Diposting Jumat, 24 Februari 2012 jam 11:22 am oleh Evy Siscawati

Tuhan dan Sains Modern (Part 4): Argumen Kosmologis

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 24 Februari 2012 -


Lihat  Part 3

Dengan melihat keteraturan di alam ini, para teolog mencoba membangun argumentasi lain mengenai keberadaan Tuhan. Ketimbang menisbahkan Tuhan pada gejala langka yang tak terjelaskan untuk sementara, mereka ikut mengambil asumsi sains, yaitu alam semesta ini secara keseluruhan teratur. Keteraturan alam semesta merupakan argumen yang digunakan sains untuk melawan adanya Tuhan pengisi celah (Tuhan yang menjawab do’a dan menurunan mukjizat). Walau begitu, argumen lawan ini diambil sebagai argumen dasar dengan menarik kesimpulan kalau pasti ada yang mengatur dan menciptakan alam ini, dan sang pengatur dan pencipta itu Tuhan.

Argumen kosmologis memiliki satu komponen menarik yang mirip sains, yaitu prediksi. Ia memprediksi kalau alam semesta ini diciptakan. Walaupun prediksi ini tidak dapat dibuktikan langsung, ia dapat dibuktikan tidak langsung. Jika alam semesta diciptakan, maka ia memiliki awal.

Sementara itu, sains kosmologi masih belum cukup berkembang untuk menjawab pertanyaan apakah alam ini memiliki awal atau tidak. Teori yang cukup kuat adalah teori keadaan tetap, yaitu alam selalu ada selamanya. Teori ini, menariknya, sama dengan konsepsi Jainisme, sebuah agama turunan dari Hindu, yang juga berasumsi demikian. Dan dengan ini, berarti Jainisme juga agama yang unik karena tidak memiliki Tuhan pencipta, walaupun ada Tuhan-Tuhan lain yang pada dasarnya adalah manusia (leluhur) yang mencapai taraf kesempurnaan tertentu.

Selain mengandung komponen sains, argumen kosmologis sendiri kental dengan komponen skriptural. Tuhan menciptakan alam semesta, misalnya dalam agama Abrahamaik yang menyebutkan kalau Tuhan menciptakan alam semesta dalam tujuh hari (masa). Ia bukan berasal dari sebuah argumentasi asli filsuf, tapi argumentasi atau bahkan mungkin asumsi dari para pendiri agama Abrahamaik. Dan ini bukan juga unik Abrahamaik, secara umum keyakinan di dunia, mengatakan kalau alam semesta ini ada yang menciptakan.

Argumen kosmologis sendiri terbagi menjadi tiga tipe (Craig, 1980:282):

  1. Argumen Aquinas. Argumen ini didasarkan pada kemunduran tanpa akhir yang mustahil. Argumen ini bukan berasal dari Aquinas tetapi dari para pemikir Islam abad pertengahan, tapi pada gilirannya, itupun dapat dirunut hingga ke Plato.
  2. Argumen kal?m. Didasarkan pada kemustahilan kemunduran waktu tanpa akhir karena ketakhinggaan aktual itu mustahil. Argumen ini datang dari para pemikir islam dan merupakan modifikasi dari argumen pertama (Fakry, 1957).
  3. Argumen Leibniz dan Clarke. Dibangun berdasarkan Prinsip Bernalar Cukup.

Ketiga argumen di atas dapat diringkas menjadi “Jika segalanya diciptakan, maka alam semesta diciptakan, pencipta alam semesta adalah Tuhan.” Begitu pula, argumen ini umumnya dibalas dengan bertanya “Siapa pencipta Tuhan?” (Hawking, 1988:174). Davis (1997) tidak setuju dengan keabsahan mempertanyakan “Siapa pencipta Tuhan?” Alasannya, Tuhan adalah mahluk perlu (O’Connor, 2008). Ia adalah mahluk yang jika ada, maka tidak dapat tidak ada. Jika ia tidak ada, maka ia tidak dapat ada (Reichenbach, bab 6). Ia perlu ada untuk  menutup kemunduran tanpa akhir yang terus muncul dalam rantai sebab akibat. Jika tidak diputus di Tuhan, maka kita akan terus merujuk ke masa lalu tanpa akhir. Eksistensi Tuhan sebagai penghenti regresi bukan argumen logis (karena memang bisa ditanyakan siapa pencipta Tuhan) tetapi argumen metafisik. Metafisika bukan bagian yang dapat diterapkan logika di dalamnya (ingat bagaimana sains menghindari metafisika karena tidak dapat diuji, disalahkan, dan sebagainya). Scotus (1962:46) bahkan lebih bebas lagi. Ia mengizinkan urutan sebab akibat berjalan tanpa akhir. Regresi ke masa lalu selalu ada dan tidak perlu Tuhan menghentikan itu. Tetapi sesuatu pasti selalu mempunyai sebab dalam deretan tak terhingga ini. Jika kita ambil sepotong dari deretan ini sebagai sebuah akibat dan potongan ini adalah alam semesta kita, maka ia punya sebab, dan sebab itu adalah Tuhan. Pertanyaan “siapa pencipta Tuhan?” itu boleh diajukan, tetapi dapat diabaikan. Seluruh sebab sebelum Tuhan, bahkan dapat dinyatakan sebagai Tuhan, karena Tuhan tak terbatas (Lihat Gambar 2).

 

Gambar 2: Tiga Posisi Tuhan dalam Rantai Sebab-Akibat (kotak merah = Tuhan, S-A = Sebab-Akibat)

Argumen keterbatasan waktu yang diajukan oleh para filsuf kal?m. Termasuk argumen yang paling kuat. Suatu saat di masa lalu, menurut mereka, waktu memiliki awal (Gambar 3(b)). Para ilmuan masa itu umumnya cukup mengatasi masalah ini dengan menyebutkan kalau alam semesta ada selamanya (Gambar 3(a)). Hume (1980, part 9) misalnya, berargumentasi kalau karena kita menurunkan konsep sebab-akibat dari pengamatan kita pada sesuatu dalam keseluruhan (komponen dari alam semesta), sementara keseluruhan (alam semesta) tidak dapat kita amati (karena kita bagian dari alam semesta), maka kita juga tidak dapat menerapkan konsep sebab-akibat pada alam semesta. Alam semesta telah begitu adanya selamanya, karena ia alam semesta.

Reichenbach (1972: Bab 5) mengakui kalau asumsi bahwa alam semesta berperilaku seperti isinya (yang punya sebab-akibat) berpotensi salah. Tetapi alam semesta mungkin terhindar dari kesalahan ini jika kita melihat contoh positif. Contoh negatif misalnya, jika batu bata kecil, maka temboknya kecil. Ini contoh negatif karena belum tentu batu bata kecil tapi seluruh batu bata (tembok)nya kecil juga. Contoh positif misalnya, tembok sesungguhnya batu bata, karena penyusun tembok adalah batu bata. Menurut Reichenbach (1972) alam semesta kita memiliki sifat seperti contoh positif ini dan bisa menerapkan pernyataan “alam semesta memiliki sebab karena komponen-komponennya memiliki sebab.” Kita dapat melihat kalau argumen ini tidak langsung merujuk pada Tuhan, karena kita dapat membayangkan sesuatu yang tidak dapat disebabkan agen, misalnya sesuatu yang terjadi secara kebetulan (kayu-kayu  yang hanyut menyumbat sungai dan kebetulan membentuk jembatan).

Versi lain dari gagasan Hume, yang didukung oleh kosmologi modern, adalah tipe alam semesta siklis (Gambar 3(d)). Versi ini menyatakan kalau, walaupun alam semesta berawal dari Big Bang, ia bukanlah alam semesta pertama (Musser, 2004). Versi ini disebut juga versi osilasi, yang menyatakan alam semesta kita merupakan alam semesta terbaru. Sebelum Big Bang, ada alam semesta lain, yang runtuh mengerut (kebalikan dari pengembangan) ke satu titik. Alam semesta adalah siklus dari mengembang mengerut dst. Osilasi ini tampaknya memiliki awal tetapi gagasan adanya awal (dan akhir) ini datang dari asumsi kalau hukum fisika yang berlaku di setiap siklus alam semesta adalah sama (Silk, 2001:380). Bagaimana jika setiap terjadi big bang, hukum fisika yang ada dikocok ulang oleh suatu mekanisme, jika seperti ini, setiap alam semesta lahir, ia adalah generasi yang sungguh-sungguh baru, bukan sisa dari alam semesta sebelumnya. Pilihan pertama tampaknya lebih didukung, karena alam semesta siklis digunakan untuk menjelaskan kelimpahan materi gelap di alam semesta. Materi gelap datang dari alam semesta sebelumnya, dan berarti alam semesta sekarang tidak benar-benar baru.

Pendekatan yang lebih modern, dengan adanya pengetahuan baru mengenai Big Bang, diberikan oleh Hawking. Hawking (1988:116) mendekati masalah ini dengan menyatakan kalau waktu tidaklah berjalan linier, tetapi asimptotik. Semakin mendekati awal waktu, waktu semakin panjang, sedemikian panjangnya bahkan tidak mungkin ada awal waktu (Gambar 3(c)). Akibatnya, awal waktu adalah sesuatu yang ada di ketakhinggaan, sesuatu yang imajiner, dan berarti alam semesta tidak memiliki awal. Jika alam semesta tidak memiliki awal, maka tidak ada pencipta.

Oppy (2002) memberikan contoh paradoks Tristam Shandy. Shandy, seorang tokoh imajiner, butuh waktu satu tahun untuk menulis diari tentang satu hari dalam hidupnya. Jika ia hidup selama setahun, maka ia butuh waktu menulis diarinya untuk tahun itu selama 365 tahun. Pada akhirnya, ia tidak akan pernah selesai menulis diarinya, karena waktu menulis diari lebih lama dari waktu menjalani pengalaman. Lebih parah lagi, bebannya untuk menulis diari akan semakin besar seiring bertambahnya usia. Bahkan jika Shandy adalah mahluk abadi, bebannya untuk menulis diari akan semakin besar tak terhingga di atas tak hingga. Jika awal waktu dipandang sebagai akhir dari diari tersebut, maka awal waktu ini adalah imajiner. Seperti inilah awal waktu yang asimtotik tersebut.

Empat versi argumentasi ini ditunjukkan pada Gambar 3.

 

Gambar 3: Perbandingan Empat Versi tentang Awal Waktu dan Realita

Lebih jauh, Silk (2001:63) menekankan empirisme dalam kasus Big Bang. Apa yang kita tahu dari Big Bang adalah alam semesta berada dalam ukuran sangat kecil. Teis terlalu berlebihan dengan menyebutkan alam semesta mewujud ketika Big Bang. Sains dengan kemampuan sebelum sekarang tidak mampu secara teoritis maupun empiris mengetahui apa yang terjadi dalam jarak sangat sempit ini (jarak Planck). Silk menekankan kalau dalam jarak demikian kecil, ada tiga kemungkinan yang ada:

  1. Alam semesta terus menjadi kecil dan lenyap pada waktu mundur, berarti alam semesta berawal. Ini yang disukai oleh Teis karena bisa ditarik kalau ada sang Pencipta.
  2. Alam semesta mengembang lagi pada waktu mundur, berarti big bang hasil pengerutan alam semesta sebelumnya yang mencapai batas yang mungkin untuk mengerut. Ini yang disukai ateis, karena berarti alam semesta tak punya awal, hanya melalui siklus.
  3. Alam semesta dalam kemungkinan lain yang tak terbayangkan. Mungkin ia selamanya seperti itu dan pengembangan alam semesta adalah anomali. Mungkin ada yang salah dengan teori kosmologi modern. Mungkin alam semesta masuk ke level ruang-waktu berbeda, dan mungkin. Ada banyak sekali cara aneh membayangkan alam semesta di masa ini, sejauh kemampuan imajinasi kita memunculkan fantasi.

Dengan adanya argumen dari teisme (Tuhan mencipta alam semesta), materialisme (mungkin alam semesta abadi), dan humanisme (kita tidak tahu karena kita terbatas sebagai manusia), Swinburne (1996:Bab 3) melakukan analisis kemungkinan dan mengajukan kalau argumen yang paling sederhana adalah yang paling pantas diterima. Argumen adanya Tuhan adalah yang paling sederhana, cukup begitu saja, Tuhan ada, selesai masalah. Tetapi, dalam petualangan intelektual manusia memahami alam semesta, muncul konsep yang sedemikian sederhana, lebih sederhana katanya adari Tuhan ada. Konsep ini adalah multijagad. Sebelum beranjak ke penjelasan multijagad, silakan rujuk Tabel 2 untuk rangkuman evolusi argumentasi kosmologis.

Argumentasi AgamaArgumentasi Sains
Segala yang ada di alam pasti punya sebab, jadi alam semesta punya sebab, yaitu Tuhan (Plato, kal?m, Al Ghazali, Aquinas)Siapa yang menciptakan Tuhan?
Tuhan perlu untuk menghentikan regresi (Aquinas), regresi tidak masalah tapi segala sebab sebelum alam semesta adalah Tuhan (Scotus)Alam semesta tidak punya awal. Apa bukti alam semesta punya awal?
Tidak ada yang tidak berawal di dunia, jadi alam semesta juga punya awalTidak selalu ciri komponen (isi alam semesta) mencirikan keseluruhan (alam semesta)
Alam semesta bersifat sama dengan penyusunnya (Reichenbach)Atas dasar apa anda memilih kemungkinan itu dari kemungkinan lainnya?
Alam semesta diciptakan (Big Bang)Itu hanya satu kemungkinan dari tafsir Big Bang (Silk). Apa dasar anda memilih kemungkinan itu?
Keberadaan materi gelap tidak dapat dijelaskan sains (God of the Gap)Berarti alam semesta bersifat siklis (Musser)
Alam semesta siklis pasti punya awalTeori siklis tidak sekuat Big Bang. Materi gelap suatu saat bisa dijelaskan dalam kerangka Big Bang. Kembali, apa alasan anda memilih kemungkinan ini dibandingkan kemungkinan lain?
Keberadaan Tuhan adalah penjelasan yang paling sederhana (Swinburne)Ada yang lebih sederhana lagi, yaitu multijagad (Einstein, Everett, Tegmark)

Tabel 2: Rangkuman Evolusi Argumentasi Kosmologis

Lanjut Part 5

Referensi

Craig, William Lane, 1980, The Cosmological Argument from Plato to Leibniz, London: The Macmillan Press.

Davis, Stephen, 1997, God, Reason & Theistic Proofs, Grand Rapids: Eerdmans.

Fakry, Majid, 1957, “The Classical Islamic Arguments for the Existence of God”, The Muslim World: 133–145

Hawking, S.W. 1988, A Brief History of Time, New York: Bantam Books

Hume, David, 1980, Dialogues Concerning Natural Religion, Indianapolis: Hackett

Musser, George, 2004, “Four Keys to Cosmology,” Scientific American, February: 43.

O’Connor, Timothy, 2008, Theism and Ultimate Explanation: the Necessary Shape of Contingency, London: Wiley-Blackwell

Oppy, Graham, 2002, “The Tristram Shandy Paradox,” Philosophia Christi 4, no. 2: 335–349

Reichenbach, Bruce R., 1972, The Cosmological Argument: A Reassessment, Springfield: Charles Thomas.

Scotus, John Duns, 1962, Philosophical Writings, Indianapolis: Bobbs-Merrill Co

Silk, Joseph, 2001, The Big Bang, San Francisco: W.H. Freeman

Swinburne, Richard, 1996, Is There a God? Oxford: Oxford University Press

Tegmark, M. 1997. On the Dimensionality of Spacetime. Class. Quantum Grav. 14, L69-L75

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.