Diposting Kamis, 15 Desember 2011 jam 8:17 am oleh Gun HS

Dibandingkan dengan Neanderthal, Manusia Modern Memiliki Indera Penciuman yang Lebih Baik

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 15 Desember 2011 -


Perbedaan pada lobus temporal dan olfactory bulb (bagian otak yang merespons bau) juga menunjukkan kombinasi penggunaan fungsi otak yang berhubungan dengan kognisi dan penciuman. Peningkatan ukuran otak sangat erat terkait dengan evolusi manusia. Neanderthal dan manusia modern, telah mengevolusikan otak secara independen dengan ukuran yang kira-kira sama namun dengan bentuk yang berbeda. Ini bisa menunjukkan perbedaan dalam organisasi otak yang mendasarinya.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan minggu ini oleh Nature Communications, di bawah pimpinan Markus Bastir dan Antonio Rosas dari Museum Ilmu Pengetahuan Alam Spanyol (CSIC), menggunakan teknik pencitraan medis berteknologi tinggi untuk mengakses struktur internal fosil tengkorak manusia. Para peneliti menggunakan metode 3D untuk mengukur bentuk basal otak sebagaimana tercermin dalam morfologi dasar kerangka tengkorak.

Perbedaan bentuk dalam otak dari Homo sapiens dewasa (biru) dan Neanderthal dewasa (merah). (Kredit: ©MPI untuk Antropologi Evolusi/Phillip Gunz)

Temuan mereka menunjukkan bahwa lobus temporal manusia, terlibat dalam fungsi bahasa, memori dan sosial serta olfactory bulb yang relatif lebih besar pada Homo sapiens dibandingkan pada Neanderthal. “Struktur yang menerima masukan penciuman adalah sekitar 12% lebih besar pada manusia modern daripada pada Neanderthal,” jelas para penulis.

Temuan ini mungkin berimplikasi penting bagi kapasitas penciuman dan perilaku manusia. Pada manusia modern, ukuran olfactory bulb berkaitan dengan kapasitas deteksi dan diskriminasi bau yang berbeda. Penciuman merupakan salah satu indera tertua pada vertebrata. “Juga, merupakan satu-satunya yang menciptakan suatu hubungan langsung antara otak dan lingkungannya,” kata Markus Bastir, penulis utama studi tersebut.

Sementara indera lain harus melewati filter kortikal yang berbeda, penciuman langsung dari lingkungan menuju ke pusat-pusat otak yang tertinggi. Terlebih lagi, “penciuman tidak pernah tidur,” tambah Antonio Rosas, “karena kita selalu bernapas dan merasakan bau.” Sirkuit saraf penciuman bertepatan dengan memori dan emosi (sistem limbik), “yang menjelaskan retensi memori besar dan intensitas penting dari peristiwa-peristiwa kehidupan yang dimediasi penciuman.”

Para peneliti di Institut Max Planck untuk Antropologi Evolusi di Leipzig, yang juga berkontribusi pada publikasi saat ini, baru-baru ini mampu menunjukkan perbedaan dalam pola perkembangan otak antara manusia modern dan Neanderthal selama fase penting dalam perkembangan kognitif.

“Pada tahun pertama kehidupan, otak Neanderthal dan manusia modern berkembang secara berbeda,” kata Philipp Gunz dari Institut Antropologi Evolusi Max Planck di Leipzig. “Manusia modern memiliki wajah yang lebih kecil dan hidung yang lebih kecil dibandingkan Neanderthal. Namun, bagian otak yang memproses bau, lebih besar pada manusia modern daripada Neanderthal.”

“Bukti yang terkumpul menunjukkan bahwa otak besar Neanderthal dan manusia modern berevolusi secara independen dan otak mereka mungkin telah bekerja secara berbeda. Studi baru kami ini menawarkan sekilas tentang fungsional signifikan pada perbedaan perkembangan ini,” tambah Jean-Jacques Hublin, yang mengepalai Departemen Evolusi Manusia di Institut Antropologi Evolusi Max Planck di Leipzig.

Informasi penciuman yang terproyeksi secara langsung ke area-area otak bertanggung jawab untuk memproses emosi, motivasi, ketakutan, kesenangan, memori, dan juga daya tarik. Ahli saraf telah menciptakan istilah “fungsi penciuman yang lebih tinggi” untuk mendeskripsikan fungsi-fungsi otak yang menggabungkan kognisi (memori, intuisi, persepsi, pertimbangan) dan penciuman. Olfactory bulb yang lebih besar dan lobus temporal yang relatif lebih besar pada H. sapiens dibandingkan dengan hominid lainnya, yang mungkin menunjuk ke arah indera penciuman yang meningkat dan berbeda, kemungkinan berhubungan dengan evolusi aspek perilaku dan fungsi-funsi sosial.

Kredit: Max-Planck-Gesellschaft
Jurnal: Markus Bastir, Antonio Rosas, Philipp Gunz, Angel Peña-Melian, Giorgio Manzi, Katerina Harvati, Robert Kruszynski, Chris Stringer, Jean-Jacques Hublin. Evolution of the base of the brain in highly encephalized human species. Nature Communications, 2011; 2: 588 DOI: 10.1038/ncomms1593

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.