Diposting Senin, 13 Februari 2012 jam 7:14 pm oleh Evy Siscawati

Hidup di Pedalaman Kalimantan dalam Setengah Milenium

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 13 Februari 2012 -


Kalimantan adalah sebuah dunia dengan kebudayaan eksotis, hutan-hutan rimba yang lebat, dan potensi tambang yang berharga. Banyak mitos mengelilingi pulau ini, dan banyak pula temuan tak terduga yang mengundang decak kagum. Baru-baru ini kita dikejutkan penemuan gajah Kalimantan, beberapa fauna unik tiada banding di dunia, dan berita pembantaian orangutan. Berikut akan saya ceritakan bagaimana kehidupan di pedalaman Kalimantan dari masa ke masa.

Tahun 2003

Pernah beberapa tahun lalu saya diajak teman saya mengunjungi orang tuanya di sebuah desa pedalaman Kabupaten Landak. Kami berangkat pagi hari dari Pontianak menggunakan sepeda motor, dan melintasi jalan raya yang biasa.

Sekitar tengah hari, kami sampai di sebuah daerah pedesaan di pedalaman Ngabang, terletak dengan indahnya di sebuah dataran tinggi pegunungan, dan mempersembahkan pemandangan pegunungan di pedalaman Kalimantan ini. Di sini saya bisa melihat kehidupan masyarakat yang jauh berbeda dengan di Jawa. Babi dan anjing mudah ditemukan di pinggir dan bahkan di tengah jalan raya. Kadang kami berpapasan dengan beberapa anak  berseragam sekolah dengan tanpa memakai sendal, berjalan mendaki dan menuruni bukit dengan kiri-kanannya hutan lebat. Turun dari bukit ini, kami melihat ibu-ibu menggendong keranjang khas, tampak tangguh menyisir jalan raya. Melihat pemandangan kiri kanan sangat menyenangkan. Beberapa pohon besar dibawahnya diletakkan sesajen, terletak rapi di kaki pohon, dan kadang tertutup belukar, pertanda tidak pernah diganggu sejak diletakkan di sana. Beberapa pohon raksasa yang sangat tinggi, lurus sempurna, dan berkulit licin, serta tanpa sebuah dahan pun sampai ketinggian setidaknya 20 meter. Pohon besar ini ibarat sebuah air mancur atau kembang api yang muncul dari dasar hutan, atau sebuah sulur yang setengah mati mencoba menggapai udara dari sesaknya rimba, hingga akhirnya berteriak terbebas sambil melontarkan semua kegembiraannya ke segala arah begitu lepas dari kanopi pohon tertinggi di hutan tersebut.

Menjelang sore kami tiba di sebuah kebun sawit, terletak di ujung jalan kerikil dan berliku-liku, tetapi dipagari oleh sungai berbatu di kiri dan rumah di selingi pohon buah di kanan. Desa asal temanku berada di belakang kebun sawit tersebut. Jalan masuk ke desa harus menembus kebun sawit dan sebuah jalan dari lumpur kuning membentang untuk siap kami lewati. Jalan masuk ini terlihat kolosal dengan dindingnya terbuat dari bukit yang dibelah. Jika diperhatikan dengan teliti, terlihat lengkung-lengkung bekas permukaan air dalam potongan bukit tersebut, menggambarkan sejarah geologis yang panjang dari daerah ini.

Menelusuri jalan lumpur kuning menuju rumah merupakan pekerjaan yang sangat berat. Sepeda motor kami terbenam berkali-kali hingga ke mesin. Ketika kami harus turun, lumpur menelan kaki kami hingga ke lutut. Tetapi beberapa penduduk setempat, dengan motor, juga tampak tak terlalu merasa kesusahan melewati jalan ini. Bagaimana para pekerja sawit melewati jalan ini, pikirku. Dan jawabannya segera muncul, sebuah traktor besar melintasi mengangkut sekitar 20 orang karyawan, kebanyakan perempuan, lewat dengan gagah, menembus lumpur dan menyisakan bekas ban yang dapat ditelusuri para pengendara motor seperti kami, sesaat sebelum bekas tersebut tertelan lumpur kembali.

Entah berapa panjang jalan ini, karena di kiri kanan selalu sama, pohon sawit yang masih muda, menghiasi perbukitan, dan sesekali rawa hitam yang memberikan kesan misterius. Sempat diperjalanan kami berpapasan dengan buldoser besar sedang membabat hutan dengan angkuh. Ada juga banyak bekas tunggul dan beberapa mobil strada, sebuah pick up besar buatan Jerman dengan roda kekar melewati kami. Beberapa mobil ini diadaptasi menjadi semacam angkot, dan selain traktor besar tadi, mobil inilah tampaknya transportasi masyarakat keluar masuk desa tanpa harus terbenam di lumpur tebal.

Segera setelah melewati perumahan karyawan, kami berjumpa dengan jalanan yang mulai biasa. Jalan setapak dari tanah dengan beberapa titian bambu untuk melintasi sungai kecil berbatu. Di seberang terdapat jalan yang cukup besar dengan kiri kanannya menjuntai bambu besar dan sesekali pula pepohonan.

Jauh di sore hari kami mencapai desa temanku, terletak di bagian paling ujung kebun sawit, dihimpit oleh sungai yang cukup besar dan hutan rimba. Desanya lega, bersih dan nyaman, banyak anak-anak berlarian, para pemuda, dan orang-orang tua. Aroma ini semakin semarak dengan banyaknya hewan ternak yang berkeliaran bebas di jalan desa: babi, sapi, ayam, anjing, kambing, bahkan beberapa ekor ular kecil dapat saya temukan di wilayah desa ini. Penduduknya sangat ramah dan rumah-rumah mereka cukup kecil, masing-masing menampung satu keluarga. Tidak ada listrik di sini, satu-satunya rumah berlistrik adalah rumah kepala desa, itupun dinyalakan sekitar jam 6 hingga 9 petang. Saat ini, warga sekitar desa akan datang berkunjung dan menonton televisi beramai-ramai.

Pada pagi hari, akan ada banyak orang dewasa pergi ke kebun sawit. Pekerjaan mereka sekarang adalah menjadi buruh kelapa sawit. Banyak di antara mereka adalah para mandor yang jabatannya cukup tinggi di kalangan buruh. Tampaknya perusahaan memberdayakan masyarakat sekitar untuk menjamin keamanannya dan mengimpor buruh kelas terbawah dari luar daerah, sehingga tidak ada kecemburuan ekonomi di wilayah ini.

Sungai yang berada di desa ini sangat menyegarkan. Airnya kehitaman, dengan batu-batu kecil di dasarnya. Air yang deras menyulitkan saya untuk berenang, namun tidak bagi anak-anak kecil yang dengan sangat gembiranya berlompatan bermain hingga ke tengah sungai, tanpa takut hanyut terbawa arus. Di ujung sungai yang terlihat di desa ini, terdapat sebuah daerah gelap yang memunculkan nuansa kengerian. Airnya hitam pekat, selain karena sifat dasar airnya, juga karena bayangan dari pohon-pohon lebat dan dahan-dahan yang menjuntai menutupi langit di atas air di wilayah tersebut. Tidak ada yang berani berenang ke sana, tetapi beberapa sampan milik warga sekitar sesekali menerobosnya dan lenyap dalam kegelapan rimba. Mungkin di seberang sana ada sebuah muara menuju sungai yang lebih besar, tetapi tidak adanya sampah dan segarnya air membuat saya betah berendam di sungai ini, melebihi siapapun yang mandi di sana saat itu.

Keanekaragaman hayati yang ada di sini mencerminkan sebuah pergulatan besar. Setiap jengkal tanah yang ada, dimakan oleh berbagai jenis tumbuhan, saling mencekik dan menginjak, berjuang mencapai udara tertinggi. Dalam rimba di pinggiran desa, kita dapat menyaksikan indahnya anggrek bulan berjuntaian, namun juga dapat melihat seramnya pohon yang tumbuh di atas dahan pohon lain. Akarnya menjulur mengejar tanah, rantingnya menusuk pohon tempatnya berpijak, dan kanopinya mendorong terus ke atas mengejar atmosfer. Ada sebuah kemiripan nyata antara pola persaingan antara pepohonan dengan bangunan-bangunan kokoh buatan manusia di kota. Istilah hutan rimba dapat dipertukarkan dengan kota rimba, dan prinsipnya tetap berlaku, perebutan lahan yang sempit dengan menjulangkan diri ke udara setinggi-tingginya. Jika di hutan rimba anda melihat banyak semut dan serangga aneka jenis berjalan menelusuri lantai hutan dan mendaki batang pohon raksasa, maka di kota rimba, anda melihat banyak manusia dan kendaraan aneka jenis berjalan menelusuri jalan raya dan gang-gang sempit diantara beton-beton menjulang. Saya malah membayangkan kalau setiap pohon di hutan rimba diganti menjadi bangunan dan setiap bangunan di kota buatan manusia diubah menjadi pohon.

Deskripsi di atas menunjukkan bagaimana masyarakat pedalaman di masa modern, setidaknya awal abad ke-21 ini. Jika kita mundur 150 tahun lalu, daerah ini akan lebih tradisional.

Tahun 1853

Alfred Russel Wallace, seorang biologiwan terkemuka dari Inggris telah mendokumentasikan dalam bukunya The Malay Archipelago mengenai bagaimana kehidupan masyarakat lokal Kalimantan. Walaupun gambarannya hanya mengenai wilayah jajahan Inggris di Serawak, hal ini dapat memberikan kepada kita kilasan bagaimana kehidupan masyarakat 150 tahun lalu.

Hutan dataran rendah Kalimantan pada masa itu adalah hutan yang penuh dengan orangutan. Hewan-hewan ini dipandang hama bagi masyarakat sekitar. Masyarakat sendiri umumnya hidup dari berkebun, terutama pohon durian, beternak, dan berladang. Orang utan sering mencuri buah durian di pohon mereka untuk dimakan, dan selalu lebih banyak bagian enak dari buah ini yang dibuang daripada dimakan. Bisa dibayangkan betapa kuatnya orang utan ketika ia mampu mengupas kulit durian tanpa alat, langsung di atas pohonnya. Ketika diusir, mereka dapat menjatuhkan durian muda dan karena pohon durian adalah pohon-pohon besar, hal ini berbahaya bagi siapapun yang ada di bawahnya. Apabila tidak ada buah, maka dahan pohon mereka yang mereka jatuhkan, untuk mengusir manusia.

Saya pernah menuturkan tentang pohon raksasa yang seperti kembang api di hutan tersebut. Wallace menceritakan bahwa masyarakat lokal dapat dengan mudah memanjat pohon tersebut. Masyarakat memanjatnya dengan membuat pasak-pasak yang disambungkan dengan bambu, sehingga menjadi tangga.

Wallace merupakan tokoh yang dihormati karena pekerjaannya adalah berburu orang utan. Sesuai penuturan Wallace, sebagai ucapan terima kasih, ia pernah diberi jamuan makan sebagai hadiah baginya oleh penduduk setempat. Ia diundang di sebuah rumah besar dimana para masyarakat berkumpul di beranda. Beliau di dudukkan di sebuah kursi kehormatan di bawah kanopi dari kain belacu putih dan saputangan berwarna. Dukun akan datang memberikan doa sambil menaburkan beras dari mangkuk di tangannya. Beberapa gong besar di pukul dan tarian setempat diperagakan.

Wallace tinggal di sebuah rumah bundar di desa ini. Beliau tidur dengan nyaman, sementara setengah lusin tengkorak manusia tergantung di atas kepalanya. Tengkorak ini diasap kering dan merupakan warisan adat mengayau yang datang dari masa yang lebih tua lagi.

Gambaran singkat di atas hanya satu dari sekian desa yang dikunjungi Wallace dalam petualangannya di Kalimantan. Jika anda tertarik anda dapat membeli buku “Borneo, Celebes, Aru: Menjelajah Kalimantan, Sulawesi & Kepulauan Aru” karangan beliau yang telah diterjemahkan dengan bagus oleh Anna Karina dan diterbitkan oleh Selasar Surabaya Publishing, 2010. Saya merekomendasikan buku ini karena deskripsi dan narasinya yang sangat apik, seolah membawa anda langsung ke pedalaman pulau dan hidup di sana di masa Darwin sedang sibuk menulis On the Origin.

Tahun 1703

Mundur 150 tahun ke belakang, kebudayaan di pedalaman Kalimantan akan berubah dengan cepat. Suku-suku di Kalimantan sebagian hidup dari berburu dan meramu. Masih banyak hewan besar di hutan untuk diburu. Masyarakat lokal membangun rumah panggung tinggi di tengah hutan, tempat dari beberapa puluh orang tinggal dalam satu atap. Di sekitar rumah panggung maupun di beberapa tempat di dalam hutan terdapat jebakan-jebakan untuk hewan yang mencoba masuk. Hewan ini jika terjebak, akan menjadi salah satu makanan bagi masyarakat, selain hewan ternak yang dibiakkan di bawah rumah panggung mereka. Salah satu bentuk jebakan ini adalah tali panjang dengan kalung-kalung dari rotan yang digantungkan rapat. Seorang pemburu di dalam hutan dapat mengejar hewan buruan, biasanya rusa, hingga tersudut dan mencoba kabur lewat lubang melingkar dari rotan tersebut. Seringkali leher mereka terjebak dan akhirnya dapat ditangkap dengan mudah. Dalam waktu tertentu akan diadakan perburuan massal ke dalam hutan.

Dalam waktu yang lebih jarang lagi, dimana terjadi konflik antar suku, akan dijalankan ritual mengayau atau berburu manusia. Selain sebagai resolusi konflik, mengayau juga dapat dijadikan usaha memikat wanita. Seorang pemuda yang ingin melamar seorang gadis dapat menghadiahi mas kawin kepala manusia dari suku lain. Mas kawin semacam ini adalah mas kawin yang paling mahal nilainya karena menunjukkan kalau sang pemuda rela bertaruh nyawa demi sang kekasih.

Hal ini terlebih lagi mengingat perhiasan dan batu-batu mulia bukanlah barang yang sangat langka di Kalimantan. Malahan kata Kalimantan sendiri berasal dari “Kali” dan “Intan” yang merujuk pada kekaguman masyarakat pendatang ketika menemukan masyarakat pedalaman yang rela menukarkan batu berharga ini dengan barang-barang produksi dari luar pulau. Versi Inggris yang menyebut pulau ini sebagai “Borneo” tidak seeksotis Kalimantan, apalagi nama ini berasal dari salah kaprah ketika Inggris mendarat di kerajaan Brunei dan mengira satu pulau ini adalah wilayah kekuasaan kerajaan kecil ini.

Kepala-kepala manusia hasil mengayau kemudian dikeringkan lalu digantung atau dimasukkan ke dalam keranjang. Kepala-kepala ini kemudian dilestarikan dan disimpan di beranda di rumah-rumah yang besar atau digantung di langit-langit rumah bundar.

Ritual mengayau telah lama ditinggalkan di Kalimantan akibat pengaruh eksternal maupun internal. Secara eksternal, penyebab praktek ini ditinggalkan adalah misionaris Kristen dan penjajahan. Di negara bagian Serawak, setidaknya di masa Wallace, hal ini sudah tidak dilakukan lagi, dan tampaknya hal ini disebabkan desakan dari pemerintah Inggris seperti halnya yang mereka lakukan pada praktek Sati di India, yang dipandang bar-bar oleh bangsa Eropa. Di wilayah Indonesia, pemerintah Belanda juga telah melakukan rapat besar para kepala suku dari suku-suku asli di akhir tahun 1800an untuk menghentikan kebudayaan mengayau. Masuknya agama Kristen juga mendorong lenyapnya ritual mengayau dimana darah manusia diganti dengan darah babi sebagai simbolisme atas hal yang sama.

Penutup

Kembali ke masa kini, dalam 450 tahun telah terjadi sebuah perubahan besar dalam pola hidup masyarakat pedalaman Kalimantan, mulai dari berburu, bercocok tanam, hingga industri. Beberapa kebudayaan, seperti kebudayaan Eropa, mengalami transisi ini dalam jangka waktu yang jauh lebih lama, hingga ribuan tahun lamanya. Carl Sagan bercerita tentang bagaimana masalah yang muncul akibat transisi kebudayaan yang terlalu cepat pada suku-suku di negara jajahan Eropa. Pada tahap paling ekstrim, adalah kepunahan suku karena penyakit dan pola hidup yang tidak sesuai dengan daya dukung psikologis masyarakat. Kemampuan masyarakat pedalaman Kalimantan untuk beradaptasi dengan cepat pada perubahan kebudayaan global merupakan keunggulan tersendiri yang pantas untuk dikagumi.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.