Diposting Rabu, 14 Desember 2011 jam 6:27 pm oleh Evy Siscawati

Angin Global dari Indonesia Dapat Menjelaskan Hujan Ekstrim dan Tornado di Amerika Serikat

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Rabu, 14 Desember 2011 -


Kedua peristiwa tampak berhubungan dengan kopel yang relatif langka antara aliran jet kutub dan subtropics, kata  Jonathan Martin, professor ilmu atmosfer dan samudera University of Wisconsin-Madison.

Namun bagian mengagumkannya adalah perubahan ini berasal di Pasifik Barat, sekitar 14,500 km jauhnya dari badai besar di bagian tengah AS, kata Martin.

 Mekanisme yang menyebabkan badai berawal dari musim semi atau gugur ketika kompleks badai tropis terorganisir di Indonesia mendorong aliran jet subtropics di utara, menyebabkannya menyatu dengan aliran jet kutub.

Aliran jet subtropics adalah pita angin tinggi yang secara normal berada sekitar 30 derajat lintang utara. Aliran jet kutub secara normal ratusan mil lebih ke utara.

 Martin menyebut pita angin yang dihasilkan ini sebagai “superjet”.

 Aliran jet di belahan utara mengalir dari barat dengan kecepatan sekitar 225 km per jam, dan dikelilingi oleh pusaran melingkar yang terlihat seperti tornado yang mendorong di sisi-sisinya. Angin sirkulasi di dasar aliran jet mengalir dari selatan. Di sisi utara, angin sirkulasi bergerak vertical, mengangkat dan mendinginkan udara hingga uap air mengembun dan mendorong hujan.

Sebuah superjet dan angin sirkulasinya membawa sekitar dua kali lebih banyak energi daripada aliran jet biasa, kata Martin. “Ketika aliran jet yang biasanya terpisah ini saling tindih, ada kecenderungan untuk tercipta sirkulasi vertical sangat kuat, yang menghasilkan awan, pengembunan, dan tornado pada kondisi yang tepat.”

Dan karena angin sirkulasi dalam superjet bergerak sepanjang AS selatan mengambil embun dari Teluk Meksiko, “superjet memberikan dampak ganda – lebih banyak embun dan lebih banyak angkatan, yang menghasilkan hujan deras.”

Itulah yang terjadi pada bulan Mei 2010, ketika hujan 25 hingga 50 cm turun di Nashville.

Andrew Winters, yang sekarang mahasiswa pasca sarjana yang belajar dengan Martin, membahas banjir Tenesse sebagai topic skripsinya tahun 2010. “Ada banyak aspek menarik, ada anomaly dalam jumlah embun di tenggara, dan jumlah hujan yang sangat banyak,” kata Winters.

 Dan aliran jet superkuat tersebut “dapat dilacak pada kondisi-kondisi di Pasifik barat, hampir seminggu sebelumnya,” kata Winters.

Martin dan Winters menjelaskan karya mereka dalam diskusi tanggal 6 dan 7 Desember dalam pertemuan tahunan  American Geophysical Union di San Francisco.

Studi pada banjir Tennesse, tornado Alabama, dan badai Oktober yang aneh di Wisconsin menunjukkan “kalau jet subtropics didorong ke arah kutub dalam pengaruh badai kuat di Pasifik barat, tampaknya menghasilkan badai besar di bagian tengah AS,” kata Martin. “Sangat mengesankan kalau ada hubungan global yang terjadi tujuh hingga 10 hari kemudian.”

 Martin juga menyarankan kalau posisi aliran jet subtropis yang berubah dapat berkaitan dengan pemanasan global.

 “Ada alasan untuk meyakini kalau dalam iklim yang lebih hangat, pertindihan aliran jet ini dapat membawa pada cuaca berpengaruh tinggi akan lebih sering terjadi,” kata Martin.

Gagasan ini dapat diuji, tambah Martin.

“Data cuaca historis akan memberi tahu apakah ada perubahan dalam frekuensi peristiwa bertindihan ini, dan apakah itu berhubungan dengan perubahan dalam peristiwa cuaca pengaruh tinggi. Menarik untuk dipelajari karena akan membantu kita memahami salah satu mekanisme yang mungkin dimana iklim yang lebih hangat dapat membawa pada peningkatan cuaca buruk,” katanya.

 Walaupun hurikan dapat dilacak seminggu atau lebih saat mereka melintasi Samudera Atlantik, fenomena cuaca jarang bertahan lama, kata Martin. “Bila aliran jet subtropics disusun ulang dan ditindihkan di atas aliran jet kutub, itu mungkin menjadi mekanisme yang memungkinkan penundaan sangat lama ini, gangguan yang memiliki efek pada cuaca buruk ribuan mil jauhnya, dan seminggu atau lebih kemudian.”

Martin mengatakan kalau analisis baru ini bertahan dalam studi lebih lanjut, ia dapat membantu peramalan cuaca buruk.

 Walaupun cuaca buruk diramalkan sehari atau dua hari lebih awal dari terjadinya tornado besar di Tenggara AS bulan April, “sebagian besar ramalan tornado dibuat 12 atau paling cepat 24 jam sebelum kejadian. Hal tersebut menyelamatkan nyawa. Namun bila kita mengetahuinya lima atau enam hari lebih awal dengan mengamati posisi aliran jet, kita dapat mengatakan, “Hey, kita akan punya minggu yang sangat mengejutkan, kita harus bersiap siaga.”

Sumber Berita:

 University of Wisconsin-Madison.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.