Diposting Kamis, 24 November 2011 jam 2:25 am oleh Gun HS

Mempelajari Tengkorak Kelelawar, Ilmuwan Menemukan Bagaimana Spesies Berevolusi

Suka dengan artikel ini?

Jelajahi artikel-artikel FaktaIlmiah yang berdasarkan apa yang dibaca dan ditonton teman-teman.
Terbitkan aktivitas Anda sendiri dan dapatkan kendali penuh.
Login

Kamis, 24 November 2011 -


Sebuah studi baru, yang melibatkan tengkorak kelelawar, pengukuran kekuatan gigitan dan sampel kotoran, dikumpulkan oleh tim ahli biologi evolusi internasional, membantu dalam memecahkan pertanyaan yang mengganggu evolusi: Mengapa beberapa kelompok hewan mengembangkan sejumlah spesies yang berbeda dari waktu ke waktu sementara yang lain hanya sedikit berevolusi. Temuan mereka muncul dalam edisi terbaru Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences.

Untuk menjawab pertanyaan ini, Elizabeth Dumont dari University of Massachusetts Amherst serta Liliana Davalos dari Stony Brook University bersama rekan-rekan dari UCLA dan Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Berlin, menyusun sejumlah besar data pada pola makan, kekuatan gigitan dan bentuk tengkorak dalam keluarga kelelawar Dunia Baru, dan memanfaatkan teknik statistik baru untuk melakukan penanggalan dan pendokumetasian perubahan-perubahan dalam tingkat evolusi pada sifat-sifat ini serta jumlah spesies dari waktu ke waktu.

Mereka menyelidiki mengapa ada lebih banyak spesies dari kelelawar Berhidung-Daun Dunia Baru, hampir 200 spesies, sedangkan kerabat terdekat mereka hanya menghasilkan 10 spesies selama periode waktu yang sama. Kebanyakan kelelawar adalah pemakan serangga, sedangkan kelelawar Berhidung-Daun Dunia Baru adalah pemakan nektar, buah, katak, kadal dan bahkan darah.

Tengkorak dan wajah kelelawar pemakan nektar (kiri) kelelawar pemakan serangga (tengah) dan kelelawar pemakan buah (kanan). Tengkorak pendek kelelawar buah memungkinkan mereka menggigit dengan lebih keras dibandingkan kelelawar pemakan nektar atau serangga. (Kredit: Elizabeth Dumont, UMass Amherst)

“Jika ketersediaan buah memberikan kesempatan ekologis yang menyebabkan peningkatan signifikan dalam kelahiran spesies baru, maka morfologi tengkorak seharusnya memprediksi pola makan maupun kekuatan gigitan,” kata para peneliti. Mereka menemukan dukungan untuk prediksi ini dengan menganalisis ribuan pohon evolusi lebih dari 150 spesies, mengukur lebih dari 600 tengkorak 85 spesies individu kelelawar, menguji kekuatan gigitan pada lebih dari 500 ekor kelelawar dari 39 spesies di lapangan serta memeriksa ribuan sampel kotoran untuk mengidentifikasi pola makan kelelawar.

Mereka menemukan bahwa munculnya bentuk tengkorak yang baru pada kelelawar Berhidung-Daun Dunia Baru sekitar 15 juta tahun lalu menyebabkan ledakan banyak spesies kelelawar baru. Bentuk baru pada masa itu berupa tengkorak rendah dan lebar yang memungkinkan kelelawar kecil menghasilkan gigitan kuat yang diperlukan untuk memakan buah yang keras. Tingkat kelahiran spesies baru melompat sebagaimana bentuk baru ini berevolusi, dan kelompok kelelawar ini dengan cepat meningkatkan proporsi buah dalam pola makan mereka. Perubahan bentuk melambat saat tengkorak baru ini berevolusi.

Bisa menjadi sulit bagi para ahli biologi evolusi untuk menunjukkan bahwa sifat-sifat yang terkait dengan perubahan anatomi, juga disebut “inovasi morfologi” seperti bentuk tengkorak yang baru, memberikan keuntungan bertahan hidup bagi kelompok-kelompok tertentu ketika sumber makanan baru, seperti buah keras, menjadi tersedia.

“Studi ini dilakukan selama Tahun Kelelawar Internasional (International Year of the Bat) menawarkan contoh yang jelas tentang bagaimana evolusi sifat baru, dalam hal ini sebuah tengkorak dengan bentuk yang baru, memungkinkan hewan-hewan untuk menggunakan sumber daya baru dan pada akhirnya, dengan cepat berevolusi menjadi spesies baru,” kata Dumont. “Kami menemukan bahwa ketika ceruk ekologi baru terbuka dengan sebuah peluang bagi kelelawar yang bisa memakan buah keras, mereka menggeser pola makan mereka secara signifikan, yang pada gilirannya menyebabkan evolusi spesies baru.”

Kredit: University of Massachusetts at Amherst
Jurnal: Elizabeth R. Dumont, Liliana M. Dávalos, Aaron Goldberg, Sharlene E. Santana, Katja Rex, Christian C. Voigt. Morphological innovation, diversification and invasion of a new adaptive zone. Proceedings of the Royal Society B: Biological Sciences, 23 November 2011. DOI: 10.1098/rspb.2011.2005

Gun HS
There's only one thing I figured about myself: Complex
Bergabung dengan 1000 orang lebih dengan kami melalui sosial media

Berlangganan artikel dan berita terbaru dari kami via email


Aktifitas

© 2010 FaktaIlmiah.com. Hak cipta asli oleh faktailmiah
Anda boleh mendistribusikannya dengan mencantumkan referensi dari situs kami.