Diposting Jumat, 20 Januari 2012 jam 8:09 pm oleh Evy Siscawati

Sapi Chillingham Diasuh oleh Perubahan Iklim

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 20 Januari 2012 -


Tim ahli ekologi yang dipimpin oleh Dr Sarah Burthe dari Pusat Ekologi dan Hidrologi mampu menggunakan sapi untuk menemukan banyak hal tentang pengaruh perubahan iklim pada fenologi mamalia karena – semenjak penelitian Charles Darwin – informasi mengenai sapi ini telah dikumpulkan sejak tahun 1860.

 Menurut Dr Burthe: “Charles Darwin mendorong pemiliknya mencatat kelahiran, kematian, dan hal-hal ganjil, namun ia tidak dapat mengantisipasi kalau catatan ini dapat membantu kita memahami biologi perubahan iklim global.”

Dataset jangka panjang adalah alat yang penting untuk mempelajari perubahan iklim, namun sedikit sekali yang ada. “Data sapi Chillingham termasuk unik dan, sejauh yang kami ketahui, merupakan dataset fenologi mamalia terpanjang di dunia. Ini adalah dataset yang mengagumkan,” kata beliau.

Sapi Chillingham adalah feral – sebelumnya diternakkan namun sekarang dibiarkan di alam bebas dan tidak dikendalikan – dan memiliki ciri warna putih, telinga dan tanduk merah.

 Selain di amati selama berdekade, sapi Chillingham berbeda dari sebagian besar mamalia Inggris lainnya karena mereka melahirkan sepanjang tahun, bukan hanya di musim panas atau musim semi.

 Dengan memeriksa data dari 60 tahun terakhir, mereka menemukan kalau perubahan terbesarnya adalah meningkatnya jumlah dan proporsi anak sapi Chillingham yang lahir pada musim dingin. Dan ketika mereka membandingkan kelahiran musim dingin dengan data cuaca kantor meteorologi Inggris, mereka menemukan musim semi lebih hangat Sembilan bulan sebelumnya adalah yang bertanggung jawab.

“Sapi punya masa gestasi Sembilan bulan. Musim semi yang lebih hangat memungkinkan tanaman mulai tumbuh lebih awal, memberikan lebih banyak tanaman nutrisi bagi sapi, dan lebih banyak sapi yang dilahirkan sebagai akibatnya,” jelas Dr Burthe.

 Lebih banyak anak sapi yang lahir di musim dingin, berakibat buruk bagi kawanan, kata beliau: “Anak sapi yang lahir di musim dingin tidak terlalu sehat dan lebih mungkin mati sebelum mencapai usia satu tahun. Hal ini menunjukkan kalau sapi ini merespon perubahan iklim namun berpengaruh negatif pada diri mereka.”

 Hasil ini penting karena mereka menunjukkan kalau bahkan spesies yang mampu berkembang biak sepanjang tahun, yang diduga lebih bertahan dengan perubahan iklim, mengubah waktu jadwal perkembang biakan mereka dan perubahan ini berakibat negatif.

Studi ini juga menutup celah besar dalam pemahaman mengenai fenologi dan perubahan iklim dalam kelompok hewan yang penting. “Hewan feral sering merupakan komponen penting ekosistem dan digunakan sebagai alat untuk mengatur habitat, namun kita tahu sangat sedikit mengenai bagaimana mereka merespon terhadap perubahan iklim.”

 “Memahami konsekuensi perubahan fenologi dan bagaimana persebar luasan respon ini, bahkan dalam spesies yang relatif fleksibel seperti sapi yang mampu berkembang biak sepanjang tahun, membantu kita memprediksi besar perubahan potensial yang disebabkan oleh perubahan iklim.”

Sumber berita:

 Wiley-Blackwell

Referensi jurnal:

Sarah Burthe et al. Demographic consequences of increased winter births in a large aseasonally breeding mammal (Bos taurus) in response to climate change. Journal of Animal Ecology, 14 June 2011 DOI:10.1111/j.1365-2656.2011.01865.x

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.