Diposting Senin, 28 November 2011 jam 9:43 am oleh Evy Siscawati

Perspektif Sains terhadap Jiwa dalam Film Animasi 9 (Nine)

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 28 November 2011 -


Nine adalah sebuah film fiksi ilmiah berbentuk animasi yang disutradarai oleh Shane Acker. Ia dibuat tahun 2009 namun didasarkan pada film singkat yang mendapat nominasi Academy Award tahun 2005 dengan judul yang sama.

 Film ini memiliki kemiripan dengan The Matrix, hanya saja kedua pihak yang berperang kalah. Film lain yang mirip adalah I am Legend dan Wall-E dimana dunia sudah tidak lagi berpenghuni manusia. Dunia pasca-bencana menjadi latar dalam film ini. Karakter utamanya adalah sebuah boneka hidup dari kain. Sebagai film sains fiksi, ia memiliki komponen sains dan fiksi. Tulisan ini akan membedah komponen sains dalam film ini. Ada dua komponen sains dalam film 9 yang penulis temukan yaitu robotika dan neurosains. Kajian berikut akan membahas aspek neurosains saja karena robotika merupakan konsep yang luas dan bersifat tidak pasti jika dikaitkan dengan masa depan manusia. Bisakah robot memberontak? Bisa saja. Lagipula, robotika terkait dengan kehendak bebas dan kehendak bebas dapat terkait dengan masalah jiwa yang akan dibahas selanjutnya.

Jiwa

Komponen neurosains dalam film ini adalah “jiwa”. Dalam film terlihat sang ilmuan memindahkan jiwanya ke dalam 9 boneka kain sehingga boneka kain tersebut mati. Adegan lain adalah saat ending dimana beberapa boneka dikeluarkan jiwanya dari kuburan mereka. Masih mengenai jiwa, terdapat pula adegan dimana jiwa dari sang ilmuan yang dipindahkan ke boneka kemudian pindah ke badan robot dan menghidupkan robot tersebut.

Beberapa pertanyaan yang dapat diajukan adalah : Apakah jiwa itu? Dapatkah jiwa dipindahkan? Apakah jiwa dapat menjadi sumber energi?

Apakah Jiwa Itu?

Jiwa didefinisikan sebagai esensi tak berbadan dari mahluk hidup atau benda (http://en.wikipedia.org/wiki/Soul). Apabila tidak berbadan, maka ia dipandang dapat terikat atau lepas dari badan. Sebagian memandangnya seperti uap yang tersimpan dalam botol (badan) dan dapat lepas ketika mati atau bahkan tidur.

Sains bertopang pada naturalism metodologis yaitu mencari penjelasan alamiah mengenai dunia. Apabila jiwa ada, maka ia dapat diamati dan dijelaskan secara alamiah. Sekarang, apakah jiwa dapat diamati dengan indera atau sensor lain buatan manusia? Sampai sejauh ini tidak ditemukan adanya jiwa dalam tubuh manusia.

Sebagian besar pemahaman sains terhadap jiwa memandangnya sebagai kepribadian manusia yang merujuk pada pikiran atau kesadaran. Dengan definisi ulang ini, jiwa dilihat sebagai objek keyakinan manusia, atau konsep yang membentuk kognisi dan pemahaman dunia. Posisinya dapat ditunjuk, yaitu di otak, dan berbentuk sebagai pola-pola interaksi yang muncul dari interaksi manusia dengan alam menggunakan komponen indera, syaraf, dan otak.  Dengan pemahaman ini, maka jiwa tidak dapat lepas dari tubuh karena ia dibentuk oleh keempat komponen tersebut. Ketika salah satu dari empat komponen tersebut tidak ada, jiwa tidak ada.

Sebagian memandang jiwa sebagai zat non materi. Dalam sains, alam semesta disusun oleh dua zat, yaitu materi dan gaya. Jika bukan materi, berarti gaya. Gaya adalah sesuatu yang menyebabkan benda berubah gerakan (http://en.wikipedia.org/wiki/Forces). Ada empat gaya dasar di alam yaitu gaya nuklir kuat, gaya nuklir lemah, gaya elektromagnetik, dan gaya gravitasi. Untuk dapat menjadikan jiwa sebagai gaya, maka dibutuhkan partikel pembawa gaya. Dengan kata lain, gaya hanya dapat ada jika ada partikelnya (bendanya) berdasarkan definisi. Tanpa benda, gaya tidak ada.

Jiwa sebagai gaya dapat bermakna ketika manusia memang digerakkan oleh jiwa atau yang disebut orang sebagai gaya hidup. Ketika manusia lenyap, kemana gaya tersebut? Bercerai berai bersama bercerainya jasad?  Lalu apa bedanya antara jiwa manusia dengan jiwa batu? Kenapa batu tidak memiliki jiwa? Atau robot, robot dapat bergerak, apakah robot memiliki jiwa?

Menurut filsuf Daniel Dennet, konsepsi jiwa muncul dari sikap disengaja (intentional stance) yang diterapkan pada aspek pengalaman manusia. Sikap disengaja adalah sebuah strategi perilaku yang meramalkan tindakan orang lain berdasarkan harapan kalau mereka memiliki pikiran seperti kita. Artinya, ia berasal dari asumsi kalau kita berpikir maka orang lain juga berpikir. Benda tak hidup seperti batu, memiliki perilaku yang teramalkan, mahluk hidup tidak. Karenanya, untuk memfasilitasi hal tersebut kita memberikan istilah jiwa sebagai penyebab tak teramalkannya mahluk hidup. Adanya jiwa maka berkaitan dengan kehendak bebas.

Dapatkah Jiwa Dipindahkan?

Jika jiwa dapat dipindahkan, maka ia membutuhkan medium untuk berpindah. Dengan adanya medium ini, berarti jiwa dapat menggunakan partikel yang sama dimiliki manusia dan medium. Padahal jiwa membedakan manusia dengan benda tak hidup, seperti medium. Jika demikian, manusia tidak unik dalam kepemilikan jiwa. Sains dapat mendeteksi hal ini jika memang deteksi jiwa di dalam tubuh tidak dapat dilakukan. Sejauh ini tidak ada bukti adanya sesuatu yang keluar dari jasad. Pernah ada eksperimen yang dilakukan oleh Duncan McDougall tahun 1907 yang mendaku kalau jasad orang mati sedikit lebih ringan daripada jasad orang hidup. Selisih massa ini disebutnya sebagai massa jiwa. Jika memiliki massa, maka jiwa bukan gaya tetapi materi. Jika jiwa adalah materi, maka ia dapat diamati. Sejauh ini tidak ada pengamatan mengenai keberadaan jiwa.

Peradaban kuno dan bahkan anak-anak, memandang benda tak hidup memiliki jiwa. Setidaknya sejak zaman batu, konsepsi mengenai jiwa telah ada. Arkeolog di Turki selatan pada tahun 2008 menemukan artefak batu dari abad ke-8 sebelum masehi yang menjadi bukti tertulis kalau orang percaya jiwa terpisah dari tubuh (http://www.sciencedaily.com/releases/2008/11/081118071136.htm). Jika setiap benda tak hidup, seperti yang diyakini animisme dan anak-anak, memiliki jiwa, maka jiwa dapat bermakna energi. Energi adalah ekuivalen dari massa, jadi jiwa juga berarti materi.

Dapatkah jiwa menghasilkan energi?

Energi adalah kemampuan menggerakkan melawan gaya sepanjang jarak tertentu (http://en.wikipedia.org/wiki/Energy). Jika jiwa menghasilkan energi, maka ia seharusnya dapat diidentifikasi. Manusia memukul pintu, tidak diartikan sebagai jiwa menghasilkan energi pukulan, tetapi sistem biologis manusia yang menghasilkannya lewat berbagai interaksi biokimia. Jika manusia mati, interaksi biokimia ini lenyap karena ditenagai oleh pernapasan dan nutrisi. Kembali jika jiwa ada, maka ia telah diuraikan sedemikian rupa oleh sains menjadi reaksi-reaksi biokimia yang terpisah-pisah. Kesatuan didalamnya muncul di otak manusia, namun otak manusia sendiri merupakan reaksi-reaksi biokimia pula. Akibatnya, jiwa merupakan suatu jaringan. Apakah reaksi biokimia tertentu yang terbuang dari tubuh, dapat dipandang sebagai bagian atau potongan jiwa yang lepas dari tubuh?

Kesimpulan

Singkatnya sains mengatakan jiwa sebagai zat non materi tidak ada. Sebagai zat materi apa lagi. Bagi sains, konsep jiwa yang dipandang oleh manusia pada umumnya hanyalah suatu proses interaksi biokimia di dalam otak yang memunculkan kesadaran. Kesadaran sendiri adalah interaksi antara otak, syaraf, indera, dan lingkungan. Tanpa otak, tidak ada kesadaran. Tanpa syaraf, tidak ada kesadaran. Tanpa indera, tidak ada kesadaran, dan tanpa lingkungan juga tidak ada kesadaran.  Usaha manusia untuk mereplikasi jiwa diwujudkan dalam pengembangan di bidang robotika dimana para ilmuan berusaha menciptakan mesin, molekul, atau program yang dapat bertindak sendiri.

Dapatkah ketiadaan jiwa berimplikasi pada cara pandang kita terhadap kehidupan? Tergantung pada manusianya.  Menurut saya, alam semesta ini deterministic (walaupun ada sedikit racikan keacakan dari mekanika kuantum dan teori chaos). Saya merasa nyaman dengan mengatakan saya tidak punya jiwa (jika anda membayangkan jiwa sebagai sesuatu yang dapat lepas dari diri manusia, bersifat nonmateri dan nongaya). Dan saya juga merasa nyaman jika dikatakan saya punya jiwa (jika anda memandang jiwa sebagai interaksi biokimiawi otak manusia yang terejawantah sebagai kepribadian akibat interaksinya dengan lingkungan lewat perangkat indera dan syaraf).

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.