Diposting Sabtu, 28 Januari 2012 jam 12:44 pm oleh Evy Siscawati

Para Ilmuan Membuat Sel Syaraf Alzheimer dari Sel Punca Pluripoten

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Sabtu, 28 Januari 2012 -


“Menciptakan sel syaraf Alzheimer manusia murni dan fungsional di sebuah piring – ini belum pernah dilakukan sebelumnya,” kata peneliti senior Lawrence Goldstein PhD, professor jurusan kedokteran molekuler dan seluler, Penyidik Lembaga Medis Howard Hughes dan direktur program Sel Punca UC San Diego. “Ini adalah langkah awal. Ini bukan model yang sempurna. Ini bukti dari sebuah konsep. Namun sekarang kami tahu bagaimana membuatnya. Ia membutuhkan perawatan dan ketelitian luar biasa, sebuah pengendalian mutu yang ketat untuk menginduksi perilaku yang konsisten, namun kami berhasil melaksanakannya.”

 Temuan ini diterbitkan tanggal 25 Januari dalam edisi online jurnal Nature, memberikan metode baru yang dibutuhkan untuk mempelajari sebab-sebab penyakit Alzheimer (AD), sebuah dementia progresif yang mempengaruhi sekitar 5,4 juta orang Amerika. Lebih penting lagi, sel hidup ini memberikan alat penting untuk mengembangkan dan menguji obat untuk menyembuhkan gangguan tersebut.

 “Kita berurusan dengan otak manusia. Anda tidak dapat melakukan biopsi pada pasien hidup,” kata Goldstein. “Tapi, para peneliti harus bekerja sama, meniru beberapa aspek penyakit dalam sel non-syaraf manusia atau menggunakan model hewan yang terbatas. Kedua pendekatan ini sangat tidak memuaskan.”

 Goldstein dan koleganya mengekstrak fibroblast utama dari jaringan kulit yang diambil dari dua pasien dengan AD familiar (sebuah bentuk awal langka dari penyakit yang berasosiasi dengan predisposisi genetik), dua pasien dengan AD sporadis (bentuk umum yang sebabnya belum diketahui), dan dua orang yang tidak memiliki masalah neurologis. Mereka memprogram ulang fibroblast ke dalam sel punca pluripoten terinduksi (iPSC) yang kemudian terdiferensiasi menjadi sel-sel syaraf yang hidup.

 Sel syaraf iPSC dari pasien Alzheimer menunjukkan aktivitas elektrofisiologi normal, membentuk kontak sinaptik fungsional dan, secara kritis, menunjukkan indikator AD. Secara khusus, mereka memiliki level protein yang berasosiasi dengan penyakit ini dalam jumlah lebih tinggi dari normal.

Dengan sel syaraf Alzheimer in vitro, para ilmuan dapat lebih dalam menyelidiki bagaimana AD mulai dan memetakan proses biokimia yang pada gilirannya menghancurkan sel otak yang berasosiasi dengan fungsi kognitif seperti ingatan. Saat ini, penelitian AD sangat tergantung pada studi jaringan post-mortem, jauh setelah kerusakan terjadi.

“Perbedaan antara sebuah sel syaraf sehat dan sel syaraf Alzheimer itu kecil,” kata Goldstein. “Itu pada dasarnya datang dari kerusakan kecil yang menumpuk dalam waktu lama dan menghasilkan bencana.”

 Para peneliti telah menghasilkan beberapa temuan mengejutkan. “Dalam penelitian ini, kami menunjukkan kalau salah satu perubahan awal dalam sel syarat Alzheimer yang diduga sebagai peristiwa pemicu dalam arah penyakit ternyata tidak sesignifikan itu,” kata Goldstein, menambahkan kalau mereka menemukan peristiwa awal yang berbeda berperan lebih besar.

 Para ilmuan juga menemukan kalau sel syaraf dari salah satu dari dua pasien penderita AD sporadis menunjukkan perubahan biokimia yang mungkin berhubungan dengan penyakit ini. Penemuan ini menunjukkan kalau mungkin ada sub kategori gangguan dan karenanya, di masa depan, terapi potensial dapat ditargetkan pada kelompok khusus pasien AD.

 Walaupun baru awal, Goldstein menekankan kalau sel syaraf Alzheimer dari iPSC memberikan kesempatan besar dalam usaha yang hampir sia-sia ini. “Pada akhirnya, kita harus menggunakan sel-sel seperti ini untuk memahami Alzheimer lebih baik dan menemukan obatnya. Kita perlu melakukan apapun yang kita bias karena biaya penyakit ini terlalu besar dan buruk untuk dibayangkan. Tanpa solusi, ini akan membuat kita bangkrut – secara emosional maupun finansial.”

 Pendanaan penelitian ini datang sebagian dari Lembaga Penyakit Regeneratif California, Yayasan Weatherstone, Lembaga Kesehatan Nasional, Yayasan Hartwell, Dana Lookout, dan Yayasan McDonnell.

Sebuah aplikasi paten telah diajukan atas teknologi ini oleh Universitas California San Diego. Untuk informasi lanjut silakan ke:  techtransfer.universityofcalifornia.edu/NCD/22199.html

Peneliti lainnya adalah Mason A. Israel dan Sol M. Reyna, Lembaga Medis Howard Hughes dan Jurusan Kedokteran Molekuler dan Seluler UCSD dan mahasiswa pasca sarjana Ilmu Biomedis UCSD; Shauna H. Yuan, Lembaga Medis Howard Hughes dan Jurusan Kedokteran Molekuler dan Seluler UCSD dan Jurusan Neurosains UCSD; Cedric Bardy dan Yangling Mu, Lembaga Ilmu Biologi Salk; Cheryl Herrera, Lembaga Medis Howard Hughes dan Jurusan Kedokteran Molekuler dan Seluler UCSD;  Michael P. Hefferan, Jurusan Anestesiologi UCSD; Sebastiaan Van Gorp, Jurusan Anestesiologi, Pusat Medis Universitas Maastricht, Belanda; Kristopher L Nazor, Jurusan Fisiologi Kimia, Lembaga Penelitian Scripps; Francesca S Boscolo dan Louise C Laurent, Jurusan Kedokteran Reproduktif UCSD; Christian T Carson, Biosains BD; Martin Marsala, Jurusan Anestesiologi UCSD dan Lembaga Neurobiologi Akademi Sains Slowakia; Fred H Gage, Lembaga Studi Biologi Salk; Anne M Remes, Jurusan Kedokteran Klinis, Pusat Penelitian Klinis dan Neurologi, Universitas Oulu, Finlandia; dan Edward H Koo, Jurusan Neurosains UCSD.

 Tentang Penyakit Alzheimer

Diperkirakan 5,4 juta orang Amerika menderita penyakit Alzheimer, menurut Asosiasi Alzheimer. Dua pertiganya perempuan. Tahun 2050, ada 16 juta orang Amerika diproyeksikan menderita penyakit ini. Tahun 2011, biaya ekonomi perawatan pasien Alzheimer melebihi 183 miliar USD, diproyeksikan naik menjadi 1,1 triliun USD tahun 2050. Alzheimer adlaah penyakit keenam penyebab kematian di AS, membunuh 75 ribu orang per tahun. Saat ini, tidak ada obat untuk mencegah, mengubah, atau menyembuhkan penyakit ini.

Sumber berita:

University of California, San Diego Health Sciences

Referensi jurnal:

Mason A. Israel, Shauna H. Yuan, Cedric Bardy, Sol M. Reyna, Yangling Mu, Cheryl Herrera, Michael P. Hefferan, Sebastiaan Van Gorp, Kristopher L. Nazor, Francesca S. Boscolo, Christian T. Carson, Louise C. Laurent, Martin Marsala, Fred H. Gage, Anne M. Remes, Edward H. Koo, Lawrence S. B. Goldstein. Probing sporadic and familial Alzheimer’s disease using induced pluripotent stem cells. Nature, 2012; DOI: 10.1038/nature10821

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.