Diposting Kamis, 15 Desember 2011 jam 2:41 pm oleh Gun HS

Dinosaurus Bercakar Mematikan Menyediakan Teori Baru tentang Evolusi Penerbangan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 15 Desember 2011 -


Penelitian baru dari Museum of the Rockies Montana State University telah mengungkapkan bagaimana dinosaurus seperti Velociraptor dan Deinonychus menggunakan cakarnya yang terkenal untuk membunuh, yang kemudian mengarah pada hipotesis baru tentang evolusi penerbangan pada burung.

Dalam sebuah makalah yang dipublikasikan dalam jurnal PLoS ONE, 14 Desember, para peneliti MSU – Denver W. Fowler, Elizabeth A. Freedman, John B. Scannella dan Robert E. Kambic – mendeskripsikan bagaimana perbandingan burung-burung modern pemangsa membantu mengembangkan model perilaku baru bagi dinosaurus karnivora bercakar sabit seperti Velociraptor.

“Penelitian ini adalah pengubah-permainan yang nyata,” kata pemimpin penulis Fowler. “Ini benar-benar memeriksa secara teliti persepsi kita terhadap dinosaurus pemangsa kecil, mengubah cara kita berpikir tentang ekologi dan evolusinya.”

Studi ini berfokus pada dromaeosaurids; sekelompok dinosaurus predator kecil, termasuk Velociraptor, dan yang relatif lebih besar, Deinonychus. Dromaeosaurids berkerabat erat dengan burung, dan yang paling terkenal karena memiliki sebuah cakar-sabit pada dua digit (dalam ibu jari) kakinya. Para peneliti sebelumnya menunjukkan bahwa cakar ini digunakan untuk memangkas mangsa, atau membantu memanjat ke tempat persembunyian mereka, namun penelitian baru ini mengusulkan perilaku yang berbeda.

“Elang dan rajawali modern memiliki cakar serupa pada 2 digit mereka, sesuatu yang belum dicatat sebelum kami mempublikasikannya di tahun 2009,” kata Fowler. “Kami menunjukkan bahwa cakar 2-D ini digunakan sebagai jangkar, ditancapkan pada mangsanya, mencegah mereka agar tidak kabur. Kami menafsirkan cakar sabit dromaeosaurids telah berevolusi untuk melakukan hal yang sama: menancap, dan menahan”

Seperti pada burung modern pemangsa, penggunaan cakarnya yang tepat berkaitan dengan ukuran relatif mangsanya.

Velociraptor

“Strategi ini hanya benar-benar diperlukan pada mangsa yang ukurannya kira-kira sama dengan predator; cukup besar sehingga mereka mungkin mampu berjuang dan meloloskan diri dari cengkraman kakinya,” kata Fowler. “Mangsa kecil hanya perlu diperas hingga mati, namun pada mangsa besar, yang bisa dilakukan predator adalah menahan dan menghentikannya agar mangsa itu tidak meloloskan diri, maka pada dasarnya hanya memakannya hidup-hidup. Dromaeosaurus kurang beradaptasi dengan jelas untuk pengiriman korban-korban mereka, jadi seperti halnya elang dan rajawali, mereka mungkin juga memakan mangsanya hidup-hidup.”

Fitur-fitur lain pada kaki burung pemangsa memberi petunjuk tentang anatomi fungsional dari kerabat purba mereka; proporsi kaki dromaeosaurids tampak lebih cocok untuk menggenggam daripada berlari, dan metatarsus (tulang antara pergelangan kaki dan jari kaki) lebih diadaptasikan untuk kekuatan daripada kecepatan .

“Tidak seperti manusia, kebanyakan dinosaurus dan burung hanya berjalan pada jari kaki mereka, jadi metatarsus membentuk bagian kaki itu sendiri,” kata Fowler. “Metatarsus yang panjang memungkinkan Anda mengambil langkah-langkah yang lebih besar untuk berjalan lebih cepat, namun pada dromaeosaurids, metatarsusnya sangat pendek, yang mana ini adalah aneh.”

Fowler berpikir, ini menunjukkan bahwa Velociraptor dan kerabatnya beradaptasi untuk strategi yang lain daripada hanya berlari untuk mengejar mangsa.

“Ketika kami melihat burung modern pemangsa, metatarsus yang relatif pendek merupakan salah satu fitur yang memberikan burung kekuatan tambahan pada kakinya,” lanjut Fowler. “Velociraptor dan Deinonychus juga memiliki metatarsus yang sangat pendek dan gemuk, menunjukkan bahwa mereka memiliki kekuatan besar namun tidak akan pernah menjadi pelari yang sangat cepat.”

Deinonychus

Implikasi ekologisnya menjadi sangat menarik ketika dromaeosaurids dikontraskan dengan kerabat terdekat mereka: kelompok yang sangat mirip dinosaurus karnivora kecil yang disebut troodontids, kata Fowler.

Troodontids dan dromaeosaurids mulai terlihat sangat mirip, namun selama lebih dari 60 juta tahun, mereka berevolusi dalam arah yang berlawanan, beradaptasi dalam ceruk yang berbeda,” kata Fowler. “Dromaeosaurids berevolusi ke arah kaki yang lebih kuat dan lambat, menunjukkan sebuah strategi tersembunyi predator untuk penyergapan, diadaptasikan untuk mangsa yang relatif besar. Sebaliknya, troodontids berevolusi ke arah metatarsus yang lebih panjang untuk kecepatan dan cengkraman yang lebih tepat, tapi lebih lemah, menunjukkan mereka memiliki kecepatan tapi mungkin mengambil mangsa yang relatif lebih kecil.”

Penelitian ini juga berimplikasi bagi kerabat terdekat troodontids dan dromaeosaurids berikutnya: burung. Sebuah langkah penting dalam asal-usul burung modern adalah evolusi kaki bertenggernya.

Kredit: Montana State University
Jurnal: Denver W. Fowler, Elizabeth A. Freedman, John B. Scannella, Robert E. Kambic. The Predatory Ecology of Deinonychus and the Origin of Flapping in Birds. PLoS ONE, 2011; 6 (12): e28964 DOI: 10.1371/journal.pone.0028964

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.