Diposting Minggu, 4 Desember 2011 jam 7:33 pm oleh Evy Siscawati

Perspektif Biologi terhadap Hubungan Kecerdasan dan Lari dalam Film Forrest Gump

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Minggu, 4 Desember 2011 -


“Run Forrest! Run!!” teriak Jenny pada Forrest. Kemampuan lari Forrest memang mengungguli siapapun dalam film Forrest Gump. Walaupun beliau didaku ber-IQ 75 (idiot), beliau memiliki kelebihan ini dan menjadi aset besar untuknya mencapai sejumlah kesuksesan.

Pengaruh Lari pada Kecerdasan

Saat berlari dengan kecepatan 10,8 km per jam, manusia rata-rata memiliki laju metabolisme 11 kali saat ia diam (Ainsworth et al, 1993). Bandingkan dengan menulis yang hanya 1,8. Hal ini terutama disebabkan karena pada saat lari, massa tubuh manusia harus dijaga konsisten tetap berada tegak (Maughan, 2005). Semakin tinggi laju metabolisme, semakin panas tubuh kita. Agar tubuh kita tak terbakar, tubuh harus mengeluarkan panas dalam bentuk penguapan keringat dari permukaan kulit. Cairan tubuh semakin banyak terbuang dan harus diberi asupan caiiran (Noakes dan Martin, 2002). Karenanya, Forrest akan meminum banyak sekali cairan, terutama yang mengandung glukosa, untuk dapat berlari secara berkelanjutan selama seharian. Jika tidak, ia akan mengalami hipoglikemia.

Memang, efek samping dari berlari jarak jauh adalah hipoglikemia (Marks, 2005). Hipoglikemia adalah rendahnya kadar glukosa darah. Glukosa adalah bahan bakar untuk berlari. Jika tidak ada asupan dari luar, tubuh akan mengambil glukosa dari darah. Padahal, otak juga membutuhkan glukosa untuk tetap berfungsi. Akibatnya, semakin kita berlari tanpa asupan, semakin rendah fungsi otak kita. Pada tahap paling parah, adalah malfungsi otak.

Cheetah, pelari tercepat di dunia

Memang otak manusia tidak hanya mengurusi masalah kecerdasan. Berpikir mengambil proporsi sangat sedikit daripada fungsi otak. Hampir seluruh energi yang dipakai otak digunakan untuk mengurusi masalah lain selain berpikir. Walau begitu, ada kemungkinan kalau rendahnya kadar glukosa juga menyebabkan lambannya berpikir karena otak kekurangan energi. Menurut saya, dari sinilah hubungan lari dan kecerdasan dapat ditarik. Hubungannya bersifat negatif, semakin lama kita berlari, kita semakin sulit berpikir.

Untuk mencegah tubuh membakar terlalu banyak glukosa saat berlari, tubuh mengeluarkan asam laktat. Asam laktat membuat kita lelah dan segera berhenti berlari. Tetapi Forrest tampaknya punya mekanisme lain untuk membuatnya tidak merasa lelah. Mungkinkah otot kakinya tidak menghasilkan asam laktat? Jika demikian, berarti glukosa yang ia miliki akan dibakar terus menerus dan mempengaruhi otaknya.

Pengaruh Kecerdasan terhadap Lari

Toh Forrest Gump telah didaku idiot sebelum ia mampu berlari jauh. Terlepas dari masih kontroversinya definisi kecerdasan, mungkin kita bisa memandang film Forrest Gump sebagai cerminan dari evolusi manusia.

Run Forrest, Run

Salah satu penghambat utama susahnya manusia berlari dengan efektif adalah postur kita yang memang tidak mendukung gerakan ini. Mamalia darat (teresterial) memiliki beberapa tipe (Rose, 2006). Manusia merupakan mamalia darat tipe umum. Mamalia darat tipe khusus antara lain tipe cursortal, saltatorial, graviportal, fossortal, dan semi-natatorial. Cursortal adalah mamalia yang teradaptasi untuk berlari (kuda, cheetah), saltatorial teradaptasi untuk melompat (kelinci, kangguru), graviportal teradaptasi untuk menopang beban berat (kuda nil, gajah), fossortal teradaptasi untuk menggali (tikus tanah, tupai), dan natatorial teradaptasi untuk berenang (berang-berang, lumba-lumba).

Mamalia cursortal memiliki ciri-ciri kerangka yang termodifikasi untuk meningkatkan panjang langkah dan kecepatan langkah (Hilderbrand, 1995). Tangan dan kakinya panjang dan ramping, massa ototnya terkonsentrasi di lengan dan paha, sendi tangan dan kaki termodifikasi untuk membatasi gerakan bidang atas, dada lebih kecil, dan juga ada beberapa modifikasi dalam bentuk jari. Mamalia pelari semuanya berkaki empat. Hal ini karena bagian tubuh atas tidak terlalu berperan penting untuk lari, ia bahkan dapat menjadi penghambat.

Berjalan tegak dengan dua kaki (bipedalisme) pada manusia merupakan sebuah ciri khas yang menghambat kemampuan manusia menjadi hewan pelari. Ada tanda kalau leluhur manusia, Australopithecus, merupakan pelari yang baik sehingga menjadi predator dan pemangsa bangkai yang efektif pada saat hidup di padang rumput Afrika. Manusia purba diduga memiliki gen aquaporin (AQP7) yang membantu memobilisasi simpanan energi saat berlari jarak jauh (Taylor, 2009).

Tetapi di saat bersamaan, otak manusia juga membesar. Aquaporin harus pula memfasilitasi kebutuhan glukosa bagi otak ini. Dalam perjalanan sejarah evolusi, tampaknya Aquaporin lebih memilih untuk mendukung perkembangan otak. Hal ini dibantu oleh postur manusia yang semakin tegak dan semakin tidak efektif untuk berlari.

Para pelari alamiah

Bipedalisme pada leluhur manusia datang pula dari padang rumput Afrika. Berjalan tegak memberi leluhur kita akses pada makanan yang sebelumnya tak terjangkau dan memberi mereka pandangan yang lebih luas pada saat berada di rerumputan yang tinggi. Kemampuan menjangkau makanan yang susah diambil tampaknya menjadi agen seleksi seksual. Leluhur yang mampu mendapat banyak makanan lebih mungkin mendapatkan banyak pacar dan kawin sehingga memiliki lebih banyak lagi keturunan dengan postur tegak (Leonard, 2006).

Manfaat lain dari bipedalisme adalah ia lebih murah secara energi dibandingkan berjalan dengan empat kaki. Asupan makanan yang lebih banyak karena kemampuan bipedalisme juga membuat otak semakin membesar dengan cara menurunkan kendala suhu otak. Dengan membesarnya otak, meningkat pula kecerdasan leluhur kita. Menurut saya, dengan cara inilah pengaruh kecerdasan terhadap lari terbangun. Sejarah evolusi kita adalah pengorbanan kemampuan lari untuk memaksimalkan kecerdasan dalam lingkungan yang semakin kompleks.

Demikianlah warisan evolusi kita. Sekarangpun, tampaknya warisan ini telah tertanam dalam pikiran sebagian besar wanita secara tidak sadar. Wanita lebih senang memilih pria yang pintar dan berbadan tegap ketimbang yang kuat dan berbadan kekar. Wanita lebih senang dengan pria yang cerdas ketimbang yang kuat. Dan kebudayaan kita juga mendorong penggunaan akal ketimbang fisik. Hal ini sedikit banyak ditentang oleh film Forrest Gump, tetapi itu menjadi topik lain yang dapat dibahas dari perspektif psikologi atau sosiologi.

Kasus Dean Karnazes

Dean Karnazes adalah seorang pelari jarak jauh yang mampu mencapai titik tertinggi ketahanan manusia, seperti lari 50 maraton di tiap 50 negara bagian di Amerika Serikat, dalam 50 hari berturut-turut. Ia melakukan marathon di setiap benua dua kali dan telah memegang rekor lari tanpa henti selama tiga hari tiga malam.

Tahun 2007, Dean berusaha berlari dari New York City ke San Francisco, namun harus berhenti di St. Louis dan membuatnya kecewa. Karnazes dinyatakan sebagai satu dari 100 orang paling berpengaruh di tahun 2007. Tahun 2010, ia berhasil mencapai San Francisco dalam 75 hari.

Tubuh Karnazes memiliki keunikan sehingga ia menjadi mesin pelari yang sangat tangguh. Sebuah studi yang dilakukan padanya (Carmichael, 2007) setelah ia menyelesaikan  marathon 50 negaranya. Pertama, mereka mengukur angka CPK, yaitu jumlah kerusakan otot yang didapatkan. Secara normal, manusia biasa akan memiliki CPK sangat tinggi setelah marathon, sekitar 2400. CPK Karnazes hanya 447 setelah 25 maraton berurutan.

Studi menemukan kalau ototnya bukan hanya rusak sedikit sekali dibandingkan orang normal, ia justru semakin terbiasa dengan latihan dan semakin sulit rusak.

Studi menemukan pula kalau ia memiliki lebih banyak darah dalam system peredarannya daripada orang rata-rata, yang memungkinkannya tetap terhidrasi untuk jangka panjang. Namun akhirnya, mereka menyimpulkan kalau sejauh ia dapat menghidrasi dan makan dengan baik, ia dapat berlari selamanya.

Kesimpulan

Hubungan interaktif antara kecerdasan dan lari menjadi salah satu bagian biologis yang dapat ditarik dari film Forrest Gump. Masih banyak yang dapat ditarik sains dari film Forrest Gump. Hubungan antara kecerdasan dan kekayaan misalnya. Ada petunjuk kalau tidak perlu menjadi cerdas untuk menjadi kaya (Zagorsky, 2007). Bisa pula dikaji mengenai kemungkinan atau mekanika lari yang ditunjukkan oleh Forrest Gump. Bisa juga anda mengkaji secara teknis, bagaimana teknologi yang digunakan para pembuat film untuk mempertemukan Forrest dengan sejumlah presiden. Sejauh masalah hubungan antara kecerdasan dan lari, tampaknya bukti yang ada sekarang mengarah pada hubungan yang negatif, semakin anda berlari, semakin anda kurang cerdas, dan kita pada dasarnya mengorbankan kemampuan lari kita untuk kecerdasan kita.

Referensi

Ainsworth BE, Haskell WL, Leon As et al. (1993). Compendium of physical activities: Classification of energy costs of human physical activities. Medicine and Science in Sports and Exercise 25(1): 71–80.

Carmichael, C. 2007. The Karnazes Effect : How running 26.2 miles for 50 days affected Dean Karnazes. Runner’s World.

Hildebrand, M. 1995. Analysis of Vertebrate Structure. John Wiley and Sons, New York

Leonard, W.R. 2006. Food for Thought. Dalam Evolution: a Scientific American Reader. The University of Chicago Press, Hal. 310-321

Marks, V. 2005. Hypoglycemia. Dalam Encyclopedia of Human Nutrition, Caballero, B., Allen, L., Prentice, A. (Editors). Elsevier, hal. 523-533.

Maughan, R.J. 2005. Diet and Exercise. Dalam Encyclopedia of Human Nutrition. Caballero, B., Allen, L., Prentice, A. (Editors). Elsevier, hal. 162-168

Moore, F. 2011. Dean Karnazes’ Run Across America Ends in Victory. ABC News

Noakes TD and Martin D (2002) IMMDA-AIMS advisory statement on guidelines for fluid replacement during marathon

running. New Studies in Athletics 17: 15–24

Rose, K.D. 2006. The Beginning of the Age of Mammals. The John Hopkins University Press

Taylor, J. 2009. Not a Chimp: The Hunt to Find the Genes that Make Us Human. Oxford University Press.

Zagorsky, J. 2007. The Forrest Gump Principle.

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.