Diposting Senin, 2 Januari 2012 jam 2:11 pm oleh Evy Siscawati

Layang-Layang Betina Menguji Make-Up Genetik Pasangannya

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 2 Januari 2012 -


 Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal online   BMC Evolutionary Biology.

Bagaimana betina memilih pasangan? Gagasan awal Darwin adalah jantan paling sintas akan menjadi paling diinginkan dan karenanya paling mungkin memiliki pasangan dan ini telah menjadi batu landasan teori evolusi sejak publikasi  “The Descent of Man” tahun 1871. Darwin mengajukan kalau karakteristik seksual sekunder memungkinkan betina melihat sekilas jantan mana yang terbaik, yaitu terbaik untuk setiap betina. Jantan ini akan menjadi pasangan terpilih karena ia akan menurunkan gen terbaik yang mungkin pada generasi selanjutnya, karenanya meningkatkan kesintasan spesies.

 Pada akhir abad ke-20, walau begitu, sejumlah peneliti – mungkin karena mereka tidak memandang dirinya sebagai pejantan yang paling diinginkan – mulai bergerak menjauh dari gagasan ini dan mempertimbangkan gagasan kalau betina berbeda mungkin tertarik secara intrinsik untuk memilih jantan berbeda. Ada bukti yang terus bertambah kalau hewan memilih pasangan yang sesuai dengan mereka dan disarankan kalau gen dari kompleks histokompatibilitas mayor ( major histocompatibility complex – MHC) mungkin mempengaruhi pilihan kawin. Gen-gen MHC memiliki peran kunci dalam sistem kekebalan dan keturunan pasangan dengan alel MHC yang sangat berbeda dapat lebih resisten pada penyakit dan karenanya lebih sintas secara genetik.

 Kelompok Hoi di Lembaga Etiologi Konrad Lorenz, bagian dari Universitas Kedokteran Hewan, Wina, sejak Januari 2011 menyelidiki gagasan ini pada layang-layang rumahan. Para ilmuan memeriksa pilihan pasangan burung ini dengan eksperimen pilihan, dimana sejumlah betina ditawarkan memilih dari empat pasangan: seorang betina kontrol dan tiga jantan berbeda. Betina ditemukan menghabiskan sedikit sekali waktu disamping betina kontrol, membenarkan kalau pilihan mereka seksual dan bukan semata sosial. Jika betina melihat pasangan kawin terbaik, sebagian besar betina akan memilih satu atau sedikit jantan namun para ilmuan tidak menemukan bukti kalau ini yang terjadi. Lebih jauh, mereka tidak dapat menunjukkan kalau betina memilih jantan dengan keanekaragaman MHC individual tinggi. Walau begitu, mereka memang menemukan kalau betina dengan jumlah alel MHC rendah paling tertarik pada jantan dengan jumlah alel demikian yang tinggi. Hasil ini menunjukkan kalau burung tersebut memiliki sebuah mekanisme untuk menghitung jumlah alel MHC pada tawaran dari jantan individual.

 Penelitian ini menjadi bukti eksperimental pertama kalau pilihan kawin burung dipengaruhi oleh gen dari kompleks histokompatibilitas mayor. Seperti dikatakan oleh Hoi, “penemuan kami menunjukkan kalau burung tidak semata memilih pasangan paling menarik namun memilih yang paling sesuai secara individual dengan mereka. Seperti manusia, burung terlihat lebih memperhatikan nilai dalam dari pasangan potensialnya.”

Sumber berita:

  Veterinärmedizinische Universität Wien.

Referensi jurnal:

Matteo Griggio, Clotilde Biard, Dustin J. Penn, Herbert Hoi. Female house sparrows ‘count on’ male genes: experimental evidence for MHC-dependent mate preference in birds. BMC Evolutionary Biology, 2011; 11 (1): 44 DOI: 10.1186/1471-2148-11-44

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.