Diposting Jumat, 2 Desember 2011 jam 1:29 am oleh Gun HS

Simpanse juga Berbagi Makanan dan Peralatan Berburu

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 2 Desember 2011 -


Berbagi makanan secara luas dianggap oleh para ahli sebagai ciri khas perilaku manusia. Namun studi terbaru oleh profesor antropologi Iowa State University, Jill Pruetz, kini melaporkan bahwa simpanse dari situs penelitian Fongoli di Senegal, juga sering berbagi makanan dan peralatan berburu dengan simpanse lain.

Dengan penulis pendamping oleh pascasarjana antropologi SPI, Stacy Lindshield, penelitian mereka dipublikasikan secara online dalam jurnal Primates.

Para peneliti menyaksikan 41 kasus di mana simpanse Fongoli secara sukarela mentransfer makanan tanaman liar atau alat berburu dengan simpanse lainnya. Sementara penelitian sebelumnya oleh ahli primata telah mendokumentasikan simpanse mentransfer makanan daging di antara non-kerabat lainnya, ini adalah studi pertama yang mendokumentasikan perilaku berbagi non-daging.

“Mereka [simpanse Fongoli] bukan hanya simpanse yang berbagi, namun dalam hal sumber daya yang kami bahas di sini, itulah yang unik,” kata Pruetz, yang diangkat menjadi National Geographic Emerging Explorer 2008 untuk penelitian dunia-terkenal pada simpanse sabana di Senegal. “Saya kira semua simpanse berbagi makanan daging, mereka tidak berbagi tanaman atau peralatan. Namun mereka melakukannya di sini, selain daging. Itu adalah menarik ketika kami pertama kali mulai melihat peristiwa itu.”

Dokumen para peneliti tentang frekuensi berbagi pada simpanse, sebelumnya tidak dilaporkan. Simpanse secara umum mentransfer makanan daging dan tanaman liar, tapi mereka juga menstransfer alat, madu dan tanah. Sebagian besar perilaku mentransfer diklasifikasikan sebagai ‘berbagi pasif’, dengan betina yang biasanya mengambil makanan dari jantan – terjadi dari yang dominan hingga ke penerima bawahan.

Dari 41 kejadian yang disaksikan, simpanse jantan Fongoli mentransfer makanan atau alat pada betina sebanyak 27 kali. Sementara Christina Gomes dan Christopher Boesch dari Institut Antropologi Evolusi Max Planck pernah menulis sebuah studi di tahun 2009, bahwa jantan dan betina bertukar makanan daging untuk seks – di mana akhirnya jantan meningkatkan keberhasilan perkawinannya dan betina meningkatkan asupan kalorinya untuk mengatasi biaya energi dan cedera potensial setelah berburu – Pruetz berpendapat bahwa itu tidak semuanya terjadi dalam kasus yang ia saksikan.

“Ini adalah hubungan yang berbeda dalam kelompok sosial [di situs Fongoli], dan saya cenderung berpikir lagi bahwa ini mengikat kembali ke lingkungan dan fakta bahwa sumber-sumber daya didistribusikan secara berbeda,” kata Pruetz. “Mereka memiliki kisaran tempat tinggal yang besar – sekitar 10 kali lebih besar dari kisaran Jane Goodall di Gombe pada 86 kilometer persegi – dan hal itu memaksa mereka untuk tinggal bersama. Jika mereka berpisah seperti yang dilakukan simpanse pada umumnya, maka bisa beberapa hari atau minggu atau bulan lagi sebelum mereka bisa bertemu lagi – dan simpanse lebih bersifat sosial dari itu. Jadi saya pikir mereka tetap bersama seperti monyet dan mereka hanya berpindah di sekitar tempat tinggal mereka secara bersama.”

Pruetz melihat beberapa perilaku berbagi di antara jantan dan betina sebagai produk dari teori “makanan untuk seks”. Para peneliti menemukan bahwa, baik betina dewasa pada masa estrus [periode penerimaan seksual maksimum betina] maupun betina remaja yang mendekati estrus, lebih mungkin untuk menerima makanan dari simpanse jantan dewasa. Pruetz mengatakan bahwa simpanse jantan dapat menggunakan transfer makanan sebagai strategi kawin masa depan dengan remaja betina, terutama karena jumlah betina yang relatif kecil dalam komunitas Fongoli.

“Ini dapat digunakan sebagai strategi [oleh simpanse jantan], mengantisipasi keuntungan jangka panjang pada perilaku mereka,” katanya. “Kami melihat itu pada babon yang memiliki teman istimewa.”

Sebagai satu-satunya komunitas simpanse yang terbiasa hidup di lingkungan savana, para peneliti menyimpulkan bahwa Fongoli memberikan informasi rinci tentang pengaruh lingkungan yang terbuka serta kering dan panas pada perilaku sosial dan organisasi. Pruetz berteori bahwa hal itu juga dapat memberi titik terang pada bagaimana manusia awal pertama kali saling berbagi.

“Ada aspek perilaku manusia, dan saya pikir itu menarik karena tidak persis sama, tapi bisa memberi Anda ide tentang bagaimana [berbagi di antara manusia purba] dimulai,” kata Pruetz. “Ini setidaknya satu skenario dan bagaimana itu bisa terjadi dalam garis keturunan kita sendiri. Bagi saya, itu memperkuat bagaimana pentingnya lingkungan itu.”

Kredit: Iowa State University
Jurnal: Jill D. Pruetz, Stacy Lindshield. Plant-food and tool transfer among savanna chimpanzees at Fongoli, Senegal. Primates, 2011. DOI: 10.1007/s10329-011-0287-x

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.