Ikan yang Meniru Gurita yang Meniru Ikan dari Perairan Indonesia
Suka dengan artikel ini?
Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh. Login
Minggu, 15 Januari 2012 - Permainan intimidasi dan imitasi di alam muncul dalam siklus lengkap di perairan Indonesia, dimana para ilmuan menemukan pertama kalinya asosiasi antara ikan rahang gundu hitam (Stalix cf. histrio) dan gurita penyamar (Thaumoctopus mimicus).
Tidak diketahui oleh para ilmuan hingga tahun 1998, gurita penyamar yang berbakat diketahui meniru mahluk laut beracun seperti ikan gepeng, ikan singa, dan ular laut dengan secara kreatif menyusun ulang tentakel-tentakelnya, mengadopsi gerakan karakteristik, dan menunjukkan pola warna coklat-putih. Karena perilaku ini, ia dapat berenang di laut terbuka tanpa takut akan predator.
Di sisi lain, ikan rahang hanyalah ikan kecil pemalu. Ia menghabiskan sebagian besar masa dewasanya di dekat dasar berpasir, dimana ia dapat segera kabur ketika melihat predator.
Dalam sebuah penyelaman di Indonesia bulan Juli 2011, Godehard Kopp dari Universitas Gottingen, Jerman, memfilmkan sebuah pasangan tak terduga antara kedua hewan. Seperti seorang pesuruh yang mengikuti bos besar, ikan rahang gundu hitam terlihat mengekor gurita peniru ketika ia bergerak di dasar berpasir. Ikan rahang ini memiliki penanda coklat-putih sama dengan sang gurita, dan sulit untuk melihatnya di antara banyak tentakel sang gurita. Sang gurita sendiri, terlihat tidak sadar atau mungkin tidak peduli.
Kopp mengirim videonya ke Rich Ross dan Luiz Rocha di Akademi Sains Kalifornia, yang menemukan spesies ikan rahang. Karena asosiasi ini belum diduga sebelumnya, mereka menerbitkan pengamatan mereka secara online bulan lalu dalam jurnal ilmiah Coral Reefs. Para pengarang menyimpulkan kalau ikan rahang menumpang gurita tersebut sebagai perlindungan, memungkinkannya bergerak menjauh dari gundukannya untuk mencari makan – sebuah kasus yang disebut “mimikri oportunistik.”
“Ini adalah kasus unik di terumbu karang bukan hanya karena model untuk ikan rahang adalah peniruan itu sendiri, namun juga karena merupakan kasus pertama ikan rahang terlibat dalam peniruan,” kata Dr. Luiz Rocha, asisten kurator ichtiologi di Akademi Sains Kalifornia. “Sayangnya, terumbu karang di segitiga koral Asia Tenggara terus menurun sebagian besar karena aktivitas manusia yang merusak, dan kita dapat kehilangan spesies yang terlibat dalam interaksi unik seperti ini bahkan sebelum kita mengetahuinya.”
Video gurita-ikan rahang ada di www.youtube.com/watch?v=u4kZAgny5eg
Sumber berita:
California Academy of Sciences.
Referensi lanjut:
L. A. Rocha, R. Ross, G. Kopp. Opportunistic mimicry by a Jawfish. Coral Reefs, 2011; DOI: 10.1007/s00338-011-0855-y
- Tujuan Hidup yang Lebih Besar Melindungi Perubahan Berbahaya di Otak yang Berasosiasi dengan Penyakit Alzheimer
- Resiko Cacat Lahir Lebih Tinggi pada Reproduksi yang Dibantu
- Pandangan Berbeda Mengenai Tuhan Mempengaruhi Perilaku Mencontek
- Manfaat Pengasuhan Anak Bermutu Tinggi Tetap Terasa Ketika Individu telah Berusia 30 Tahun
- Korupsi Menghambat Pertumbuhan Ekonomi Negara Berpenghasilan Rendah
- Asal Usul Suku-Suku Di Indonesia
- Kelelawar, Paus, dan Bio-Sonar: Temuan Baru Tentang Perilaku Mencari Makan Paus Mengungkapkan Konvergensi Evolusi Mengejutkan
- Tuhan dan Sains Modern (Part 11): Penutup
- Untuk Mendorong Kepuasan Konsumen, Pemilik Harus Memperhatikan Kepuasan Kerja Karyawan
- Kepulauan Pasifik di Khatulistiwa Dapat Menjadi Tempat Pengungsian Terumbu Karang dalam Iklim yang Menghangat Karena Perubahan Arus Samudera
