Diposting Jumat, 25 November 2011 jam 1:20 am oleh Gun HS

Mimpi Memulihkan Memori yang Menyakitkan

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Jumat, 25 November 2011 - Hasil studi ini menawarkan beberapa wawasan pertama terhadap fungsi emosional tidur Rapid Eye Movement (REM), yang biasanya mengambil 20 persen dari jam tidur manusia sehat.


Mereka bilang hanya waktu yang bisa menyembuhkan duka, dan penelitian terbaru dari University of California, Berkeley, menunjukkan bahwa waktu yang dihabiskan dalam tidur mimpi dapat membantu kita mengatasi penderitaan yang menyakitkan.

Para peneliti UC Berkeley telah menemukan bahwa selama fase mimpi pada tidur, yang juga dikenal sebagai tidur REM, kimiawi stres kita dimatikan dan otak memproses pengalaman emosional dan menumpulkan memori yang menyakitkan.

Temuan ini menawarkan penjelasan menarik tentang mengapa orang-orang yang menderita gangguan stress pasca-traumatik (PTSD), seperti para veteran perang, memiliki masa-masa yang sulit untuk pulih dari pengalaman menyedihkan dan menderita mimpi buruk yang berulang-ulang. Temuan ini juga menawarkan petunjuk mengenai mengapa kita bermimpi.

“Tahap mimpi pada tidur, berdasarkan komposisi neurokimia yang unik, memberikan kita suatu bentuk terapi semalam, balsem menenangkan yang menghilangkan tepian tajam dari pengalaman emosional masa sebelumnya,” kata Matthew Walker, profesor psikologi dan ilmu saraf di UC Berkeley dan penulis senior studi yang akan dipublikasikan pada 23 November, dalam jurnal Current Biology ini.

Bagi penderita PTSD, terapi semalam ini mungkin tidak bekerja secara efektif, sehingga ketika suatu “kilas balik dipicu oleh, katakanlah, knalpot mobil, hal ini menghidupkan sekali lagi seluruh pengalaman mendalam karena emosi yang belum dilucuti dari memori saat tidur. “

Hasil studi ini menawarkan beberapa wawasan pertama terhadap fungsi emosional tidur Rapid Eye Movement (REM), yang biasanya mengambil 20 persen dari jam tidur manusia sehat. Studi otak sebelumnya menunjukkan bahwa pola tidur menjadi terganggu pada orang yang menderita gangguan mood seperti PTSD dan depresi.

Sementara manusia menghabiskan satu-sepertiga kehidupan mereka untuk tidur, tidak ada konsensus ilmiah tentang fungsi tidur. Namun, Walker bersama tim risetnya telah membuka banyak misteri yang mengkaitkan tidur dengan pembelajaran, memori dan peraturan mood. Penelitian terbaru ini menunjukkan pentingnya keadaan mimpi REM.

“Selama tidur REM, kenangan diaktifkan kembali, dimasukkan ke dalam perspektif serta terkoneksi dan terintegrasi, namun dalam keadaan di mana zat neuro-kimia stres secara menguntungkan ditekan,” kata Els van der Helm, seorang mahasiswa doktor di bidang psikologi di UC Berkeley dan penulis utama studi tersebut.

Tiga puluh lima orang dewasa muda yang sehat berpartisipasi dalam studi ini. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, masing-masing anggotanya diperlihatkan 150 gambar emosional, sebanyak dua kali dan terpisah selama 12 jam, selagi pemindai MRI mengukur aktivitas otak mereka.

Setengah dari partisipan diperlihatkan gambar pada pagi hari dan kembali diperlihatkan pada malam hari, mereka tidak tidur selama rentang waktu di antara dua tampilan tersebut. Setengah lainnya diperlihatkan gambar pada malam hari dan kembali diperlihatkan keesokan harinya setelah tidur semalam penuh.

Mereka yang tidur di antara kedua tampilan gambar melaporkan penurunan reaksi emosional yang signifikan terhadap gambar. Selain itu, pindaian MRI menunjukkan penurunan reaktivitas yang dramatis pada amigdala, bagian otak yang memproses emosi, memungkinkan korteks prefrontal “rasional” otak memperoleh kembali kontrol reaksi emosional para partisipan.

Selain itu, para peneliti mencatat aktivitas listrik otak para peserta selagi mereka tidur, dengan menggunakan electroencephalograms. Mereka menemukan bahwa, selama tidur mimpi REM, pola-pola aktivitas listrik tertentu mengalami penurunan, menunjukkan bahwa penurunan kadar zat neuro-kimia stres di otak menenangkan reaksi emosional pada pengalaman hari sebelumnya.

“Kami tahu bahwa selama tidur REM terjadi penurunan tajam dalam tingkat norepinefrin, suatu bahan kimia otak yang berhubungan dengan stres,” kata Walker. “Dengan pengolahan ulang pengalaman emosional sebelumnya dalam lingkungan neuro-kimia aman rendah norepinefrin ini selama tidur REM, kita bangun keesokan harinya, dan pengalaman-pengalaman itu telah melunak dalam kekuatan emosional mereka. Kita merasa lebih baik tentang mereka, kita merasa kita mampu mengatasi.”

Walker mengatakan ia menginformasikan efek menguntungkan dari tidur REM pada pasien PTSD ketika seorang dokter di rumah sakit Department Urusan Veteran AS di wilayah Seattle mengatakan kepadanya tentang obat tekanan darah yang sengaja mencegah mimpi buruk berulang-ulang pada pasien PTSD.

Ternyata obat generik tekanan darah memiliki efek samping yang menekan norepinefrin di otak, sehingga menciptakan otak menjadi lebih bebas stres selama REM, mengurangi mimpi buruk dan mempromosikan kualitas tidur yang lebih baik. Hal ini menyatakan adanya hubungan antara PTSD dan tidur REM, kata Walker.

“Studi ini dapat membantu menjelaskan misteri mengapa obat-obat ini membantu beberapa pasien PTSD dan gejalanya selama tidur mereka,” kata Walker. “Hal ini juga dapat membuka jalan pengobatan baru mengenai tidur dan penyakit mental.”

Kredit: University of California – Berkeley
Jurnal: Els van der Helm, Justin Yao, Shubir Dutt, Vikram Rao, Jared M. Saletin, Matthew P. Walker. REM Sleep Depotentiates Amygdala Activity to Previous Emotional Experiences. Current Biology, 23 November 2011 DOI: 10.1016/j.cub.2011.10.052

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Fans Facebook

Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.