Diposting Minggu, 4 Maret 2012 jam 2:53 pm oleh Evy Siscawati

Kebudayaan Anda Dapat Mempengaruhi Persepsi Anda pada Kematian

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 4 Maret 2012 -


Sebagian besar penelitian pada apa yang disebut psikologis “arti penting kematian” – berpikir tentang mati – telah dilakukan pada manusia keturunan Eropa, dan menemukan kalau itu membuat orang bertingkah dramatis. “Pria menjadi lebih perhatian pada wanita yang seksi dan mereka menginginkan perempuan yang sehat. Orang senang membuat stereotaip lebih kuat. Anda melihat semua kemunculan aneh dan buruk ini ketika orang berpikir mengenai fakta kalau mereka tidak akan hidup abadi,” kata  Christine Ma-Kellams dari University of California Santa Barbara, yang melakukan penelitian dengan Jim Blascovich. Khususnya, orang mencoba melindungi naluri dirinya, dengan merendahkan orang yang tidak menyukainya atau menjauhkan diri mereka dari korban tak bersalah.

 Namun, sebagai psikolog budaya, Ma memikirkan apakah reaksi ini berbeda dalam kebudayaan lain. Khususnya, ia ingin melihat orang dari latar belakang Asia, yang naluri dirinya secara umum lebih berkaitan dengan orang disekitar mereka.

 Ma-Kellams merekrut orang Eropa-Amerika dan Asia-Amerika untuk studinya. Tiap orang diminta menuliskan pemikiran yang muncul ketika ia membayangkan tentang kematiannya sendiri – atau menuliskan pikiran mereka tentang rasa sakit gigi. (Mereka ada dalam kelompok kontrol). Lalu mereka diminta memutuskan apa hukuman yang harus diberikan pada pelacur dan mengisi survey tentang sikap mereka terhadap pelacuran. Seperti yang ditemukan peneliti lainnya, orang Eropa-Amerika yang telah membayangkan tentang kematian jauh lebih kasar pada pelacuran daripada mereka yang ada di kelompok kontrol. Namun orang Asia-Amerika yang memikirkan tentang kematian jauh lebih baik pada pelacur – walaupun mereka pada awalnya lebih konservatif.

 Dalam eksperimen kedua, partisipan disajikan kasus yang tidak terlalu ekstrim, sebuah cerita tentang pegawai universitas yang terluka dalam kecelakaan walaupun bukan kesalahannya. Hasil yang sama ditemukan; orang Eropa-Amerika lebih mungkin menyalahkannya bila mereka membayangkan tentang kematiannya sendiri, sementara orang Asia-Amerika lebih kecil kemungkinannya menyalahkannya.

 Hal ini sejalan dengan penelitian yang menemukan kalau Eropa-Amerika dan Asia-Amerika memikirkan diri mereka sendiri secara berbeda. “Bagi Eropa-Amerika, setiap orang ingin menyelamatkan dirinya sendiri setelah memikirkan tentang kematian karena hilangnya diri adalah konsekuensi paling buruk yang mungkin,” kata Ma-Kellams. “Orang Asia tidak mesti melihat dirinya secara individualistic. Diri sangat terikat dengan orang disekitarnya.” Dalam kasus ini, itu artinya kalau ketika mereka merasa terancam dengan kematiannya sendiri, orang Asia-Amerika tampak akan membantu atau mencari bantuan orang lain.

Sumber berita:

Association for Psychological Science.

Referensi jurnal:

Ma-Kellams, C. & Blascovich, J. (2011). Culturally divergent responses to mortality salience. Psychological Science, 22, 1019-1024

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.