Diposting Jumat, 20 Januari 2012 jam 7:55 pm oleh Evy Siscawati

Primata Purba Memiliki Cakar Mirip Lemur

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 20 Januari 2012 -


 Studi ini muncul dalam jurnal   PLoS ONE 10 Januari 2012 yang mempertanyakan studi tahun 2009 yang mendokumentasikan tidak adanya cakar penggaruk dalam spesies primata primitif lainnya yang dikatakan berhubungan dengan leluhur kera, monyet, dan manusia.

 Peneliti studi   Jonathan Bloch, asisten curator paleontology vertebrata di Museum Sejarah Alam Florida di kampus UF, mengatakan kalau primate berusia 47 juta tahun,   Notharctus tenebrosus, jelas memiliki cakar penggaruk di jari keduanya. Mengejutkannya, cakar ini mendatar mirip seperti kuku.

 “Notharctus mungkin member bukti kalau kuku berkembang dalam kelompok primata ini, atau ia dapat memberi tahu kita kalau cakar berkembang dari kuku dalam kelompok ini, yang akan membuat mereka lebih mirip lemur,” kata Bloch.

 Penulis utama,  Stephanie Maiolino, seorang mahasiswa pasca sarjana antropologi di Universitas Stony Brook, mengatakan kalau keberadaan atau ketiadaan cakar penggaruk sebelumnya digunakan untuk mengklasifikasikan kelompok primata: manusia, kera, dan monyet memiliki kuku, sementara lemur memiliki cakar penggaruk di jari keduanya.

“Namun tidak jelas kalau ketiadaan cakar penggaruk berarti sebuah spesies berkaitan dengan anthropoid, yaitu kelompok primata yang mencakup kera, manusia, dan monyet,” kata Maiolino, yang mempelajari primata selama enam tahun saat mengerjakan disertasi doktoralnya.

Tulang jari kaki yang disebutkan dalam studi baru ini memiliki tampilan mirip cakar di dekat dasarnya, namun ujungnya lebih datar, lebih mirip kuku monyet modern.

 Penulis lain, Doug Boyer, asisten professor antropologi fisik dari   Brooklyn College New York, mengatakan kalau primata ini “dalam proses mengevolusikan sebuah kuku dan menjadi lebih mirip manusia, kera dan monyet, atau dalam proses mengevolusikan cakar lebih mirip lemur.”

 “Saya sekarang percaya kalau lebih mungkin kuku tersebut adalah titik awal dan cakar penggaruknya berkembang sebagai sifat fungsional,” kata Boyer.

 Penemuan ini memunculkan pertanyaan mengenai studi tahun 2009 yang menjelaskan spesies primate punah  Darwinius masillae, yang diklasifikasikan dalam kelompok primate punah sejenis sebagai   Notharctus.

Darwinius sebelumnya ditafsirkan memiliki kuku di jari keduanya bukannya cakar penggaruk, yang membuat para peneliti berhipotesis kalau primate purba dan kelompoknya lebih dekat berkaitan dengan monyet, kera dan manusia ketimbang lemur.

Wighart Von Koenigswald, professor paleontology di Universitas Bonn di Jerman dan salah satu penulis dalam studi tahun 2009 mengatakan kalau ia tidak setuju dengan beberapa temuan pada studi saat ini, dan penelitian yang lebih barunya pada Darwinius dan taksa terkait menunjukkan kalau   Darwinius juga mungkin memiliki cakar penggaruk seperti lemur.

“Saya tidak tahu apakah ia bisa disebut lemuroid yang memunculkan transisi cakar penggaruk,” kata    Von Koenigswald. “Ada sejumlah detail yang saya setuju dalam laporan terakhir dan analisis kladistik.”

Boyer mengatakan kalau studi saat ini “menunjukkan tanpa keraguan kalau bentuk jari paling jelas dinyatakan sebagai bentuk perantara,” namun menunjuk kalau makalahnya sesungguhnya tidak pasti mengenai tipe transisi evolusi apa yang ditunjukkan.

 Dalam studi terbaru ini, para peneliti juga membandingkan anatomi dua primate punah,  Darwinius dan Notharctus, dengan primate fosil dan hidup yang diketahui untuk menentukan hubungan mereka dalam pohon keluarga. Setelah memeriksa data, baik dengan atau tanpa informasi tentang cakar penggaruk, perbandingan menunjukkan kalau kedua primate purba lebih dekat berhubungan dengan lemur daripada monyet, kera, dan manusia.

 Studi ini didanai sebagian oleh   National Science Foundation dan Brooklyn College of the City University New York. Peneliti lain antara lain Christopher C. Gilbert dari Hunter College di City University New York dan Joseph Groenke dari Stony Brook University.

Sumber berita:

 University of Florida.

Referensi jurnal:

Stephanie Maiolino, Doug M. Boyer, Jonathan I. Bloch, Christopher C. Gilbert, Joseph Groenke. Evidence for a Grooming Claw in a North American Adapiform Primate: Implications for Anthropoid Origins. PLoS ONE, 2012; 7 (1): e29135 DOI: 10.1371/journal.pone.0029135

 

 

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.