Diposting Senin, 28 November 2011 jam 9:29 am oleh Evy Siscawati

Bentuk dan Fungsi: Teknik MRI Baru untuk Mendiagnosis Penyakit Alzheimer

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Senin, 28 November 2011 -


 Tim ini menemukan kalau uji ASL-MRI adalah alternative pada standar saat ini, pemindaian PET spesifik yang membutuhkan paparan pada sejumlah kecil analog glukosa radioaktif dan biayanya empat kali lebih mahal dari   ASL-MRI. Dua studi sekarang hadir dalam  Alzheimer’s and Dementia: The Journal of the Alzheimer’s Association dan Neurology.

ASL-MRI dapat digunakan untuk mengukur perubahan neurodegeneratif dengan cara yang sama dengan pemindaian tomografi emisi positron fluorodeoksiglukosa (FDG-PET) yang saat ini digunakan untuk mengukur metabolisme glukosa di otak. Kedua uji berkorelasi dengan penurunan kognitif pada pasien penderita penyakit Alzheimer.

 “Dalam jaringan otak, aliran darah regional terkopel erat dengan konsumsi glukosa regional, yang mentenagai otak untuk berfungsi. Peningkatan atau penurunan fungsi otak disertai dengan perubahan aliran darah maupun metabolisme glukosa,” jelas   John A. Detre, MD, profesor neurologi dan radiologi di Penn, penulis senior dalam makalah tersebut, yang bekerja pada   ASL-MRI selama 20 tahun terakhir. “Kami merancang ASL-MRI untuk memungkinkan aliran darah otak dicitrakan secara non invasif dan kuantitatif menggunakan sebuah rutin pemindai MRI.”

Ketika penyakit Alzheimer diduga ada, pasien biasanya menerima MRI untuk melihat perubahan struktur yang dapat mengindikasikan penyebab medis lain, seperti stroke atau tumor otak. Menambahkan waktu 10-20 menit waktu uji, ASL dapat disertakan dalam rutin MRI dan menangkap ukuran fungsional untuk mendeteksi penyakit Alzheimer, mengunah uji klinis rutin (MRI struktural) menjadi uji struktur maupun fungsional.

 “Bila ASL-MRI disertakan dalam rutin kerja diagnostik awal, itu akan menyingkat waktu untuk mendapatkan pemindaian PET tambahan, yang kita sering pesan ketika ada ketidakpastian diagnostik dan akan mempercepat diagnosis,” kata   David Wolk, MD, asisten profesor neurologi dan asisten direktur Pusat Ingatan Penn, dan juga kolaborator dalam penelitian ini.

 Studi yang dilaporkan minggu ini menunjukkan perbandingan ASL-MRI dan FDG-PET dalam sekelompok pasien Alzheimer dan kontrol yang sama usianya. Aliran darah otak dan metabolisme glukosa diukur serentak dengan menyuntikkan pelacak PET saat studi MRI. Data kemudian dianalisis dengan dua cara berbeda.

 Dalam studi pertama, sekarang online dalam  Alzheimer’s and Dementia, citra ASL-MRI dan FDG-PET dari 13 pasien terdiagnosa Alzheimer dan 18 kontrol setara umur dianalisis lewat pemeriksaan visual. Tinjauan independen yang buta dari kedua uji oleh dua dokter khusus kedokteran nuklir menunjukkan kemampuan yang sama untuk menolak (sensitivitas) dan mendiagnosis (spesifisitas) Alzheimer. Baik ASL-MRI maupun FDG-PET tidak menunjukkan keuntungan jelas dalam pengujian kuantitatif.

 Dalam studi kedua, yang diterbitkan dalam  Neurology, citra ASL-MRI dan FDG-PET dibandingkan secara statistik pada tiap lokasi di otak dengan analisis komputer. Data dari 15 pasien AD (Penyakit Alzheimer) dibandingkan dengan 19 orang dewasa sehat setara umum. Pola reduksi dalam aliran darah otak hampir identik dengan pola metabolisme glukosa tereduksi oleh FDG-PET, keduanya berbeda dari pola reduksi pada materi abu-abu yang terlihat pada AD.

“Dengan ASL-MRI yang seluruhnya non invasif, tidak ada paparan radiasi, tersedia luas dan mudah disertakan dalam rutin MRI standar, secara potensial lebih mudah untuk memindai dan melacak penyakit longitudinal ketimbang FDG-PET,” kata para penulis di  Neurology.

Studi lanjutan akan berfokus pada ukuran sampel yang lebih besar termasuk pasien dengan gangguan kognitif sedang dan jenis kondisi neurodegeneratif lainnya.

Kolaborator studi dari Penn mencakup  Erik S. Musiek, MD, PhD; Marc Korczykowski, Babak Saboury, Patricia M. Martinez; Janet S. Reddin, PhD; Abass Alavi, MD; Daniel Y. Kimberg; Joel Greenberg, PhD; dan Steven E. Arnold, MD. Peneliti tambahan dari Astra-Zeneca juga berkontribusi dalam penelitian ini.

 Studi ini didanai oleh beasiswa dari Institut Gangguan Syaraf dan Stroke Lembaga Kesehatan Nasional AS, Lembaga Nasional Kesehatan Mental AS, dan Pusat Nasional Sumberdaya Penelitian AS, serta dana dari Aliansi    Penn-AstraZeneca. Dr. Detre adalah inventor ASL-MRI dengan paten Universitas Pennsylvania.

Sumber berita:

 University of Pennsylvania School of Medicine.

Referensi jurnal:

1.      Erik S. Musiek, Yufen Chen, Marc Korczykowski, Babak Saboury, Patricia M. Martinez, Janet S. Reddin, Abass Alavi, Daniel Y. Kimberg, David A. Wolk, Per Julin, Andrew B. Newberg, Steven E. Arnold, John A. Detre. Direct comparison of fluorodeoxyglucose positron emission tomography and arterial spin labeling magnetic resonance imaging in Alzheimer’s disease. Alzheimer’s and Dementia, 2011; DOI: 10.1016/j.jalz.2011.06.003

2.      Y. Chen, D. A. Wolk, J. S. Reddin, M. Korczykowski, P. M. Martinez, E. S. Musiek, A. B. Newberg, P. Julin, S. E. Arnold, J. H. Greenberg, J. A. Detre. Voxel-level comparison of arterial spin-labeled perfusion MRI and FDG-PET in Alzheimer disease. Neurology, 2011; DOI: 10.1212/WNL.0b013e31823a0ef7

Evy Siscawati
Facts are the air of scientists. Without them you can never fly (Linus Pauling). Berjalan di pantai, dud dud, berjalan di pantai, dud dud (ESW).
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.