Diposting Jumat, 9 Desember 2011 jam 8:45 pm oleh Gun HS

Perilaku Menolong yang Didorong Empati Teramati pada Tikus

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 9 Desember 2011 -


Bukti pertama adanya perilaku menolong yang didorong oleh empati teramati pada tikus laboratorium yang berulang kali membebaskan sahabatnya dari kurungan, berdasarkan penelitian terbaru dari para ahli saraf di University of Chicago.

Pengamatan ini, yang dipublikasikan dalam jurnal Science, menempatkan asal-usul perilaku menolong pro-sosial lebih awal dalam pohon evolusi daripada yang diperkirakan sebelumnya. Meskipun perilaku empatik telah teramati pada primata non-manusia dan spesies liar lainnya, konsep sebelumnya tidak pernah teramati pada tikus di laboratorium.

“Ini adalah bukti pertama perilaku menolong yang dipicu oleh empati pada tikus,” kata Jean Decety, PhD, Irving B. Harris, Profesor Psikologi dan Psikiatri di University of Chicago. “Ada banyak gagasan dalam literatur yang menunjukkan bahwa empati tidak hanya dimiliki manusia, dan telah secara baik ditunjukkan oleh kera, tetapi pada hewan pengerat, hal itu tidak terlalu jelas. Kami menempatkan bersama-sama dalam satu rangkaian bukti eksperimen terhadap perilaku menolong yang didasarkan pada empati pada hewan pengerat, dan itu benar-benar pertama kalinya yang pernah terlihat.”

Studi ini menunjukkan akar evolusi yang mendalam tentang perilaku yang didorong empati, kata Jeffrey Mogil, Profesor EP Taylor dalam Studi Rasa Sakit di McGill University, yang telah mempelajari penularan emosi rasa sakit pada tikus.

“Pada permukaannya, ini lebih dari sekedar empati, ini adalah perilaku pro-sosial,” kata Mogil, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. “Ini lebih dari yang telah ditunjukkan sebelumnya, dan itu sangat mengesankan, terutama karena tidak adanya teknologi canggih di sini.”

Percobaan, yang dirancang oleh mahasiswa pascasarjana psikologi dan penulis pertama Inbal, Ben-Ami Bartal, bersama rekan-penulis Decety dan Peggy Mason, menempatkan dua ekor tikus yang biasanya berbagi kandang ke arena pengujian khusus. Satu tikus ditempatkan di sebuah perangkat restrainer – sebuah tabung tertutup dengan pintu yang bisa terbuka dari luar. Tikus kedua berkeliaran bebas di sekitar restrainer, mampu melihat dan mendengar teman sekandangnya terjebak tetapi ia tidak diharuskan mengambil tindakan.

Para peneliti mengamati bahwa tikus kedua bertindak lebih gelisah ketika teman sekandangnya tertahan, dibandingkan dengan aktivitasnya ketika tikus itu ditempatkan dalam kandang dengan restrainer yang kosong. Respon ini menawarkan bukti adanya “penularan emosi,” sebuah fenomena yang sering diamati pada manusia dan hewan di mana para subjek berbagi dalam kesusahan, ketakutan atau bahkan rasa sakit yang diderita oleh subjek lain.

Sementara penularan emosi merupakan bentuk sederhana dari empati, tindakan tikus berikutnya jelas terdiri dari perilaku menolong yang aktif, ekspresi yang jauh lebih kompleks dari empati. Setelah beberapa sesi menahan diri, tikus kedua belajar bagaimana caranya membuka pintu restrainer dan membebaskan teman sekandangnya. Meskipun lambat untuk bertindak pada awalnya, setelah tikus menemukan kemampuan untuk membebaskan temannya, ia akan mengambil tindakan segera setelah ditempatkan di arena tes.

“Kami tidak melatih tikus ini dengan cara apapun,” kata Bartal. “Tikus ini belajar karena mereka termotivasi oleh sesuatu yang bersifat internal. Kami tidak menunjukkan pada mereka bagaimana caranya membuka pintu, mereka tidak mendapatkan paparan sebelumnya pada cara membuka pintu, dan pintu ini juga sulit untuk dibuka. Tapi mereka terus mencoba dan mencoba, dan akhirnya berhasil.”

Untuk mengontrol motivasi lain selain empati yang akan mengarahkan si tikus membebaskan temannya, para peneliti melakukan eksperimen lebih lanjut. Ketika boneka tikus ditempatkan di restrainer tersebut, tikus kedua malah tidak membukakan pintunya. Namun ketika pintu restrainer yang terbuka melepaskan rekannya ke dalam kompartemen yang terpisah, tikus kedua terus menyenggol pintu untuk membukanya, mengesampingkan imbalan dari interaksi sosial sebagai motivasi. Percobaan ini meninggalkan perilaku yang dimotivasi oleh empati sebagai penjelasan yang paling sederhana terhadap perilaku tikus ini.

“Tidak ada alasan lain dalam mengambil tindakan ini, kecuali untuk mengakhiri penderitaan tikus yang terperangkap,” kata Bartal. “Dalam dunia model tikus, melihat perilaku yang sama berulang-ulang pada dasarnya mengindikasikan bahwa tindakan ini bermanfaat bagi tikus.”

Eksperimen lain kemudian dirancang untuk menguji kekuatan dari imbalan. Dalam eksperimen ini, tikus kedua diberi pilihan: membebaskan temannya atau berpesta cokelat. Dua restrainer ditempatkan ke dalam kandang, satu berisi teman sekandang, lainnya berisi tumpukan chocolate chips. Meskipun tikus kedua memiliki pilihan untuk memakan semua cokelat sebelum membebaskan temannya, tikus ini justru memiliki kemungkinan yang sama untuk membuka restrainer berisi teman sekandangnya sebelum membuka wadah cokelat.

“Itu sangat menarik,” kata Mason, PhD, Profesor Neurobiologi. “Ini mengatakan kepada kita bahwa pada dasarnya menolong teman sekandang mereka adalah setara dengan cokelat. Dia bisa memusatkan perhatian pada seluruh persediaan cokelat jika ia mau, tapi dia tidak melakukannya. Kami sungguh terkejut.”

Setelah model perilaku empatik ini telah ditetapkan, para peneliti melakukan eksperimen tambahan. Karena tidak setiap tikus belajar untuk membuka pintu dan membebaskan temannya, penelitian ini dapat membandingkan berbagai individu untuk mencari sumber biologis dari perbedaan-perbedaan perilaku ini. Hasil awal menunjukkan bahwa betina lebih cenderung menjadi pembuka pintu dibandingkan jantan, mungkin hal ini mencerminkan peran penting empati dalam ibu/induk dan menyediakan jalan lain bagi penelitian berikutnya.

“Model empati dan perilaku menolong ini membuka jalan untuk menjelaskan aspek neurofisiologis yang mendasari mekanisme yang tidak dapat diakses sampai sekarang.” kata Bartal.

Percobaan ini juga memberikan bukti lebih lanjut bahwa perilaku menolong yang didorong oleh empati tidak hanya dimiliki manusia – dan menyarankan bahwa Homo sapiens bisa mengambil pelajaran dari sepupu tikusnya.

“Ketika kita bertindak tanpa empati, maka kita bertindak melawan warisan biologis kita,” kata Mason. “Jika manusia mau lebih sering mendengar dan bertindak pada warisan biologis mereka, kita akan menjadi lebih baik.”

Kredit: University of Chicago Medical Center
Jurnal: Inbal Ben-Ami Bartal, Jean Decety, Peggy Mason. Empathy and Pro-Social Behavior in Rats. Science, 9 December 2011: Vol. 334 no. 6061 pp. 1427-1430. DOI: 10.1126/science.1210789

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.