. Namun penelitian kami menunjukkan sebaliknya dan dengan adanya titik terang dari hasil studi terbaru ini, maka teori lama kini perlu dicermati ulang.”

Gigi dari seorang anak laki-laki Neanderthal, Spanyol Utara. (Kredit: Centro de Evolución y Comportamiento Humanos)

Dengan berfokus pada urutan DNA mitokondria dari 13 Neanderthal, termasuk urutan terbaru dari lokasi gua Valdegoba di Spanyol Utara, tim peneliti menemukan beberapa hasil yang mengejutkan. Saat pertama kali mereka mulai mengamati DNA, muncullah pola yang jelas: Neanderthal Eropa Barat yang lebih tua dari 50.000 tahun dan Neanderthal dari situs di Asia Barat dan Timur Tengah menunjukkan tingkat variasi genetik yang tinggi, setara dengan perkiraan spesies yang telah berlimpah pada suatu wilayah dalam jangka waktu yang sangat lama. Bahkan, jumlah variasi genetik ini mirip dengan apa yang mencirikan manusia modern sebagai suatu spesies. Sebaliknya, Neanderthal yang berasal dari Eropa Barat dan lebih muda dari 50.000 tahun menunjukkan jumlah variasi genetik yang sangat rendah, bahkan lebih rendah dibandingkan populasi terpencil di Islandia saat ini.

Hasil ini menunjukkan bahwa Neanderthal Eropa Barat mengalami krisis demografi, hambatan populasi sangat mengurangi jumlah mereka, lalu meninggalkan Eropa Barat yang sebagian besar kosong dari manusia selama satu periode. Krisis demografis ini tampaknya bertepatan dengan periode dingin yang ekstrim di Eropa Barat. Selanjutnya, wilayah ini kembali dihuni oleh sekelompok kecil individu dari area-area di sekitarnya. Asal usul geografis sumber populasi ini masih belum jelas, namun untuk mengetahuinya masih bisa dimungkinkan dengan menggunakan urutan Neanderthal.

“Fakta bahwa Neanderthal di Eropa Barat hampir punah, tapi kemudian pulih jauh sebelum mereka melakukan kontak dengan manusia modern, merupakan kejutan bagi kami,” kata Love Dalén, profesor di Museum Sejarah Alam Swedia di Stockholm. “Hal ini menunjukkan bahwa Neanderthal mungkin jauh lebih sensitif terhadap perubahan dramatis iklim yang terjadi di masa akhir Zaman Es.”

Rolf Quam, antropolog dari Universitas Binghamton, di dalam gua Valdegoba tengah menunjukkan di mana rahang bawah Neanderthal berasal dari dalam stratigrafi. (Kredit: Rolf Quam)

Quam sepakat dan menyatakan bahwa penemuan ini menjadi himbauan untuk memikirkan ulang gagasan mengenai kemampuan adaptasi Neanderthal terhadap cuaca dingin.

“Paling tidak, ini memberitahu kita bahwa tanpa bantuan budaya material atau teknologi, terdapat batas pada kemampuan adaptasi biologis kita,” kata Quam. “Mungkin juga telah terjadi kasus di mana populasi Neanderthal Eropa secara demografis sudah tertekan ketika manusia modern muncul di lokasi.”

Hasil yang diperlihatkan dalam penelitian ini sepenuhnya didasarkan pada DNA purba yang sudah sangat rusak, sehingga diperlukan laboratorium canggih dan metode komputasi untuk melakukan analisis. Tim peneliti melibatkan pula para ahli dari sejumlah negara, termasuk ahli statistik, ahli pengurutan DNA modern dan ahli paleoantropologi dari Swedia, Denmark, Spanyol dan Amerika Serikat.

“Ini hanyalah contoh paling akhir tentang bagaimana penelitian DNA purba memberikan wawasan baru terhadap bagian sejarah Neanderthal yang penting dan sebelumnya tidak diketahui,” kata Quam. “DNA purba melengkapi studi antropologi yang berfokus pada anatomi tulang kerangka, dan hasil studi semacam ini hanya bisa dimungkinkan dengan studi DNA purba. Sungguh menarik untuk berpikir tentang apa yang akan muncul selanjutnya.”

Kredit: Binghamton University, State University of New York
Jurnal: L. Dalen, L. Orlando, B. Shapiro, M. B. Durling, R. Quam, M. T. P. Gilbert, J. C. Diez Fernandez-Lomana, E. Willerslev, J. L. Arsuaga, A. Gotherstrom. Partial genetic turnover in neandertals: continuity in the east and population replacement in the west. Molecular Biology and Evolution, 2012; DOI: 10.1093/molbev/mss074

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.