Diposting Senin, 2 Januari 2012 jam 2:07 pm oleh Evy Siscawati

Bahasa Tanpa Angka: Suku Amazon Tidak Punya Kata untuk Menyatakan ‘Satu,’ dan Bilangan Lainnya

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 2 Januari 2012 -


Tim ini, dipimpin oleh professor otak dan ilmu kognitif MIT, Edward Gibson, menemukan kalau anggota suku Piraha di Brasil barat laut terpencil menggunakan bahasa untuk menyatakan kuantitas relatif seperti “sedikit” dan “banyak,” namun tidak bilangan pasti.

Sering diasumsikan kalau menghitung adalah bagian tak terlepaskan dari kognisi manusia, kata Gibson, “namun inilah kelompok yang tidak menghitung. Mereka dapat belajar, namun itu tidak berguna bagi kebudayaan mereka, jadi mereka tidak pernah mengambilnya.”

 Studi ini, yang tampil pada jurnal Cognition tanggal 10 Juni 2008, menawarkan bukti kalau kata angka adalah konsep yang dibuat oleh kebudayaan manusia sebagaimana dibutuhkan, dan bukan bagian inheren dari bahasa, kata Gibson.

 Penelitian ini didasarkan oleh studi tahun 2004, yang menemukan kalau Piraha memiliki kata-kata untuk menyatakan kuantitas “satu”, “dua”, dan “banyak”. Para peneliti MIT mengamati fenomena yang sama ketika mereka meminta penutur Piraha menyatakan himpunan benda ketika ditambahkan, dari satu hingga 10.

Walau begitu, tim MIT memutuskan menambahkan prosedur baru – mereka mulai dengan 10 benda dan meminta anggota suku ini untuk menghitung mundur. Dalam eksperimen tersebut, anggota suku menggunakan kata yang sebelumnya dimaknai “dua” ketika ada lima atau enam benda yang ada, dan memakai kata “satu” untuk sembarang kuantitas antara satu dan empat.

 Hal ini menunjukkan kalau “itu bukan bilangan menghitung sama sekali,” kata Gibson. “Mereka menandai kuantitas relatif.”

 Ia mengatakan kalau tipe strategi menghitung seperti ini belum pernah diamati sebelumnya, walaupun bisa ditemukan dalam bahasa lain yang hanya memiliki kata menghitung “satu”, “dua”, dan “banyak”.

Makalah tersebut adalah bagian dari proyek yang lebih besar yang menyelidiki hubungan antara kebudayaan Piraha dan kognisi serta bahasa mereka, menguji beberapa dakuan yang diajukan oleh Daniel Everett, seorang linguis dari   Illinois State University, dalam Current Anthropology tahun 2005.

Penemuan lain dari proyek ini adalah Piraha dapat melakukan tugas mencocokkan eksak sejauh tidak ada komponen mengingat di dalamnya, namun ketika ada komponen mengingat, mereka hanya melakukan pendekatan. Hal ini menunjukkan kalau bahasa adalah sebuah teknologi kognitif yang membantu tugas mengingat manusia.

Pengarang utama makalah ini adalah  Michael Frank, seorang mahasiswa pasca sarjana di lab Gibson. Pengarang lain adalah Evelina Fedorenko, seorang rekan pasca doctoral di Lembaga Penelitian Otak McGovern di MIT, dan Everett sendiri.

Sumber berita:

  Massachusetts Institute Of Technology.

 

Referensi jurnal

Frank MC, Everett DL, Fedorenko E, Gibson E. Number as a cognitive technology: evidence from Pirahã language and cognition. Cognition. 2008 Sep;108(3):819-24. Epub 2008 Jun 10.

Referensi lanjut

Daniel Everett, “Cultural Constraints on Grammar and Cognition in Pirahã”, Current Anthropology, Volume 46, Number 4, August–October 2005, pp. 621-46.

Gordon, P. (2004). Numerical cognition without words: Evidence from Amazonia. Science, 306, 496–499.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.