Diposting Senin, 9 Januari 2012 jam 7:09 pm oleh Evy Siscawati

Jebakan Operasionalisme

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 9 Januari 2012 -


Manusia mencari solusi atas suatu masalah juga menggunakan perspektif. Kadang, suatu perspektif berhasil menemukan solusi, kadang pula dibutuhkan perspektif lain. Perhatikan lingkaran berikut dan bayangkan kalau ia sebuah rel kereta api. Dapatkah anda yang berada di dalam rel berusaha mencapai solusi yang berada di titik pusat lingkaran? Tidak mungkin? Karena anda berputar-putar? Pikirkan lagi dengan perspektif berbeda.

 

Sebenarnya, anda bisa bergerak berputar pada rel di keliling lingkaran dan tiba di pusat lingkaran tanpa membuat jembatan dari keliling menuju pusat lingkaran tersebut. Setelah anda membuat keliling lingkaran, balikkan kertas anda dan buat jalur ke titik tengah tersebut.

Kadangkala keterbatasan adalah sebuah ilusi. Kita butuh berpikir dengan perspektif baru yang kadang tak terduga oleh manusia lain. Manusia modern dapat dipandang sebagai kelompok manusia yang paling mudah tertipu. Cobalah lihat gambar berikut. Mana garis yang lebih panjang?

 

Kedua garis itu sama panjang. Tidak percaya ukur sendiri. Manusia dalam peradaban “modern” seperti kita akan memaksakan kalau garis bawah lebih panjang dari garis atas. Studi yang dilakukan Segall et al tahun 1966 pada beberapa suku di Afrika menunjukkan kalau suku-suku ini mampu mengenali kalau kedua garis di atas (yang disebut ilusi Muller-Lyer) adalah garis yang sama panjang. Suku Shan di Afrika Selatan yang hidup dengan sederhana, bolehlah anda menyebutnya “primitif” dapat mengenali dengan seketika kalau kedua garis di atas sama panjang. Ada sebuah hubungan antara semakin mudahnya orang tertipu ilusi optik dengan semakin kompleksnya gaya hidup manusia tersebut.

Ada banyak hal menarik ketika anda mengkaji kehidupan suku-suku primitif di dunia. Filsuf antropolog van Peursen pernah bicara kalau tahap paling dasar suatu kebudayaan adalah penuhnya ilusi (mitos) dalam hidup manusia. Beliau merujuk pada dewa-dewa, animisme, dinamisme, beserta sistem kosmologi dan kosmogoni yang menyertainya dari berbagai suku primitif di dunia. Sayang ada satu suku yang memberi paradoks pada teorinya. Suku Piraha dari lembah Amazon Brasil.

Anggota suku Piraha hanya berjumlah 420 orang sekarang. Mereka hidup tanpa sejarah, tanpa cerita dewa-dewa, tanpa tuhan, tanpa hirarki sosial, tanpa pemimpin, dan bahkan tanpa sistem bilangan kecuali satu dan “banyak”, tanpa nama untuk individu, tanpa nama untuk jenis kelamin, . Mereka makan ketika dapat, tidak ada istilah menyimpan. Mereka tidak tahu bagaimana menggambar, ketika diminta menggambar manusia, hewan, pohon, sungai, mereka hanya menggambar garis-garis.  Pernah antropolog mengabarkan tentang Tuhan, namun ketika mereka bertanya “apakah kamu pernah bertemu Tuhan?” dan sang misionaris menjawab tidak, mereka pun tidak percaya dan kehilangan minat.

Antropolog Daniel Everett menyatakan “Piraha adalah masyarakat yang sangat cerdas dalam memastikan hidup di dalam rimba: mereka tahu manfaat dan lokasi semua tanaman penting di hutan mereka; mereka paham perilaku hewan setempat dan bagaimana menangkap atau menghindarinya; dan mereka dapat berjalan ke kedalaman hutan telanjang, tanpa alat tanpa senjata, dan pulang tiga hari kemudian dengan sekeranjang buah, kacang, dan hewan buruan kecil.”

Suku Piraha dan suku-suku kecil yang kita sebut primitif mungkin hanya membutuhkan satu perspektif bersama untuk hidup. Sementara itu, kita hidup dalam kebudayaan besar berisi lebih dari lima miliar manusia. Kebudayaan kita menuntut kompleksitas dan menuntut pula beberapa perspektif untuk menemukan solusi atas hidup kita yang kompleks.

Dalam dunia seni, hal ini tercermin pada bentuk-bentuk lukisan. Di masa lalu, kebudayaan zaman batu sering dilukiskan dalam bentuk garis-garis. Manusia dan alamnya dilukis secara satu dimensi. Ketika peradaban semakin maju, lukisan manusia mulai memasuki perspektif dua dimensi. Lihat bagaimana reliefBorobudur atau hieroglif Mesir menggambarkan alam. Kemudian dalam peradaban Renaissans, lukisan-lukisan memasuki dunia tiga dimensi. Akhirnya, baru di abad 20 kemarin, Picasso dikatakan melukis dengan perspektif dimensi keempat dan merayakan lahirnya aliran lukisan kubisme.

Ya, hidup kita semakin kompleks namun kita sulit melihat dengan perspektif lain. Hal ini karena dunia membentuk kotak-kotak standar. Van Peursen menyebutnya operasionalisme. Kita membuat standar-standar, entah itu standar nasional pendidikan, standar  perencanaan instalasi listrik, standar berpikir, dan sebagainya. Kita membuat standar yang akhirnya memenjara kita. Sulit manusia keluar dari standar. Standar memudahkan kita namun membuat kita sulit melihat kalau ada yang lebih baik.

Finalisasi dalam bentuk standar ini juga membuat perhatian kita kadang terlepas dari substansi dan makna. Ambil contoh standar mengaji atau standar menjalankan sholat, ritual-ritualnya, kadang kita berprasangka buruk pada orang lain hanya karena berbeda cara sholat atau cara mengaji. Kita sibuk memperbaiki diri untuk dapat sholat atau mengaji dengan baik sesuai standar. Akibatnya, kita kadang lupa apa inti sesungguhnya dari sholat atau mengaji itu. Ayat dilantunkan demi operasionalisme, tanpa kita mengerti apa yang kita ucapkan.

Menurut van Peursen, operasionalisme merupakan efek samping dari alam pikiran fungsional. Alam pikiran fungsional pada manusia berurusan dengan “bagaimana?” bukan “apa?” yang mencirikan alam pikiran ontologis. Orang Piraha mungkin bukan primitif sama sekali, mereka mungkin boleh disebut masyarakat fungsional murni. Mereka tidak bicara tentang “apa pohon itu?” tetapi “bagaimana memanfaatkan pohon itu?” Mereka tidak bicara “apakah alam ini?” tetapi “bagaimana mengelola alam ini?”

Saya dan istri saya pernah merasakan bagaimana dampak dari operasionalisme. Ketika kami kos di tempat baru, pintu rumah kos tersebut tidak memiliki gerendel pintu. Saya membelinya dan berniat memasangnya. Ada gerendel dan empat buah sekrup serta sebuah penahan slot diberikan oleh penjual. Saya ingin memasangnya tetapi kebingungan bagaimana memasang gerendel tersebut. Sekrup yang dipakai tidak terlalu dalam dan penahan slot letaknya tidak pas. Istri saya bicara bijaksana, “Sayang, kita hanya butuh gerendelnya” lalu membuang sekrup dan menggantinya dengan paku. Ia juga membuang penahan slot karena barang itu tidak perlu.

Saat itulah saya sadar kalau saya terjebak operasionalisme. Sekrup dan penahan slot adalah komponen standar yang membuat pikiran saya teralih pada standarisasi tersebut, alih-alih pada tujuan dasar pembelian gerendel tersebut.

Mungkin banyak orang seperti saya. Seringkali terjebak operasionalisme dan bergulat dengannya. Cobalah melihat dengan perspektif lain dan melihat dasar masalah yang sesungguhnya. Siapa tahu anda menemukan kebijaksanaan.

Referensi lanjut

  1. Everett, Daniel. 2009. “Pirahã Culture and Grammar: a Response to some criticisms”. Language 85 (2): 405–442
  2. Gordon, Peter. 2004. Numerical Cognition Without Words: Evidence from Amazonia, Supporting Online Materials, p. 5. Science.
  3. Segall, M. et al. 1966. The Influence of Culture on Visual Perception. The Boobs Merril Company.
  4. Van Peursen, C.A. 1988. Strategi Kebudayaan (terjemahan). Kanisius.
Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.