Diposting Rabu, 21 Desember 2011 jam 10:52 pm oleh Evy Siscawati

Ahmad Wahib: Perbedaan Ilmuan Sains Alam dan Ilmuan Sains Sosial

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 21 Desember 2011 -


 

Sekitar sebulan lalu, di kampus diadakan sebuah diskusi mengenai Ahmad Wahib. Salah seorang pemikir pluralisme Indonesia. Diskusinya terkesan biasa saja dan terlihat kurang berkesan. Pertama, temanya berjudul Ahmad Wahib, tetapi yang dibicarakan adalah pluralisme. Kedua, para peserta diskusi tidaklah plural, tidak ada wakil dari pihak-pihak yang disebutkan oleh Ahmad Wahib dalam puisinya : teis, ateis, muslim, kristiani, artis, atlit, kafirin, muttaqin, yang ada adalah para pluralis yang tidak mau membawa identitasnya. Ketiga, tidak mirip diskusi karena ada pemateri dan sesi tanya jawab, bukannya saling tukar pikiran antar peserta, walaupun pemateri bicara kalau ia tidak ingin mendoktrin.

Tetapi, Ahmad Wahib memang benar-benar menggugah. Hanya acaranya saja yang kurang  atraktif. Ketika saya membaca buku diary beliau: Pergolakan Pemikiran Islam, saya melihat banyak sekali pemikiran yang berani dan progresif. Tampaknya beliau adalah tokoh kedua yang jadi panutan saya selain Charles Darwin.

 

Ahmad Wahib

Anyway, Apakah anda mengenal Ahmad Wahib? Jika belum, kami merekomendasikan beliau. Silakan kunjungi situs http://www.ahmadwahib.com  untuk mengenalnya. Dan hey, ada sayembara esai, blog, dan video pluralisme di sana, siapa tahu anda mendapatkan 10 juta rupiah.

Berikut biografi singkat beliau. Beliau lahir di Sampang, Madura, tahun 1942. Di SMA ia jurusan IPA dan kuliah juga di MIPA UGM, walau tidak sempat meraih gelar sarjana. Tahun 1971 beliau kuliah lagi, kali ini di STF Driyarkara. Ia sering disandingkan dengan Soe Hok Gie. Jika Gie dapat dipandang mewakili sekulerisme, Wahib dapat dipandang mewakili Islam Liberal. Jika Gie berangkat dari Mapala, Wahib berangkat dari HMI. Mereka berdua juga hidup sezaman dan menariknya, sama-sama mati muda (itu mungkin mengapa buku catatan harian mereka cukup laris karena tidak terlalu tebal). Wahib wafat pada usia 31 tahun tepatnya tanggal 30 Maret 1973 karena kecelakaan dan meninggalkan buku catatan yang mengungkapkan pemikiran beliau. Wahib mungkin muncul ke permukaan, seperti halnya Gie, sebagai wacana politik, tapi tak apalah. Toh yang bicara adalah Wahib sendiri, bukannya para pendukung beliau.

Jadi apa yang dilontarkan Wahib ke lantai di depan kita? Wacana tentang bangsa, negara, agama, filsafat sains, pergerakan mahasiswa, hingga kisah cinta. Inti dari doktrinnya adalah “toleransi antar agama”, maklum zamannya memang zaman yang penuh intoleransi. Lebih luas lagi, ia bicara tentang pluralisme:

“Bagi kita, teis dan ateis bisa berkumpul, muslim dan kristiani bisa bercanda, artis dan atlit bisa bergurau. Kafirin dan muttaqin bisa bermesraan. Tapi, pluralis dan anti-pluralis tak bisa bertemu”

Hanya segelintir dari catatan harian beliau yang bicara tentang filsafat sains. Tapi karena situs ini adalah situs www.faktailmiah.com, maka yang kita sorot adalah masalah filsafat sainsnya. Yang bisa saya temukan hanyalah catatan tanggal 10 April 1969 tentang perbedaan macam-macam ilmuan, 27 April 1969 tentang moral, 19 Maret 1969 tentang mental primitif, dan tanggal 6 Agustus 1972 tentang hati nurani. Saya akan mengangkat catatan tanggal 10 April 1969, yang lain mungkin di lain kesempatan.

Refleksi

Tahukah anda perbedaan antara ilmuan sosial dan ilmuan alam ketika berdebat sesama mereka? Selama ini saya hanya bergaul dengan ilmuan sosial. Yah, memang saya jadi orang yang agak ‘aneh’. Seorang mahasiswi sains alam yang bergaul dengan para mahasiswa sains sosial. Tetapi selama berperan sebagai pengamat, saya menemukan sebuah kecenderungan. Dan ketika sungguh saya menghadiri pertemuan para ilmuan sains alam yang memperdebatkan suatu isu keilmuan, saya menemukan perbedaan yang sangat mencolok. Dan itu ternyata juga ditemukan oleh Ahmad Wahib, 42 tahun lalu.

Perdebatan Para Ilmuan Sosial

Anggap ada 20 orang peserta diskusi dengan satu moderator. Moderator  menuturkan pendapatnya tentang suatu gejala sosial sebagai wacana pembuka. Moderator kemudian mempersilakan peserta berdiskusi. Hampir semua peserta mengangkat tangan. Satu orang dipersilahkan berkomentar. Ia bicara panjang lebar, begitu panjangnya hingga moderator gerah. Peserta diskusi lain berebut menyerang. Moderator akhirnya terdiam dan membiarkan para ilmuan sosial berdebat tanpa arah yang jelas. Dalam waktu satu jam, diskusi terarah berubah menjadi ajang pencarian kemenangan pendapat yang riuh. Hal ini saya temukan dalam hampir semua diskusi ilmu sosial yang saya hadiri. Pada saat semua peserta kelelahan, suara yang paling didengar bukanlah yang paling benar, tetapi yang paling pandai bicara dan kekeuh memaksakan pendapatnya.

Perdebatan Para Ilmuan Alam

Kembali ke posisi awal. Moderator melontarkan wacana. Ketika moderator meminta pendapat dari forum, sedikit yang mengangkat tangan. Ketika dipersilakan, salah satu ilmuan bicara panjang lebar dengan berbagai rumus dan hitungan di papan tulis. Semua mata ilmuan lainnya tertuju pada pendapatnya, bukan pada beliau. Beberapa mencatat dan menghitung kembali dengan benar serta membetulkan hitungan sang ilmuan. Hanya ada satu dua orang yang mengkritik dan kembali ketika mereka bicara, semua mata tertuju pada pendapat dan analisisnya. Dalam waktu satu jam, diskusi telah berubah menjadi kuliah dengan dua kelompok manusia, satu kelompok pembicara dan satu kelompok pendengar. Kelompok pembicara saling berdebat sementara kelompok pendengar menyaksikan dengan seksama dan mencatat hal-hal penting yang mereka permasalahkan. Strata keilmuan terlihat dengan jelas dimana ada para pakar dan para sub pakar yang menjadi pendengar. Pada saat semua peserta kelelahan, suara yang paling didengar adalah suara moderator yang melakukan resume dan membuat sejumlah catatan pertanyaan untuk dikaji lebih lanjut. Saya adalah salah satu dari kelompok pendengar. Dalam hati saya berkata, betapa tidak adanya keinginan saya untuk berpendapat, mereka begitu luas pengetahuannya sementara pengetahuan saya begitu sedikit.

Apa Perbedaan Utamanya?

Karakteristik dari kedua jenis ilmu ini menyebabkan bagaimana iklim diskusi keilmuan yang muncul. Ilmu sosial mengkaji masalah interaksi antar manusia. Para peserta diskusi adalah manusia dan mereka punya pengalaman berinteraksi antar manusia hampir sepanjang hidupnya. Karenanya setiap orang dapat berbicara. Berbeda dengan ilmu alam. Ilmu alam mengkaji objek tak hidup yang tidak semua orang punya pengalaman dengan objek tersebut. Segera terbentuk gradasi pengalaman dan yang paling berpengalaman adalah yang paling dipercaya. Karenanya, tidak setiap orang dapat berbicara. Itu perbedaan utamanya.

Tetapi, Ahmad Wahib bertindak lebih jauh dengan mengatakan bahwa perbedaan ini bukan hanya dalam segi keilmuan, tetapi juga dalam segi mental. Berikut tulis beliau di halaman 279:

“Para pure natural scientist seperti ahli-ahli Fisika dan Kimia langsung berbicara dengan ciptaan Tuhan. Karena itu merekalah yang paling makin merasa tidak tahu dan paling makin merasa banyak yang  tak diketahui. Selangkah mereka lebih maju dalam penyelidikan dan pengetahuannya, lima langkah horison ilmu pengetahuan itu lebih meluas dan itu harus pula diketahuinya. Horison ilmu pengetahuan makin jauh. Yang ingin dicapai makin jauh. Karena itulah para ahli fisika, kimia, matematika adalah orang-orang yang paling mengetahui keterbatasan akal manusia, walaupun mereka itu yang paling banyak mempergunakan akal.

Hal seperti ini tidak dialami oleh “sarjana-sarjana” sosial, eekonomi, politik. Mereka akan sangat percaya pada akalnya, kagum dan silau akan kemajuan sains dan teknologi buah karya natural scientist. Natural scientist sendiri tak silau dengan karyanya. Itulah sebabnya, para ahli fisika, kimia dan matematika adalah yang paling potensial sebagai pengabdi Allah, sedang para ahli ekonomi, sosial, politik adalah yang paling potensial sebagai pemberontak terhadap Allah.”

Yah, sejauh ini saya sangat setuju dengan pendapat Wahib. Dari gambaran dua jenis diskusi di atas, para natural scientist atau ilmuan sains alam, ketika tafsir yang muncul berbeda, para natural scientist menunda kesimpulan hingga diperoleh hasil baru. Sebaliknya, para ahli sosial (termasuklah politik dan ekonomi), ketika terjadi perbedaan tafsir saling menyerang satu sama lain. Berkuat mereka berpendapat kalau dirinyalah yang paling benar.”

Berikut perbedaan antara diskusi ilmu alam dan diskusi ilmu sosial dalam bentuk tabel:

 Diskusi ilmu alamDiskusi ilmu sosial
Mengajukan pendapatHanya sedikitHampir semua
Stratifikasi sosialAda dua: pakar dan non-pakarTidak ada
Tujuan diskusiMenemukan kebenaranMenemukan pemenang
Peran moderatorKuatLemah
Hasil diskusiPenelitian lebih lanjutSetiap pihak memegang teorinya lebih kuat lagi
Keanekaragaman pendapatHampir tidak adaPlural
Pendapat pembicaraDidengarkan dengan seksamaTidak didengarkan seksama, karena sibuk menyusun pendapat sendiri untuk diajukan

Shermer pernah pula mengkritik hal ini dalam salah satu tulisannya di majalah Scientific American. Berikut saya akan memberikan tambahan sebuah artikel dari jurnal Science yang bernada serupa. Lima belas tahun lalu, Science menerbitkan prediksi masing-masing dari 60 ilmuan mengenai masa depan bidang ilmu mereka. Ilmuan sains alam menulis tentang berbagai penemuan besar akan terjadi, akan ada teknologi-teknologi baru, masalah-masalah tertentu akan terjawab, dan kebijakan baru akan dibuat untuk masalah-masalah baru. Sementara itu, mengesankannya, para ilmuan sosial tidak menyebutkan satupun masalah yang akan terjawab di masa depan, tidak pula mereka menyebutkan akan ada penemuan dan penambahan pengetahuan. Mereka justru menulis tentang apa yang akan dipelajari nanti. Dengan kata lain, mereka mengatakan kalau di masa depan kita akan membahas dan berdiskusi tentang hal yang berbeda dari sekarang. Anda bisa melihat perbedaannya?

Diskusi Sains Sosial

Diskusi Sains Sosial

Diskusi Sains Alam

Diskusi Sains Alam

Antropologi

Tampaknya satu ilmuan sosial besar dunia benar-benar mengakui perbedaan ini. Ketika diwawancarai seorang wartawan Scientific American, Clifford Gertz, bapak antropologi yang pernah meneliti tentang kebudayaan Bali, mengatakan tentang bagaimana sesungguhnya perkembangan antropologi. Menurutnya, antropologi adalah menjunjung tinggi pluralisme, sedemikian tinggi hingga ilmu tersebut menjadi abnormal dibandingkan ilmu lainnya.

Sudah sejarahnya, sains alam berusaha mencapai sebuah teori paduan, theory of everything. Segala teori dihancurkan, diperbaiki, dipecah, dipadu, hanya untuk menemukan satu teori terbaik yang paling sesuai menjelaskan realitas. Jadi, pluralisme teori dalam sains alam adalah aib. Sains alam adalah sebuah ajang kompetisi deduktif dan induktif para manusia berilmu dengan segenap intelektualnya dimana mayat-mayat teori bergelimpangan, bersimbah darah, di injak-injak, dan dilupakan sementara teori pemenang berdiri teguh menunggu penantang baru.

Ilmu sosial idealnya juga demikian. Mereka mengajukan hipotesis, diuji secara statistik. Ketika tak bicara kuantitatif, ilmu sosial menggelontorkan teori-teori semakin banyak dan saling serang satu sama lain, tapi tak pernah satu teori benar-benar mati. Ambil contoh teori sosiologi agama, ada tujuh teori besar dari masa Yunani hingga sekarang. Perhatikan, bahkan teori dari Yunani masih dipakai sekarang. Belum lagi dari Ibnu Khaldun, Karl Marx, Pierre Durkheim, Max Weber, Pierre Bourdieu, dan Clifford Geertz sendiri semua memberi penjelasan tentang agama dan semakin waktu tetap bertambah teori tentang agama dari perspektif sosiologi. Tujuan untuk menemukan kebenaran tentang realitas sosial tak pernah tercapai sejauh teori-teori terus bermunculan dan saling berkontradiksi satu sama lain. Kebenaran ada banyak kata posmo, tapi bolehkah itu saya sebut pembenaran atas masalah sistemik yang dihadapi ilmu sosial?

Dan begitulah Geertz mengakui kalau antropologi memiliki tujuan yang berkebalikan dengan sains alam. Katanya, antropologi tidak bertujuan mencari satu teori tunggal. Malahan, antropologi mencari sebanyak-banyaknya teori yang bisa. Antropologi menyebar laksana ledakan kembang api dengan aneka ragam teori masing-masing dipegang teguh oleh para penggagasnya dan siapapun yang secara kebetulan tertarik dengan teori tersebut.

Teori yang pernah diajukan Geertz sendiri sebenarnya hanya relevan dengan kebudayaan Bali dan itupun di masa ia muda dulu, lebih dari 30 tahun lalu, tetapi siapapun tidak dilarang memakai teorinya untuk masa sekarang. Tinggal pilih satu teori yang paling sesuai dengan realitas sosial yang dihadapi peneliti dan dengan demikian, teori itu selalu benar. Apakah ini ilmu yang bertujuan mencari kebenaran? Mungkin, karena realitas sosial begitu kompleksnya sampai persoalan kebenaran bukan lagi ranah logika tetapi ranah estetika.

 

Penutup

Kejujuran antropologi mungkin patut dicontoh bagi sains sosial lainnya. Pluralisme bukanlah hal yang memalukan. Bukankah perbedaan itu rahmat? Jadi, well, seperti halnya psikologi mulai tergeser dengan neurologi, mungkin sains sosial pada gilirannya tergeser oleh sains asosial dan kita tak lagi mahluk unik, seperti yang mungkin dikatakan oleh para alien yang menakut-nakuti angan para ilmuan penjunjung tinggi manusia.

Ahmad Wahib pun menutup catatan hari itu dengan menyebutkan:

“Saya bersyukur pada Allah karena dilahirkan dengan kesempatan besar untuk mempelajari alam fisika, matematika, biologi, yang obyek utamanya ciptaan Allah. Saya tak langsung bicara dengan Dia, tapi saya telah berbicara langsung dengan ciptaan-Nya dan hukum-hukum-Nya yang jelas (sunnatullah).”

Tanggal 10 April 1969

Referensi

Ahmad Wahib. Pergolakan Pemikiran Islam: Catatan Harian Ahmad Wahib. Penerbit LP3S Jakarta

John Horgan. The End Of Science: Facing The Limits Of Knowledge In The Twilight Of The Scientific Age

H. Weintraub et al., “Through the glass lightly”, Science 267 (5204), 1609-18 (1995).

King, G. Ensuring the Data-Rich Future of the Social Sciences. Science, 331, 719 (2011).

Shermer, M. 2011. Financial Flimflam: Why Economic Experts’ Predictions Fail. Scientific American, March 2011, p. 77

Daniel L. Pals (2003). Dekonstruksi Kebenaran, Kritik Tujuh Teori Agama. Jogyakarta, Penerbit IRCiSoD.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.