Diposting Rabu, 14 Desember 2011 jam 6:44 pm oleh Evy Siscawati

Puasa Rutin Periodik Bagus untuk Kesehatan Anda, dan Jantung Anda, Hasil Studi
Rabu, 14 Desember 2011 -

Kardiolog peneliti dari   Intermountain Medical Center Heart Institute melaporkan kalau puasa tidak hanya menurunkan resiko penyakit arteri koroner dan diabetes, namun juga menyebabkan perubahan signifikan pada level kolesterol darah seseorang. Baik diabetes maupun kolesterol tinggi adalah factor resiko penyakit jantung koroner.

 Penemuan ini memperluas studi tahun 2007 oleh  Intermountain Healthcare yang mengungkapkan asosiasi antara puasa dan berkurangnya resiko penyakit jantung koroner, penyebab utama kematian pria dan wanita di Amerika. Dalam penelitian terbaru ini, puasa juga ditemukan mengurangi factor resiko kardiak lainnya, seperti trigliserida, berat, dan level gula darah.

 Temuan ini disajikan tanggal 3 April 2011, pada sesi ilmiah tahunan   American College of Cardiology di New Orleans.

“Penemuan baru ini menunjukkan kalau penemuan awal kami bukanlah kebetulan,” kata  Dr. Benjamin D. Horne, PhD, MPH, direktur epidemiologi kardiovaskuler dan genetika di   Intermountain Medical Center Heart Institute, dan penyelidik utama studi ini. “Konfirmasi pada pasien baru yang berpuasa berasosiasi dengan resiko rendah penyakit umum ini yang memunculkan pertanyaan bagaimana puasa mengurangi resiko tersebut atau menunjukkan gaya hidup sehat.”

 Berbeda dengan penelitian sebelumnya oleh tim ini, penelitian baru ini mencatat reaksi dalam mekanisme biologi tubuh saat periode puasa. Kolesterol lipoprotein kepadatan rendah (LDL-C, atau kolesterol “jahat”) dan kolesterol lipoprotein kepadatan tinggi (HDL-C, atau kolesterol “baik”) partisipan keduanya meningkat (14 % dan 6%) mengangkat kolesterol total mereka – dan membuat kejutan bagi para peneliti.

 “Puasa menyebabkan lapar atau stress. Sebagai responnya, tubuh melepaskan lebih banyak kolesterol, memungkinkan penggunaan lemak sebagai sumber bahan bakar, bukannya glukosa. Hal ini menurunkan jumlah sel lemak di tubuh,” kata  Dr. Horne. “Hal ini penting karena semakin sedikit tubuh memiliki sel lemak, semakin kecil kemungkinan ia akan mengalami resistensi insulin, atau diabetes.”

 Studi ini juga mengkonfirmasi penemuan sebelumnya mengenai pengaruh puasa pada hormone pertumbuhan manusia (HGH), sebuah protein metabolic. HGH bekerja melindungi otot dan keseimbangan metabolic, sebuah respon dipicu dan dipercepat oleh puasa. Saat periode puasa 24 jam, HGH meningkat rata-rata 1300 persen pada wanita dan hampir 2000 persen pada pria.

 Dalam penelitian ini, para peneliti melakukan dua studi puasa pada lebih dari 200 individu – baik pasien maupun relawan sehat – yang direkrut   Intermountain Medical Center. Sebuah uji klinis 2011 kedua mengikuti 30 pasien lainnya yang hanya minum air putih dan tidak makan apapun selama 24 jam. Mereka juga diamati saat makan makanan normal dalam tambahan periode 24 jam. Uji darah dan pengukuran fisik diambil dari semua partisipan untuk mengevaluasi factor resiko kardiak, penanda resiko metabolic, dan parameter kesehatan umum lainnya.

Sementara hasilnya mengejutkan bagi para peneliti, sekarang bukan waktunya untuk memulai diet puasa. Perlu studi lebih lanjut untuk menentukan reaksi tubuh sepenuhnya pada puasa dan pengaruhnya pada kesehatan manusia. Dr. Horne percaya kalau puasa dapat suatu hari dijadikan resep dokter untuk perawatan pencegahan diabetes dan penyakit jantung koroner.

 Untuk mencapai tujuan penelitian perluasan,   Deseret Foundation (yang mendanai studi puasa sebelumnya) baru saja merestui beasiswa baru untuk mengevaluasi banyak lagi factor metabolic dalam darah memakai sampel yang disimpan dari uji klinis puasa sebelumnya. Para peneliti akan pula memasukkan uji klinis tambahan puasa pada pasien yang telah didiagnosa menderita penyakit jantung koroner.

 “Kami sangat bersyukur atas dukungan financial dari  Deseret Foundation. Organisasi ini dan donornya telah membuat studi puasa menjadi mungkin,” tambah  Dr. Horne.

Anggota dari tim peneliti Intermountain Medical Center Heart Institute mencakup Dr. Horne, Jeffrey L. Anderson, MD, John F. Carlquist, PhD, J. Brent Muhlestein, MD, Donald L. Lappé, MD, Heidi T. May, PhD, MSPH, Boudi Kfoury, MD, Oxana Galenko, PhD, Amy R. Butler, Dylan P. Nelson, Kimberly D. Brunisholz, Tami L. Bair, dan Samin Panahi.

Sumber berita:

Intermountain Medical Center

 


Penulis Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).

Kategori Artikel / Tags
Berita Kimia /

Artikel Terkait
Cari tahu?
© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami. View Full Site